Selasa, 05 Mei 2009

Suhadi, dkk.
TEKNIK
DISTRIBUSI
TENAGA LISTRIK
JILID 3
SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
TEKNIK
DISTRIBUSI
TENAGA LISTRIK
JILID 3
Untuk SMK
Penulis Utama : Suhadi
Tri Wrahatnolo
Perancang Kulit : Tim
Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm
Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
HAR SUHARDI, Bambang
t Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 3 untuk SMK/oleh
Suhadi, Tri Wrahatnolo ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
xii. 84 hlm
Daftar Pustaka : A1-A2
Glosarium : B1-B5
ISBN : 978-979-060-059-1
978-979-060-062-1
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan
kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan
pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK.
Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah
dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses
pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45
Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas
oleh para pendidik dan peserta didik SMK.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya
harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan
ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi
masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk
mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada
para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik
sangat kami harapkan.
Jakarta, 17 Agustus 2008
Direktur Pembinaan SMK

ii
KATA PENGANTAR
Sebagai buku pegangan, presentasi dalam buku ini ditekankan pada
pokok-pokok yang diperlukan dalam praktek distribusi tenaga listrik seharihari.
Oleh sebab itu disini akan lebih banyak terlibat gambar-gambar dan
tabel-tabel dari pada rumus-rumus yang rumit. Rumus-rumus yang disajikan
hanya bersifat praktis dan sederhana.
Buku ini disusun berdasar Kurikulum SMK Edisi tahun 2004, yang
merupakan penyempurnaan dari Kurikulum SMK Edisi tahun 1999 sebagai
bagian dari rencana jangka panjang upaya untuk lebih meningkatkan
kualitas lulusan sekolah menengah kejuruan. Penulis telah berusaha
maksimal untuk memenuhi harapan sesuai dengan tujuan dan misi yang
ada di dalam kurikulum tersebut.
Sebagai buku panduan untuk mencapai standard kompetensi kinerja
secara nasional, sangat di sadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna,
saran dan masukan yang konstruktif dan membangun terhadap buku ini
maupun umpan balik berdasarkan pelaksanaan di lapangan sangat
dinantikan dan terbuka pada semua pihak.
Penulis sangat berterima kasih kepada Sub Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyajikan karya terbaik
berupa penulisan buku, walalupun masih jauh dari sempurna.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada bapak Munadji, BA
direktur CV. Bintang Lima Surabaya, dan bapak Drs. Heru Subagyo selaku
Ketua AKLI Jawa Timur dan rekan-rekan APEI yang telah memberikan
referensi yang sangat bermanfaat dalam penulisan buku ini.
Akhirulkalam, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada isteri dan anak-anaknya yang telah banyak
mengorbankan jam-jam istirahat, hari-hari Minggu dan hari-hari libur untuk
kepentingan penulisan buku ini oleh suami dan ayah mereka.

iii
SINOPSIS
Buku ini menekankan pokok-pokok yang diperlukan dalam praktek
distribusi tenaga listrik sehari-hari. Pengguna buku ini adalah siswa SMK
jurusan teknik distribusi tenaga listrik. Di dalam buku ini banyak disajikan
gambar-gambar yang dapat membantu/mempermudah para siswa agar
mengenal materi yang ada di lapangan/industri.
Materi dalam buku ini sebagian besar diambil dari bahan pelatihan
yang dilakukan oleh para praktisi (kontraktor listrik), tingkat Ahli Madya
(setara D3) dan Ahli Muda (setara SMK), juga materi pelatihan dari diklat
yang sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Penggunaan buku ini
didampingi modul yang disusun sesuai dengan Kurikulum SMK tahun 2004.
Buku ini menyajikan gambar-gambar rakitan (susunan) hasil kerja
yang sudah jadi dan alat-alat kerja yang digunakan. Penulis mengharapkan
para pembimbing praktik (guru) sudah memiliki keterampilan (skill)
memadai sehingga mampu menjelaskan gambar –gambar yang ada.
Materi dalam buku ini merupakan materi terapan yang sangat
menarik untuk di kaji lebih dalam.

iv
DAFTAR ISI
PENGANTAR DIREKTUR PEMBINAAN SMK.....................................
KATA PENGANTAR PENULIS.............................................................
SINOPSIS ............................................................................................
DAFTAR ISI ..........................................................................................
PETA KOMPETENSI ............................................................................
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................
1-1 Pemanfaatan Tenaga Listrik .........................................................
1-2 Kualitas Daya Listrik ....................................................................
1-3 Keselamatan Pemanfaat Tenaga Listrik ......................................
1-4 Sistem Ketenagalistrikan ...............................................................
1-5 Klasifikasi Sistem Tenaga Listrik .................................................
1-6 Regulasi Sektor Ketenagalistrikan ................................................
1-7 Standarisasi dan Sertifikasi ...........................................................
BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK ..............................
2-1 Pengertian dan Fungsi Distribusi Tenaga Listrik .......................
2-2 Klasifikasi Saluran Distribusi Tenaga Listrik ............................
2-3 Tegangan Sistem Distribusi Sekunder .........................................
2-4 Gardu Distribusi .........................................................................
2-5 Trafo Distribuis .............................................................................
2-6 Pelayanan Konsumen ..................................................................
2-7 Dasar-dasar Perencanaan Jaringan Distribusi .........................
BAB III ALAT PEMBATAS DAN PENGUKUR .....................................
3-1 Pembatas .......................................................................................
3-2 Pemasangan, pengoperasian dan pemeliharaan .......................
3-3 Alat Ukur Energi Arus Bolak-balik ..............................................
3-4 Jenis-jenis kWH Meter ..................................................................
3-5 Pemasangan Alat Pembatas dan Pengukur ...............................
BAB IV JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN RENDAH ..................
4-1 Tiang Saluran Tegangan Rendah ...............................................
4-2 Saluran Tegangan Rendah ..........................................................
4-3 Memasang Instalasi Pembumian ...............................................
4-4 Memasang Saluran Kabel Tanah Tegangan Rendah ...................
4-5 Sambungan Pelayanan ...............................................................
4-6 Gangguan pada Saluran Udara Tegangan Rendah ..................
4-7 Mengatasi Gangguan pada Sistem Tenaga Listrik ..................
4-8 Pengaman terhadap Tegangan Sentuh ....................................
BAB V JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH ..............
5-1 Konsep Dasar dan Sistem ............................................................
i
ii
iii
iv
vi
1
1
1
2
3
5
5
7
11
11
14
27
31
42
47
53
63
63
66
66
75
82
95
95
100
130
145
162
181
185
188
205
205
v
5-2 Saluran Kabel Tanah Tegangan Menengah ..............................
5-3 Penyambungan kabel tanah ......................................................
5-4 Saluran Udara Tegangan Menengah .........................................
5-5 Konstruksi Saluran Udara Tegangan Menengah .....................
5-6 Konstruksi Palang Sangga (Cross Arm, Travers) .....................
5-7 Telekomunikasi untuk Industri Tenaga Listrik ...........................
5-8 Baterai dan Pengisinya ................................................................
BAB VI SAKELAR DAN PENGAMAN PADA JARING DISTRIBUSI
6-1 Perlengkapan Penghubung/pemisah ........................................
6-2 Transformator ................................................................................
6-3 Saklar dan Fuse …..………………………………………………...
6-4 Pengaman ....................................................................................
6-5 Jenis Pengaman ............................................................................
6-6 Saklar Seksi Otomatis .................................................................
6-7 Penutup Balik Otomatis (PBO) ...................................................
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................
DAFTAR TABEL ....................................................................................
DAFTAR GAMBAR ................................................................................
DAFTAR ISTILAH ..................................................................................
216
234
237
239
264
275
288
293
293
307
319
339
349
351
355
vi
KODE, JUDUL, KOMPETENSI DAN SUB KOMPETENSI
SESUAI STANDAR KERJA KOMPENTENSI NASIONAL
PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK
KODE
KOMPETENSI
JUDUL
KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
BAB IV APP
DIS.KON.001
(2).A
Memasang APP
Fasa Tunggal
�� Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
APP 1 fasa
�� Memasang APP 1 Fasa
�� Memeriksa hasil pemasangan APP 1 fasa
�� Membuat laporan berita acara pemasangan
DIS.KON.002 (2).A
Memasang APP
Fasa tiga
Pengukuran
Langsung
�� Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
APP 3 fasa
�� Memasang APP 3 fasa
�� Memeriksa hasil pemasangan APP 3 fasa
�� Membuat laporan/berita acara pemasangan
DIS.KON.003
(2).A
Memasang APP
Fasa tiga dengan
transformator arus
(TA) tegangan
rendah (TR)
�� Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
APP 3 fasa dengan CT-TR
�� Memasang APP 3 fasa dengan CT – TR
�� Memeriksa hasil pemasangan APP 3 fasa
dengan CT-TR
�� Membuat laporan/berita acara pemasangan
DIS.KON.004 (2).A
Memasang Alat
Pengukur Fasa
Tiga Tegangan
Menengah
�� Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
APP 3 fasa TM
�� Memasang APP 3 fasa TM
�� Memeriksa hasil pemasangan APP 3 fasa TM
�� Membuat laporan/berita acara pemasangan
DIS.KON.005 (2).A
Memasang rele
arus lebih untuk
pembatas daya
�� Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
rele pembatas
�� Memasang Rele pembatas
�� Memeriksa hasil pemasangan rele pembatas
�� Membuat laporan/berita acara pemasangan
DIS.KON.006 (2).A Memasang alat
bantu pengukuran
�� Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
alat bantu pengukuran
�� Memasang alat bantu pengukuran
Memeriksa hasil pemasangan rele pembatas
�� Membuat laporan/berita acara pemasangan
DIS.HAR.001(2).A
Memelihara
instalasi APP
pengukuran
langsung
�� Menerapkan prosedur pemeliharaan
�� Menyiapkan pemeliharaan
�� Memelihara instalasi APP
�� Memeriksa instalasi APP
�� Membuat laporan
DIS.HAR.002(2).A Memelihara �� Menerapkan prosedur pemeliharaan
vii
KODE
KOMPETENSI
JUDUL
KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
instalasi APP
pengukuran tidak
langsung
�� Menyiapkan pemeliharaan
�� Memelihara instalasi APP
�� Memeriksa instalasi APP
�� Membuat laporan
DIS.HAR.003(2).A
Mengganti
Instalasi APP
Pengukuran
Langsung
�� Menerapkan prosedur pemeliharaan
�� Menyiapkan penggantian
�� Mengganti instalasi APP
�� Memeriksa instalasi APP
�� Membuat laporan
DIS.HAR.004(2).A
Mengganti
Instalasi APP
pengukuran tidak
langsung
�� Menerapkan prosedur pemeliharaan
�� Menyiapkan penggantian
�� Mengganti instalasi APP
�� Memeriksa instalasi APP
�� Membuat laporan
BAB V TR
DIS.KON.008
(2).A
Mendirikan/menan
am tiang
�� Merencanakan dan mempersiapkan pendirian
tiang dengan/tanpa penopangnya
�� Mendirikan tiang
�� Memasang tiang penopang
�� Mengindetifikasi masalah penanaman tiang
�� Membuat laporan penanaman tiang
DIS.KON.009 (2) A
Memasang saluran
kabel udara
tegangan rendah
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan SKUTR
�� Memasang perlengkapan pelengkap
�� Memasang kawat tambat
�� Menarik SKUTR
�� Mengindetifikasi masalah pemasangan SKUTR
�� Membuat laporan pemasangan SKUTR
DIS.KON.010 (2).A
Memasang
instalasi
pembumian
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan instalasi pembumian
�� Memasang instalasi pembumian
�� Mengukur tahanan elektroda
�� Mengidentifikasi masalah pemasangan instalasi
pembumian
�� Membuat laporan pemasangan instalasi
pembumian
DIS.KON.011 (1).A
Memasang
konektor Saluran
Kabel Udara
Tegangan Rendah
(SKUTR)
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan konektor
�� Memasang konektor sadapan SKUTR
�� Memasangk konektor lurus
viii
KODE
KOMPETENSI
JUDUL
KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
�� Memasang sambungan SKUTR dengan SKTR
�� Mengidentifikasi masalah masalah pemasangan
konektor
�� Membuat laporan pemasangan konektor
DIS.KON.012 (2).A
Menggelar saluran
Kabel Tegangan
Rendah (SKTR)
�� Merencanakan dan mempersiapkan penggelaran
SKTR
�� Menggelar SKTR
�� Menyambung SKTR
�� Mengidentifikasi masalah penggelaran SKTR
�� Membuat laporan
DIS.KON.013 (1).A
Memasang
Peralatan Hubung
Bagi Tegangan
Rendah ( PHBTR)
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan PHB-TR
�� Memasang PHB-TR
�� Mengidentifikasi masalah pemasangan PHBTR
�� Membuat Laporan
DIS.KON.014 (2).A
Memasang Saluran
Udara Tegangan
Rendah (SUTR)
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan SUTR
�� Memasang Perlengkapan pelengkap dan
isolator
�� Memasang kawat tambat
�� Menarik SUTR
�� Mengidentifikasi masalah pemasangan SUTR
�� Membuat laporan pemasangan SUTR
DIS.OPS.001(2).A
Mengoperasikan
sambungan
pelanggan
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Menyiapkan dokumen pengoperasian
�� Mengoperasikan sambungan pelanggan
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Memeriksa dan membuat laporan
Menerapkan prosedur pengoperasian
DIS.OPS.002(2).A
Mengoperasikan
Saluran Kabel
Tegangan rendah
(SKTR) atau
opstyg tegangan
rendah baru
�� Menyiapkan pengoperasian.
�� Menyiapkan dokumen pengoperasian
�� Mengoperasikan SKTR dan kabel opstyg baru
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Memeriksa dan membuat laporan
ix
KODE
KOMPETENSI
JUDUL
KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
DIS.OPS.003(2).A
Mengoperasikan
peralatan hubung
bagi tegangan
rendah (PHB-TR)
baru
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Menyiapkan dokumen pengoperasian
�� Mengoperasikan PHB-TR
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Memeriksa dan membuat laporan
��
DIS.OPS.004(2).A
Mengoperasikan
Semi Automatic
Change Over
(SACO) pada
jaringan tegangan
rendah
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Mengoperasikan SACO
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Memeriksa dan membuat laporan
DIS.OPS.005(2).A
Mengganti fuse
pada Peralatan
Hubung Bagi
Tegangan Rendah
(PHB TR)
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Mengganti Fuse PHB-TR
�� Memeriksa dan membuat laporan
DIS.OPS.006(2).A
Mengoperasikan
saluran udara
tegangan rendah
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian.
�� Menyiapkan dokumen pengoperasian
�� Mengoperasikan SUTR baru
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Memeriksa dan membuat laporan
DIS.OPS.007(1).A
Mencari gangguan
pada saluran udara
tegangan rendah
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan sarana pekerjaan
�� Mencari gangguan pada SUTR
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Memeriksa dan membuat laporan
DIS.OPS.008(2).A
Mengidentifikasi
gangguan pada
sistem Alat
Pembatas dan
Pengukur (APP)
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pelaksanaan
�� Menyiapkan dokumen pengoperasian
�� Melaksanakan identifikasi sistem APP
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Memeriksa dan membuat laporan
BAB VI TM
DIS.KON.015
(2).A
Menggelar Saluran
Kabel Tegangan
Menengah (SKTM )
�� Merencanakan dan mempersiapkan
penggelaran SKTM
�� Menggelar SKTM
x
KODE
KOMPETENSI
JUDUL
KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
�� Mengidentifikasi masalah penggelaran SKTM
�� Membuat laporan
DIS.KON.016 (2).A
Memasang kotak
sambung dan kotak
ujung Saluran
Kabel Tegangan
Menengah
(SKTM)
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan kotak sambung dan kotak ujung
SKTM
�� Memasang kotak sambung
�� Melakukan berbagai macam pembubutan
�� Memasang kotak ujung
�� Memasang arester dan instalasi pembumian
�� Mengidentifikasi masalah pemasangan kotak
sambung dan kotak ujung
�� Membuat laporan
DIS.KON.017 (2).A
Memasang Saluran
Udara Tegangan
Menengah
(SUTM )
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan SUTM
�� Memasang perlengkapan pelengkap dan isolator
�� Memasang kawat tambat
�� Menarik SUTM
�� Mengidentifikasi masalah pemasangan SUTM
�� Membuat laporan pemasangan SUTM
DIS.KON.018 (2).A
Memasang
peralatan
penghubung/pemis
ah
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan SUTM
�� Memasang peralatan penghubung/pemisah
�� Mengidentifikasi masalah pemasangan
peralatan penghubung/pemisah
�� Membuat laporan
DIS.KON.019 (2).A
Memasang Saluran
Kabel Udara
Tegangan
Menengah
(SKUTM )
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan SKUTM
�� Memasang perlengkapan pelengkap
�� Memasang kawat tambat
�� Menarik SKUTM
�� Mengidentifikasi masalah pemasangan SKUTM
�� Membuat laporan
DIS.KON.020(2).A
Memasang kotak
ujung dan kotak
sambung Saluran
Kabel Udara
Tegangan
Menengah
(SKUTM)
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan kotak ujung dan kotak sambung
SKUTM
�� Memasang Kotak sambung
�� Memasang kotak ujung
�� Membuat laporan
DIS.OPS.009(2).A
Mengoperasikan
Saluran Kabel
Tegangan
�� Menerapkan prosedur pengoperasian.
�� Menyiapkan pengoperasian
xi
KODE
KOMPETENSI
JUDUL
KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
Menengah
(SKTM) Baru
�� Menyiapkan dokumen pengoperasian
�� Mengoperasikan jaringan SKTM
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Memeriksa dan membuat laporan
DIS.OPS.010(2).A
Melokalisir
gangguan pada
SKTM
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Menyiapkan dokumen pengoperasian
�� Mengoperasikan jariangan SUTM
�� Menganggulangi masalah operasi
�� Memeriksa dan membuat laporan
DIS.OPS.011(2).A
Mengoperasikan
Saluran Udara
Tegangan
Menengah
(SUTM ) Baru
Mengoperasikan Saluran Udara Tegangan Menengah
(SUTM ) Baru
DIS.OPS.013(2).A Mengganti fuse cut
out pada SUTM
�� Menerapkan prosedur pengoperasian.
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Melaksanakan penggantian Fuse Link
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Membuat laporan penggantian Fuse
DIS.HAR.037(1).A
Memelihara
instalasi Ground
Fault Detector
(GFD)
�� Menerapkan prosedur pemeliharaan
�� Menyiapkan pemeliharaan GFD
�� Memelihara GFD
�� Memeriksa dan membuat laporan pemeliharaan
DIS.KON.025(1).A
Memasang
Indikator
Gangguan Tanah
(IGT)
�� Merencanakan dan mempersiapkan
pemasangan IGT
�� Memasang IGT
�� Mengidentifikasi masalah pemasangan
peralatan penghubung/pemisah
�� Membuat laporan pemasangan IGT
DIS.HAR. 035(2).A Memelihara sistem
komunikasi suara
�� Menerapkan prosedur pemeliharaan
�� Menyiapkan pemeliharaan
�� Memelihara instalasi sistem komunikasi suara
�� Membuat laporan pemeliharaan
DIS.HAR.039(2).A
Memelihara sistem
Baterai dan
rectifier inverter
�� Menerapkan prosedur pemeliharaan
�� Menyiapkan pemeliharaan UPS dan rectifier
catu daya
�� Memelihara sistem UPS dan rectifier catu daya
�� Menanggulangi masalah operasi
xii
KODE
KOMPETENSI
JUDUL
KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
�� Membuat laporan pemeliharaan
BAB VII
SAKLAR DAN
PENGAMAN
DIS.OPS.014(2)
A
Mengoperasikan
Pole Top Switch
(PTS)/Load Break
Switch (LBS)
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Menyiapkan dokumen pengoperasian
�� Mengoperasikan PTS dan Poletop LBS
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Membuat laporan pengoperasian
DIS.OPS.015(2)A
Mengoperasikan
Penutup Balik
Automatic (PBO)/
Saklar Semi
Automatic
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Menyiapkan dokumen pengoperasian
�� Pengoperasian PBO dan SSO
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Membuat Laporan Pengoperasian
DIS.OPS.016(2).A
Mengoperasikan
Automatic Voltage
Regulator (AVR)
dan Cavasitor
Voltage (CVR)
�� Menerapkan prosedur pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Menyiapkan pengoperasian
�� Mengoperasikan AVR dan CVR
�� Menanggulangi masalah operasi
�� Membuat laporan pengoperasian

Saklar dan Pengaman
293
BAB VI
SAKELAR DAN PENGAMAN
PADA JARING DISTRIBUSI
6-1 Perlengkapan Penghubung dan Pemisah
Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) dan Kendali ialah suatu
perlengkapan atau peralatan listrik yang berfungsi sebagai pengendali,
pengubung dan pelindung serta membagi tenaga listrik dari sumber tenaga
listrik seperti; pembangkit, gardu induk, gardu distribusi dan transformator ke
saluran pelayanan atau ke pelanggan. Jika komponen-komponen dari PHB
terlihat dari luar tanpa perlindungan selungkup tertutup maka PHB itu dari
jenis terbuka. Pembuatan lain adalah PHB tertutup. Menurut ukuran dan
bentuknya PHB disebut elmari, kotak atau meja hubung bagi.
Ciri-ciri lemari hubung bagi antara lain:
�� Selungkup dan kerangka pada umumnya terbuat dari besi
�� Dapat bediri sendiri pada lantai, pada dinding atau dipasang dalam
dinding
�� Di bagian papan terdapat panel atau konstruksi panel-panel logam
sebagai penutup dan perlindungan dari komponen-komponen yang
terdapat di dalamnya dan panel itu ditempatkan alat pelayanan atau
alat ukur.
Fungsi PHB untuk :
o Mengendalikan sirkuit dilakukan oleh saklar utama
o Melindungi sirkuit dilakukan oleh fase/pelebur
o Membagi sirkuit dilakuan oleh pembagian jurusan/kelompok
Syarat-syarat umum :
Secara umum sebuah PHB harus disusun dan dipasang sedemikian
rupa sehingga terlihat rapi dan teratur, selain itu keberadaan PHB juga
menentukan bahwa pemeliharaan, pemeriksaan dan pelayanan harus dapat
dilaksanakan dengan mudah dan aman. Selanjutnya sesuai dengan syarat
pengoperasian kemudahan pengamatan pengukuran, penekanan tombol,
pemutaran atau pelayanan saklar, maka perkerjaan-pekerjaan ini harus
dapat dilakukan dari bagian depan, tanpa alat bantuan, seperti tangga atau
alat-alat lainnya.
Sehubungan dengan itu syarat PHB juga menentukan bahwa di
bagian depan, lorong dan sisi kiri kanan PHB harus terdapat ruang bebas
selebar sekurang-kurangnya 0,75 meter untuk tegangan rendah atau
1 meter pada tegangan menengah dan tinggi PHB sekurang-kurangnya
294
2 meter. Lorong yang di sisi kanan kirinya terdapat instalasi listrik tanpa
dinsing pengaman, lebarnya harus sekurang-kurangnya 1,5 meter.
Di sekitar PHB tidak boleh diletakkan barang yang mengganggu
kebebasan bergerak. Untuk pemasangan pada dinding di tempat-tempat
umum lemari dan kotak PHB harus dipasang pada ketinggian sekurangkurangnya
1,2 meter dari lantai. Pada instalasi perumahan ketinggian ini
ditetapkan 1,5 meter dari lantai.
Syarat PHB menetapkan bahwa lemari dan kontak hubung bagi tidak
boleh dipasang di kamar mandi, tempat cuci tangan, di atas kompor atau di
atas bak air.
6-1-1 Macam-macam PHB :
Menurut kebutuhannya PHB dibedakan menjadi 2 macam yaitu : PHB
Utama dan PHB sub instalasi atau PHB cabang.
• PHB Utama ialah PHB yang menerima aliran tenaga listrik dari
sumber melalui saklar utama konsumen dan membagikan tenaga
listrik tersebut ke seluruh alat pemakai pada instalasi konsumen.
• PHB Sub Instalasi atau PHB Cabang ialah PHB dari suatu instalasi
untuk mensuplai tenaga listrik kepada satu konsumen dan instalasi
tersebut merupakan bagian dari instalasi yang mensuplai konsumen
tunggal atau lebih.
Menurut tegangan sumbernya, PHB dibedakan menjadi sesuai
dengan tingkat tegangan sistemnya yaitu : PHB tegangan rendah (TR),
PHB tegangan menengah (TM) dan PHB tegangan tinggi (TT).
• PHB TR yaitu PHB yang banyak dipasang pada instalasi baik milik
PLN maupun milik pelanggan, PHB yang terpasang milik pelanggan,
PHB yang terpasang milik PLN biasanya ditempatkan gardu induk
distribusi sisi sekunder trafo distribusi sedangkan PHB yang di
pelanggan biasanya terpasang pada dinding atau ruangan tertentu
setelah APP ditempat pelanggan tersebut.
• PHB TM ialah PHB yang terdapat pada pembangkit atau GI sisi TM
berbentuk lemari panel (kubikel) tertutup terbuat dari bahan besi atau
berbentuk gardu sel terbuka yang dilengkapi peralatan ukur dan
pengaman (proteksi).
• PHB TT adalah PHB yang menggunakan peralatan-peralatan dengan
kapasitas yang besar dan mempunyai resiko bahaya yang tinggi pula
sehingga pemasangan PHB TT ini biasanya ditempat khusus dan
terbuka (switch yard) yang dilengkapi rambu-rambu, pagar dan
peralatan pengaman yang memadai.
Menurut tipenya PHB di kelompokkan menjadi 2 tipe yaitu tipe tertutup dan
tipe terbuka.
Saklar dan Pengaman
295
• PHB dengan tipe tertutup yaitu apabila seluruh komponen PHB
berada disuatu tempat yang tertutup oleh selungkup/pelindung
mekanis maupun pelindung elektris.
• PHB tipe terbuka yaitu PHB yang semua peralatan atau komponennya
berada diluar dan tampak secara kasar mata dan dilengkapi dengan
pagar maupun peralatan isolasi huna melindungi dari bahaya mekanis
dan elektrisnya.
6-1-2 Bentuk PHB
1. Bentuk Tertutup
2. Bentuk Terbuka
6-1-3 Busbar
1. Tipe Tertutup (Close Type)
Tipe tertutup ini banyak digunakan dan dikembangkan saat ini di
pembangkitan atau digardu induk yang areal kerjanya tidak luas, biasanya
dipasang di lemari hubung bagi atau kubikel karena bentuknya yang
sederhana dengan konstruksi pemasangan yang sederhana dengan
konstruksi pemasangan yang praktis dan lebih aman, sebab setiap pintu
Gambar 6-1. Bentuk lemari dengan bagian
yang dapat ditarik keluar
Gambar 6-2. Busbar tipe terbuka (pandangan depan)
296
lemari PHB nya dilengkapi dengan penataan sistem interlock dimana saklar
pentanahannya terdapat didalam PHB tersebut.
Apabila pintu PHB akan dibuka maka terlebih dahulu posisi PMT
harus terbuka dan saklar pentanahan dimasukkan, baru pintu PHB dapat
dibuka. Begitu pula pada waktu akan menutup PMT maka posisi pintu
tertutup dan saklar pentanahannya dalam keadaan terbuka.
2. Tipe Terbuka (Open Type)
Busbar pada tipe terbuka ini banyak dijumpai digardu sel atau gardu
open type, dimana semua peralatan termasuk rel pengumpul (Busbar)
kelihatan secara visual. Hal ini menunjukkan bahwa semua peralatan yang
terpasang memerlukan tempat tersendiri sehingga membutuhkan areal yang
luas untuk tipe terbuka ini, karena masing-masing peralatan secara utuh
akan terpasang pada PHB tipe terbuka ini.
Oleh karena keadaan terbuka tersebut sehingga bagian-bagian yang
bertegangan dari PHB ini sangat membahayakan operatornya, untuk
mengatasi hal tersebut maka pada PHB/Gardu terbuka selalu diberi pagar
dan tanda rambu keselamatan kerja untuk membatasi daerah berbahaya
dan memperingatkan kepada semua petugas agar lebih berhati-hati.
6-1-4 Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan Rendah (PHB TR)
Yang dimaksud dengan PHB TR adalah Perlengkapan Hubung Bagi
yang dipasang pada sisi TR atau sisi sekunder Trafo sebuah gardu
Distribusi baik Gardu beton, Gardu kios, Gardu portal maupun Gardu cantol.
Adapun PHB TR yang banyak kita jumpai adalah PHB TR yang ada pada
Gardu Trafo Tiang (GTT).
PHB TR yang terpasang pada Gardu Trafo Tiang berbentuk lemari
besi yang didalamnya terdapat komponen-komponen antara lain :
1. Kerangka / Rak TR
2. Saklar Utama
3. NH Fuse Utama
Gambar 6-3. Salah satu contoh Busbar tipe tertutup (Kubikel)
Saklar dan Pengaman
297
Gambar 6-5. PHB TR (Out Door)
Gambar 6-4. PHB/Gardu terbuka
Pintu kawat
raam
CB
CT PT
UNP. 10
APP
298
4. Rel Tembaga
5. NH Fuse jurusan
6. Isolator penumpu Rel
7. Sirkuit Pengukuran
8. Alat ukur Ampere & Volt meter
9. Trafo Arus (CT)
10. Sistem Pembumian
11. Lampu Kontrol / Indikator
6-1-5 Fungsi PHB TR
Fungsi atau kegunaan PHB TR adalah sebagai penghubung dan
pembagi atau pendistribusian tenaga listrik dari out put trafo sisi tegangan
rendah TR ke Rel pembagi dan diteruskan ke Jaringan Tegangan Rendah
(JTR) melalui kabel jurusan (Opstyg Cable) yang diamankan oleh NH Fuse
jurusan masing-masing.
Untuk kepentingan efisiensi dan penekanan susut jaringan (loses)
saat ini banyak unit PLN yang mengambil kebijaksanaan untuk melepas
atau tidak memfungsikan rangkaian pengukuran maupun rangkaian
kontrolnya, hal ini dimaksudkan agar tidak banyak energi listrik yang
Gambar 6-6. Rangkaian Utama, Pengukuran & Kontrol PHB TR.
Keterangan Gambar:
1. Saklar Utama
2. NH Fuse Jurusan
3. Volt Meter
4. Fuse Kontrol
5. Kabel Juruan
Saklar dan Pengaman
299
mengalir ke alat ukur maupun kontrol terbuang untuk keperluan kontrol dan
pengukuran secara terus menerus, sedangkan untuk mengetahui besarnya
beban maupun tegangan, dilakukan pengukuran pada saat di perlukan saja
dan bisa menggunakan peralatan ukur portable seperti AVO atau Tang
Ampere saja.
6-1-6 Konstruksi PHB TR
Menurut Konstruksinya PHB TR dibagi menjadi 2 (dua) macam
konstruksi yaitu :
1. Konstruksi PHB TR 2 Jurusan
2. Konstruksi PHB TR 4 Jurusan
6-1-7 Pengoperasian PHB TR
Untuk mengoperasikan PHB TR baru harus mengikuti prosedur yang
sudah ditetapkan oleh manajemen dalam hal ini adalah unit operasi
Jaringan Tegangan Rendah (JTR) dalam bentuk Standing Operation
Procedure (SOP).
Adapun pembuatan SOP bisa mengambil contoh dari beberapa referensi
antara lain:
• Instruction Manual Books
Gambar 6-7. PHB-TR Dua Jurusan dan Empat Jurusan
300
• Data Spesifikasi peralatan PHB TR
• Operation Guidance
• Kondisi Jaringan
• Pengalaman (Experience)
• Dan lain-lain
6-1-8 Konstruksi PHB TR Berdiri (Standing)
Keterangan Gambar:
1. Saklar Utama
2. NH Tuse Juruan
3. Volt meter
4. Fuse Kontrol
5. Kabel Jurusan
Gambar 6-8. Konstruksi PHB-TR type berdiri (Standing)
Saklar dan Pengaman
301
Langkah-langkah Kerja Pengoperasian PHB-TR
1. Petugas Pelaksana Menerima PK dari Asman Distrbusi untuk
melakukan pengoperasian Peralatan Hubung Bagi Tegangan Rendah
(PHB – TR) baru.
2. Siapkan Alat Kerja, Alat Ukur, Alat K-3. Material Kerja dan Alat Bantu
sesuai dengan kebutuhan
3. Setelah Petugas sampai di Lokasi gunakan Alat K-3 dan selanjutnya
lapor ke Posko, petugas akan mengoperasikan PHB - TR baru
4. Periksa konstruksi PHB – TR baru meliputi :
- Buka tutup Saklar Utama
- Lampu kerja dan Lampu Test
- Isolator Fuse Holder
- Konduktor pentanahan (arde)
- Kekencangan Baut
- Rating NH Fuse sesuai dengan kapasitas Trafo Terpasang
5. Barikan Vaselin pada Pisau Saklar Utama dan Fuse Holder
6. Lakukan pengukuran tahanan isolasi antar arel dan antara Rel dengan
Body serta tahanan pembumian dan dicatat dalam Formulir Berita
Acara (BA).
Gambar 6-9. Diagram Pengawatan PHB-TR
Kondisi (Isi) Panel
302
7. Bersihkan Rel. Dudukan Fuse Holder, Pisau Saklar Utama (Hefboom
Saklar). Sepatu Kabel dari kotoran/korosi. Dan bersihkan ruangan
dalam panel hubung bagi.
8. Periksa kekencangan peningkatan mur/baut pada Saklar Utama
Sepatu Kabel, Rel, Fuse Holder, kondisi isolator binnen dan Sistem
pembumian.
9. Lakukan pemeriksaan hasil pekerjaan secara visual dan amankan
seluruh peralatan kerja.
10. Lapor ke posko bahwa kondisi PHB – TR dan Petugas dalam keadaan
aman dan selanjutnya meminta tegangan dimasukkan (pemasukan
CO gardu dilaksanakan oleh petugas operasi SUTM).
11. Setelah menerima ijin pemasukan tegangan dari posko masukan CUT
OUT (CO).
12. Lakukan penukaran tegangan pada sisi masuk saklar utama dan
amati putaran fasa dan selanjutnya catat dalam formulir BA.
13. Masukkan saklar utama (Hefbom Saklar).
14. Masukkan NH Fuse masing-masing jurusan.
15. Lapor ke posko, bahwa pekerjaan pengoperasian PHB – TR baru
telah selesai dan petugas akan meninggalkan lokasi pekerjaan.
16. Lepaskan Alat K-3 yang sudah tidak dipergunakan lagi.
17. Buat laporan dan berita acara pelaksanaan pekerjaan pengoperasian
PHB – TR baru.
18. Buat laporan pekerjaan pengoperasian PHB – TR baru dan berita
acara diserahkan kepada Asman Distribusi.
6-1-9 Pemeliharaan PHB TR
Sebagaimana pengoperasian PHB TR pada kegiatan pemeliharaanpun
diperlukan langkah-langka atau prosedur pemeliharaan rutin periodik dan
berkala yang disahkan oleh manajemen unit setempat sebagai prosedur
tetap dalam bentuk SOP.
Langkah-langkah pemeliharaan antara lain :
• Persiapan Pemeliharaan
• Pemeriksaan dan Pengukuran
• Pemeriksaaan Pemeliharaan
• Pemeriksaan Hasil Pemeliharaan
• Pembuatan Laporan Pemeliharaan
Pelaksanaan Pemeliharaan PHB TR
Di bawah ini ditunjukkan gambar pelaksanaan Pemeliharaan PHB
TR dengan membongkar, membersihkan, memeriksa, mengganti dengan
peralatan yang baru bila peralatan yang diperiksa tersebut sudah rusak dan
Saklar dan Pengaman
303
memasangkan kembali ke posisi semula kemudian mencoba dioperasikan
oleh teknisi pemeliharaan yang selanjutnya dibuatkan laporan pengganti
peralatan hasil pemeliharaan PHB TR tersebut.
Langkah-langkah Kerja Pelaksanaan Pemeliharaan PHB-TR
1. Petugas Pelaksana Menerima PK dari Asman Distrbusi untuk
melakukan pemeliharaan Peralatan Hubung Bagi Tegangan Rendah
(PHB – TR) baru.
2. Siapkan Alat Kerja, Alat Ukur, Alat K-3. Material Kerja dan Alat Bantu
sesuai dengan kebutuhan
3. Setelah Petugas sampai di Lokasi gunakan Alat K-3 dan selanjutnya
lakukan pengukuran tegangan, arus beban, dan putaran fasa serta
catat dalam formulir.
4. Lepas beban jurusan dan buka saklar utama.
5. Laporkan pada Posko bahwa pekerjaan akan dilaksanakan dan
meminta pelepasan CO gardu (pelepasan CO gardu dilaksanakan
oleh petugas operasi SUTM).
6. Tanahkan (Grounding) seluruh kabel jurusan dengan menggunakan
Grounding cabel TR,
7. Bersihkan Rel, Dudukan Fuse Holder, Pisau Saklar Utama (Hefboom
Saklar). Sepatu Kabel dari kotoran/korosi. Dan bersihkan ruangan
dalam Panel Hubung Bagi.
Gambar 6-10. Pemeriksaan titik sambungan dengan Thermavision
304
Gambar 6-11. Pelaksanaan Pemeliharaan
Salah Satu Komponen PHB TR
Gambar 6-12. Diagram Segaris Gardu Trafo Tiang (GTT)
Saklar dan Pengaman
305
Gambar 6-13. Pemasangan PHB-TR pada Gardu
306
Gambar 6-14. Diagram Satu Garis PHB-TR Gardu Tiang Trafo
Gambar 6-15. Pemasangan PHB-TR pada Gardu Control
Saklar dan Pengaman
307
8. Periksa kekencangan peningkatan mur/baut pada Saklar Utama
Sepatu, Kabel, Rel, Fuse Holder, Kondisi Isolator Binnen dan Sistem
Pembumian.
9. Bila ada komponen PHB-TR yang rusak maka perbaiki atau ganti
baru.
10. Berikan Vaseline pada Pisau Saklar Utama, Terminal Fuse Holder.
11. Ukur dan Catat nilai tahanan isolasi antar Rel dan atau Rel terhadap
body setelah Tahanan Pentanahan dan catat dalam formulir berita
acara (BA).
12. Lakukan pada posko bahwa pekerjaan pemeliharaan telah selesai dan
meminta pemasukan CO gardu (pemasukan CO gardu dilaksanakan
oleh petugas operasi SUTM).
13. Lepaskan pentanahan (Grounding cable TR) pada seluruh kabel
jurusan.
14. Laporkan pada posko bahwa pekerjaan pemeliharaan telah selesai
dan meminta pemasukan CO gardu (pemasukan CO gardu
dilaksanakan oleh petugas operasi SUTM).
15. Masukkan saklar utama tanpa beban, kemudian ukur besaran
tegangan antara fasa dan fasa, dan atara fasa dengan nol di rel, serta
check arah putaran fasa dan selanjutnya catat dalam formulir BA.
16. Lakukan pengecekkan Rating NH Fuse untuk disesuaikan dengan
data Fuse semula.
17. Masukkan NH Fuse jurusan secara bertahap.
18. Lakukan pengukuran beban dan catat dalam formulir BA.
19. Tutup dan kunci pintu Panel PHB TR.
20. Tutup ke Posko bahwa pekerjaan memelihara PHB TR telah selesai
dan petugas akan meninggalkan lokasi pekerjaan.
21. Lepaskan alat K-3 yang sudah tidak dipergunakan lagi.
22. Buat laporan Berita Acara pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan PHB
TR.
23. Laporkan penyelesaian pekerjaan dan penyerahan Formulir BA
kepada Asman Distribusi.
6-2 Transformator
Transformator adalah peralatan pada tenaga listrik yang berfungsi
untuk memindahkan/menyalurkan tenaga listrik tegangan rendah ke
tegangan menengah atau sebaliknya, sedangkan prinsip kerjanya melalui
kopling magnit atau induksi magnit.
308
6-2-1 Bagian-Bagian Dari Transformator
6-2-1-1 Inti Besi
Inti besi tersebut berfungsi untuk membangkitkan fluksi yang timbul
karena arus listrik dalam belitan atau kumparan trafo, sedang bahan ini
terbuat dari lempengan-lempengan baja tipis, hal ini dimaksudkan untuk
mengurangi panas yang diakibatkan oleh arus eddy (weddy current).
6-2-1-2 Kumparan Primer dan Kumparan Sekunder
Kawat email yang berisolasi terbentuk kumparan serta terisolasi baik
antar kumparan maupun antara kumparan dan inti besi. Terdapat dua
kumparan pada inti tersebut yaitu kumparan primair dan kumparan skunder,
bila salah satu kumparan tersebut diberikan tegangan maka pada kumparan
akan membangkitkan fluksi pada inti serta menginduksi kumparan lainnya
sehingga pada kumparan sisi lain akan timbul tegangan.
6-2-1-3 Minyak Trafo
Belitan primer dan sekunder pada inti besi pada trafo terendam
minyak trafo, hal ini dimaksudkan agar panas yang terjadi pada kedua
kumparan dan inti trafo oleh minyak trafo dan selain itu minyak tersebut juga
sebagai isolasi pada kumparan dan inti besi.
6-2-1-4 Isolator Bushing
Pada ujung kedua kumparan trafo baik primair ataupun sekunder
keluar menjadi terminal melalui isolator yang juga sebagai penyekat antar
kumparan dengan body badan trafo.
6-2-1-5 Tangki dan Konserfator
Bagian-bagian trafo yang terendam minyak trafo berada dalam
tangki, sedangkan untuk pemuaian minyak tangki dilengkapi dengan
konserfator yang berfungsi untuk menampung pemuaian minyak akibat
perubahan temperature.
6-2-1-6 Katub Pembuangan dan Pengisian
Katup pembuangan pada trafo berfungsi untuk menguras pada
penggantian minyak trafo, hal ini terdapat pada trafo diatas 100 kVA,
sedangkan katup pengisian berfungsi untuk menambahkan atau mengambil
sample minyak pada trafo.
6-2-1-7 Oil Level
Fungsi dari oil level tersebut adalah untuk mengetahui minyak pada
tangki trafo, oil level inipun hanya terdapat pada trafo diatas 100 kVA.
6-2-1-8 Indikator Suhu Trafo
Untuk mengetahui serta memantau keberadaan temperature pada oil
trafo saat beroperasi, untuk trafo yang berkapasitas besar indikator limit
tersebut dihubungkan dengan rele temperature.
Saklar dan Pengaman
309
6-2-1-9 Pernapasan Trafo
Karena naik turunnya beban trafo maupun suhu udara luar, maka
suhu minyaknya akan berubah-ubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu
minyak tinggi, minyak akan memuai dan mendesak udara diatas permukaan
minyak keluar dari tangki, sebaliknya bila suhu turun, minyak akan menyusut
maka udara luar akan masuk kedalam tangki.
Kedua proses tersebut diatas disebut pernapasan trafo, akibatnya
permukaan minyak akan bersinggungan dengan udara luar, udara luar
tersebut lembab. Oleh sebab itu pada ujung pernapasan diberikan alat
dengan bahan yang mampu menyerap kelembaban udara luar yang disebut
kristal zat Hygrokopis (Clilicagel).
6-2-1-10 Pendingin Trafo
Perubahan temperature akibat perubahan beban maka seluruh
komponen trafo akan menjadi panas, guna mengurangi panas pada trafo
dilakukan pendingin pada trafo, guna mengurangi pada trafo dilakukan
pendinginan pada trafo. Sedangkan cara pendinginan trafo terdapat dua
macam yaitu : alamiah/natural (Onan) dan paksa/tekanan (Onaf).
Pada pendinginan alamiah (natural) melalui sirip-sirip radiator yang
bersirkulasi dengan udara luar dan untuk trafo yang besar minyak pada trafo
disirkulasikan dengan pompa. Sedangkan pada pendinginan paksa pada
sirip-sirip trafo terdapat fan yang bekerjanya sesuai setting temperaturnya.
6-2-1-11 Tap Canger Trafo (Perubahan Tap)
Tap changer adalah alat perubah pembanding transformasi untuk
mendapatkan tegangan operasi sekunder yang sesuai dengan tegangan
sekunder yang diinginkan dari tegangan primer yang berubah-ubah.
Tiap changer hanya dapat dioperasikan pada keadaan trafo tidak
bertegangan atau disebut dengan “Off Load Tap Changer” serta dilakukan
secara manual.
6-2-2 Impedansi Trafo
Bila kumparan primer suatu transformator dihubungkan dengan
sumber tegangan V1 yang sinusoid, akan mengalirlah arus primer lg yang
juga sinusoid dan dengan menganggap belitan N1 reaktif murni. lg akan
Gambar 6-16. Rangkaian Dasar Trafo
310
tertinggal 900 dari V1 (gambar 1b) Arus primer lg menimbulkan fluks (Ф) yang
sefasa dan juga berbentuk sinusoid.
Ф = Ф maks Sin wt (6-1)
Fluks yang sinusoid ini akan menghasilkan tegangan induksi e1
(Hukum Farraday).
(6-2)
(6-3)
Harga efektifnya
(6-4)
Pada rangkaian sekunder fluks (Ф) bersama tadi menimbulkan
(6-5)
(6-6)
(6-7)
Sehingga
(6-8)
dt
e N d
φ
1 = − 1
〈 〉
= − =
φ
φ
φ
tertinggal dari
N w Cos wt
dt
e N d Sin wt maks
maks
0
1
90
1 1 (
maks
E N f maks N f φ
π φ
1
1
1 4,44
2
= 2 =
dt
e N dφ
2 2 = −
e N t m ϖ φ cosϖ 2 2 = −
maks E N f φ 2 2 =4,44
2
1
2
1
N
N
E
E =
Gambar 6-17. Diagram Arus Penguat
Saklar dan Pengaman
311
Dengan mengabaikan rugi tahanan dan adanya fluks bocor.
(6-9)
a = perbandingan transformator
Dalam hal ini tegangan induksi E1 mempunyai kebesaran yang sama tetapi
berlawanan arah dengan tegangan sumber V1.
6-2-3 Arus Penguat
Arus primer lo yang mengalir pada saat kumparan sekunder tidak
dibebani disebut arus penguat. Dalam kenyataannya arus primer lo bukanlah
merupakan arus induktif murni, hingga ia terdiri atas dua komponen (gambar
1).
1. Komponen arus pemagnetan lM yang menghasilkan fluks (Ф). Karena
sifat besi yang nonlinier (ingat kurva B-H) maka arus pemagnetan lM
dan juga fluks (Ф) dalam kenyataan tidak berbentuk sinusoid (gambar
1).
2. Komponen arus rugi tembaga lc menyatakan daya yang hilang akibat
adanya rugi histeresis dan arus eddy lc sefasa dengan V1 dengan
demikian hasil perkaliannya (lc x V1) merupakan daya (watt) yang
hilang.
6-2-4 Trafo dalam Keadaan Berbeban
Apabila kumparan sekunder dihubungkan dengan ZL l2 mengalir pada
kumparan sekunder, dimana l2 = V2 / ZL dengan O2 = factor kerja beban.
Arus beban l2 ini akan menimbulkan gaya gerak magnet (ggm) N2 l2
yang cenderung menentang fluks (Ф) bersama yang telah ada akibat arus
pemagnetan lM. Agar fluks bersama itu tidak berubah nilainya pada
kumparan primer oleh arus beban l2 hingga keseluruhan arus yang mengalir
pada kumparan magnet primer menjadi :
l1 = lO + l2 (6-10)
a
N
N
V
V
E
E = = =
2
1
2
1
2
1
E2 Z2 V2
I1 I2
V1 E1
Gambar 6-18. Rangkaian Trafo Berbeban
312
6-2-5 Pemeliharaan Gardu Trafo Tiang (GTT)
Tenaga Listrik merupakan suatu kebutuhan pokok bagi masyarakat
saat ini, oleh karena itu Tenaga Listrik harus dapat tersedia secara terusmenerus
dengan mutu dan keadaan yang tinggi, untuk dapat tercapainya hal
tersebut salah satu usaha adalah dengan tetap terpeliharanya instalasi
Sistem Tenaga Listrik di sisi Pembangkitan, Penyeluran dan Distribusinya.
Sebagaimana peralatan pada umumnya, peralatan yang operasi
dalam instalasi Tenaga Listrik perlu dipelihara, hal ini bertujuan untuk
mempertahankan unjuk kerja peralatan tersebut, terpeliharanya instalasi
tenaga listrik dengan baik dapat mempertahan mutu dan kendala penyaluran
tenaga listrik.
Gardu Trafo Tiang (GTT) adalah merupakan salah satu komponen
instalasi tenaga listrik yang terpasang di Jaringan Distribusi berfungsi
sebagai trafo daya penurun tegangan dari tegangan menengah ke tegangan
rendah, dan selanjutnya tegangan rendah tersebut disalurkan ke konsumen.
Mengingat fungsi dan harga dari trafo tersebut cukup mahal bila
dibandingkan dengan peralatan distribusi lainnya, maka pemeliharaan
preventif yang dilakukan secara intensif, dengan kriteria pemeliharaan yang
jelas untuk setiap komponen GTT dan ditangani oleh tenaga yang terampil
dengan peralatan yang memadai agar pemeliharaan tersebut berjalan
dengan efektif.
6-2-5-1 Komponen Utama GTT
Secara umum komponen utama GTT adalah sebagai berikut :
1. Transformator : berfungsi sebagai trafo daya merubah tegangan
menengah (20 kV) menjadi tegangan rendah (380/200) Volt.
2. Fuse Cut Out (CO) : sebagai pengaman penyulang, bila terjadi
gangguan di gardu (trafo) dan melokalisir gangguan di trafo agar
peralatan tersebut tidak rusak. CO di pasang pada sisi tegangan
menengah (20 kV).
3. Arrester : sebagai pengaman trafo terhadap tegangan lebih yang
disebabkan oleh samabaran petir dan switching (SPLN
se.002/PST/73).
4. NH Fuse : sebagai pengaman trafo terhadap arus lebih yang
terpasang di sisi tegangan rendah (220 Volt), untuk melindungi trafo
terhadap gangguan arus lebih yang disebabkan karena hubung
singkat dijaringan tegangan rendah maupun karena beban lebih.
5. Grounding Arrester : untuk menyelurkan arus ketanah yang
disebabkan oleh tegangan lebih karena sambaran petir dan switching.
6. Graunding Trafo : untuk menghindari terjadi tegangan lebih pada
phasa yang sehat bila terjadi gangguan satu fasa ketanah mauoun
yang disebutkan oleh beban tidak seimbang.
Saklar dan Pengaman
313
7. Grounding LV Panel : sebagai pengaman bila terjadi arus bocor yang
mengalir di LV panel.
6-2-5-2 Peralatan Pendukung
Alat Kerja
Agar pekerjaan dapat terlaksana dengan baik perlu didukung oleh
peralatan yang memadai baik peralatan mekanik maupun elektrik.
Adapun peralatan kerja yang dibutuhkan sebagai berikut :
Alat Ukur
• AVO Meter
• Megger 1.0 Volt, 5.000 Volt, 10.000 Volt
• Earth Tester
• Tang Amper dengan range 1.000 Amper
• Infrares
• Drivelt/Phasa Detector dll.
Peralatan
• Shcakel Stick 20kV 13 meter
• Kunci Shock (satu set)
• Kunci Ring (satu set)
• Kunci Inggris
• Tang Kombinasi
• Tang Kupas/Potong
• Obeng Minus
• Obeng Plus
• Gergaji Besi
• Palu
• Corong Minyak
• Slang Plastik
• Pompa Minyak (plastik)
• Kain Lap Majun
• Kertas Gosok
• Dies Compression
• Cable Cutter 600 – 900 mm
• Tangga Fiber Glass 7 m
• Stainless Steel Belt/Stopping Tool
• Boto Kosong Bersih + Tutup
• Kuas
• Kikir dll.
Perlengkapan K3
• Sabuk Pengaman
• Helm
• P3K
• Sarung Tangan Katun
• Sepatu Kerja dan lain-lain
314
Material Pemeliharaan
Daftar material untuk pekerjaan pemeliharaan seperti tercantum pada
Tabel 6-1 berikut:
Tabel 6-1. Material Pemeliharaan GTT
No. Material Satuan Jumlah
1 Ground rod 2,5 m Buah 2
2 Ground rod 1,5 m Buah 4
3 Cincin rod Buah 6
4 NYA 50 mm2 Meter 10
5 NYA 70 / 95 mm2 Meter 6
6 NYA 120 / 150 mm2 Meter 6
7 BC Draad 50 mm Meter 5
8 AAAC 70 mm2 Meter 46
9 NYAF 50 mm Meter 2
10 CCT 6 T 6 (95 / 95 mm) Buah 6
11 STT 5 T 5 (70 / 70 mm) Buah 6
12 STT 7 T 7’ (120 / 120 mm) Buah 4
13 STT 8 T 8 (150 / 150 mm) Buah 4
14 SAA 5 T 5 (70 / 70 mm) Buah 7
15 SAA 5 T 4 (70 / 50 mm) Buah 6
16 SAT 4 (50 mm) Buah 6
17 SKT 6 (95 mm) Buah 12
18 SKT 7 (120 mm) Buah 12
19 SKT 8 (150 mm) Buah 8
20 SKA 5 (70 mm) Buah 2
21 CCO 5 T 5 (70 / 70 mm) Buah 7
22 Skaklar Utama 630 A (bila rusak) Buah 1
23 Fuse base 400 A Buah 6
24 Fuse Holder/Smeldraad Holder Buah 6
25 Smel Draad 80 – 200 A Buah 6
26 Fuse Ling 3 – 8 A Buah 3
27 Pipa PVC AW ¾” Buah 6
28 Stopping Buckle Buah 10
29 Link Buah 10
30 Isolasi PVC Pipa Rol 1
31 Isolator Scot 23 Rol 1
32 Contac Cliner/Sakapen Botol 1
33 Silikon gress/Vaseline CC 50
34 Stainless Steel Strap Meter 15
35 Semen Kg 4
36 Minyak Trafo Liter 25
37 Alkohol Liter 1
38 Kain Majun Kg 1
39 Cat/Meni Besi (abu-abu) Kg 1
40 Thinner Liter 1
41 Engsel Buah 1
Saklar dan Pengaman
315
6-2-5-3 Pelaksanaan Pemeliharaan
Persiapan
Agar pekerjaan GTT dapat berjalan sesuai dengan rencana, maka perlu
dilakukan persiapan sebelum pelaksanaan, persiapan tersebut menjadi :
1. Melakukan survai lapangan : survai bertujuan untuk melihat secara
langsung keadaan GTT dengan mengadakan pemeriksaan secara
Visual, Mekanik, Elektrical, Pengukuran (beban, tegangan) atau
pengukuran suhu/sambungan/NH fuse dengan menggunakan Infra
Red. Semua hasil pemeriksaan tersebut dicatat dan dievaluasi
sebagai bahan masukkan untuk membuat rencana pemeliharaan
terutama yang menyngkut kebutuhan material dan perkiraan waktu
pemadaman.
2. Penyampaian rencana dan kondisi lapangan ke Pengawas Pelaksana
Pekerjaan : hal ini untuk dapat memberikan gambaran pada pengawas
pelaksana agar sebelum melaksanakan pekerjaan dapat
mempersiapkan sesuatunya dengan baik dan membuat strategi
pelasanaannya, dan dari informasi tersebut diharapkan dapat
mengurangi kesulitan dalam pelaksanaan pekerjaan.
3. Pemberitahuan pemadaman ke konsumen : karena pelaksanaan
pemeliharaan GTT diperlukan pembebasan tegangan, maka sebelum
pelaksanaan pekerjaan, konsumen yang dipasok oleh GTT tersebut
perlu diberi informasi tentang rencana pemadaman, informasi
pemadaman tersebut dapat di informasikan melalui media massa
(radio, koran), untuk pelanggan industri bila perlu diberi surat
tersendiri. Untuk pelanggan 3 phasa perlu diingatkan agar memasang
pengaman phasa under voltage, untuk mengamankan bila terjadi
hilang tegangan 1 phasa.
6-2-5-4 Pelaksanaan Pekerjaan
a. Material, Alat kerja dan SDM : material dan alat kerja harus betul-betul
dipersiapkan dengan baik, ketidak lengkapan material maupun alat
kerja akan menyebabkan pekerjaan menjadi lama dan juga dapat
menyebabkan hasil kerja tidak sempurna bahkan dapat juga
menambah kerusakan pada komponen yang dikerjakan dengan
menggunakan alat yang tidak seharusnya (contoh pengerasan
mur/baut dengan menggunakan tang). Selain dari material dan alat
kerja yang lebih penting adalah sumber daya manusia (SDM), material
dan alat kerja lengkap tidak didukung dengan SDM yang memadai
tidak ada artinya, oleh sebab itu para pelaksana perlu diberi Pedoman
atau SOP yang dapat digunakan sebagai petunjuk pelaksanaan
pekerjaan.
b. Pengukuran Parameter yang diperlukan : untuk mengetahui hasil kerja
yang telah dilakukan, salah satunya adalah dengan membandingkan
parameter sebelum dengan setelah pekerjaan dilaksanakan,
316
parameter yang perlu dilakukan pengukuranantara lain Tegangan,
Arus, Temperatur, dan Tahanan pentanahan.
c. Pembebasan Tegangan : setelah dipastikan bahwa ijin pemadaman
dan fisik lapangan sudah siap, kemudian dilakukan pembebasan
beban pada GTT tersebut dan dilakukan dan dilanjutkan dengan
saklar utama (helboom), bila tidak terpasang helboom dapat melepas
NH fuse jurusan di mulai dari phasa s, r, t, untuk menghindari ketidak
imbangan pada konsumen 3 phasa sekaligus, sedangkan untuk
pembebasan tegangan dilakukan dengan melepas Fuse Cut Out (CO)
di mulai dari phasa S, R, T.
d. Untuk antisipasi ketidak cukupan waktu pemadaman, maka perlu
dibuat prioritas pemeliharaan yaitu dengan mengutamakan terlebih
dahulu pada komponen utama (trafo, CO, Arrester, NH Fuse) atau
komponen lain yang hanya dapat dikerjakan dengan pembebasan
tegangan.
6-2-5-5 SOP Pelaksanaan Dengan Memadamkan Trafo
1) Lightning Arrester
Bila arrester masih terpasang sebelum CO, pindah arrester tersebut
setelah Cut Out dengan memakai dudukan kanal NP8 – 2.500 mm (bila
perlu siapkan kanal sendiri untuk praktisnya pelaksanaan), hal ini untuk
mempercepat penanganan gangguan SUTM yang disebabkan oleh
kegagalan lightning arrester.
Tabel 6-2. Tabel Daya dan Arus Fuse Link
No. Daya
(kVA)
Arus
(A)
Fuse Link
Type K(A) No. Daya
(kVA)
Arus
(A)
Fuse Link
Type K (A)
1 1 x 25 1,25 2 9 3 x 50 4,33 5
2 1 x 32 1,6 2 10 3 x 64 5,54 5
3 1 x 37,5 1,88 2 11 50 1,44 2
4 1 x 50 2,5 3 12 100 2,89 3
5 1 x 64 3,2 3 13 160 4,65 5
6 3 x 25 2,17 3 14 200 5,77 6
7 3 x 32 2,77 3 15 250 7,22 6
8 3 x 37,5 3,25 3 16 315 9,09 8
2) Fuse Cut Out (CO)
• Jumper CO sisi atas disesuaikan dengan konduktor SUTM (TC
aluminium 25 mm2 konektor ke Jaringan dengan CCO dan ujung ke
terminal CO dengan SKAT3).
• Jumper CO bagian bawah (ke trafo) diperbaiki/dipasang SKT 3, bila
perlu ganti dengan NYAF 50 mm2.
• Periksa kembali mur baut pada terminalnya, kencangkan bila perlu.
• Sesuaikan penggunaan fuse link seperti tabel 6.2.
Saklar dan Pengaman
317
2.1) Mengganti Fuse Cut Out (CO)
Sesuai dengan namanya Fuse Cut Out, maka pada saat elemen
lebur (kawat lumer) putus karena kelebihan beban (over load), maka
rumah sekring akan terbuka, sehingga tampak dari jauh rumah sekring
tersebut menggantung keluar. Karena rumah sekring menggantung
pada pengait (bagian bawah), maka bisa diambil dengan mengguna-kan
galah pengaman. Sampai di bawah sekring lumer diganti, selanjutnya
rumah sekring di pasang lagi pada gantungan dan ujungnya di dorong
masuk ke klem(terminal) bagian atas. Cara memasukkan CO ini setelah
gangguan selesai diatasi dan dimasukkan pada kondisi tidak berbeban.
Selanjutnya beban disisi sekunder dimasukkan per kelompok grup.
3) Transformator
• Minyak trafo ambil 1 botol melalui bawah, untuk test minyai dan
tambah bila level minyak dibawah batas minimum melalui atas.
• Bushing primer, bersihkan dengan sakapenk, periksa, kencangkan
mur bila perlu/ganti bila rusak (untuk isolator yang di pasang arching
horn dari kawat baja 10 mm2 atur jarak sparking rod selebar 13 cm,
sesuai I.E.C.715A 1962 & SPLN 002/0ST/73).
• Bushing sekunder bersihkan dengan sakapen, pasang plat tembaga
(cooper) 4 x 4 x 90 mm untuk daya trafo ≥ 160 kVA, periksa
kencangkan mur bila perlu ganti yang rusak.
• Tap Changer periksa mekaniknya dan catat posisi tap changer
(posisikan tap changer pada trafo beban kosong tegangan sekunder
antara phas – nol 231 Volt).
• Body trafo periksa, bersihkan/bila berkaratan cat total dengan kuwas
(Cat Emco warna abu-abu).
• Packing periksa kencangkan bila perlu/ganti packing bila
rembes/bocor.
• Grounding titik netral trafo periksa, ukur tahanan pentanahan, bila
hasil pengukuran > 5 ohm tambah ground rod 2,5 meter (paralel).
4) LV Panel
• LV Panel periksa, bersihkan, perbaiki/las bagian yang kropos dan cat
kembali sesusai standart (termasuk perbaikan engsel & grendel pintu
besi diberi grease/gemuk), bila rusak tidak bisa diperbaiki ganti
dengan yang baru.
• Saklar Utama periksa, kencangkan mur baut bila perlu dan beri vaselin
putih pada kontaknya.
• NH Fuse periksa, sesuaikan rating arus dengan daya trafo dan arus
beban line (sesuai tabel 6.3).
318
• Fuse Holder periksa/ganti bila rusak, kencangkan mur baut bila perlu
dan beri vaselin putih pada kontaknya, bila ada grease (gemuk)
bersihkan dulu dengan cleaner.
• Sepatu kabel periksa dan ganti sepatu kabel bila rusak atau kondisi
ujung kabel masuk (fudeng) trafo maupun kabel keluar ke JTR
terbakar, disesuaikan dengan jenis (CU/AL) dengan bimetal yang
sama dan ukuran konductor.
• Kunci HS/LS periksa/bila macet semprot dengan pembersih (contac
cleaner).
• Grounding body LV panel, body trafo & lightning arrester periksa/ukur
tahanan pentanahan/pasang groun rod 2,5 meter (II) bila tahanan
tanahnya > 5 ohm.
Tabel 6-3. Tabel Daya dan Arus Fuse Link
No Daya
(kVA)
Arus
(A)
Fuse Link
Type K (A) No Daya
(kVA)
Arus
(A)
Fuse Link
Type K (A)
1 1 x 25 113,6 80 9 3 x 50 227,3 160
2 1 x 32 145,5 100 10 3 x 64 290,9 225
3 1 x 37,5 170,5 125 11 50 75,8 60
4 1 x 50 227,3 160 12 100 151,5 125
5 1 x 64 290,9 200 13 160 242,4 200
6 3 x 25 113,6 80 14 200 303 250
7 3 x 32 145,5 100 15 250 378,8 300
8 3 x 37,5 170,5 125 16 315 477,3 400
5) SUTR
• Sambungkan out going ke JTR periksa/bila menggunakan percing
konektor ganti dengan joint bimetal/disesuaikan dengan jenis
conductor.
• Ujung SUTR periksa, bila belum terpasang ground rod pasang ground
rod 1,5 meter.
• Gambar SUTR lengkap dengan SR per gardu.
• Penggantian material harus dilaporkan pengawas PLN, bila material
disediakan rekanan maka harus ada jaminan kualitas selama 1 tahun.
6) Pengoperasian Kembali
Setelah semua pekerjaan selesai dilaksanakan, sebelum pengisian
tegangan maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Lepas semua grounding yang terpasang.
Saklar dan Pengaman
319
b. Lakukan pengecekan secara visual, apakah semua peralatan sudah
terpasang dengan baik dan yakinkan tidak ada lagi peralatan kerja
yang tertinggal.
c. Masukkan Fuse Cut Out satu persatu mulai dari phasa S, R
kemuadian T.
d. Ukur tegangan masuk di LV panel antara phasa-phasa, phasa –
netral, bila normal lakukan pembebanan trafo.
e. Masukkan skaklar utama (helboom), bila terpasang.
f. Pembebanan trafo dengan memasukkan NH fuse jurusan satu persatu
mulai phasa s, r, t.
g. Ukur parameter-parameter tegangan, arus dan temperatur mur baut
NH fuse, koneksi/sambungan.
h. Bila semua telah selesai dilakukan, dari pengamatan visual dan
pengukuran tidak ada kelainan, maka pintu LV panel dapat ditutup
kemudian dikunci dan pekerjaan dinyatakan selesai.
6-2-5-6 Pemeliharaan GTT Tanpa Memadamkan Trafo
Pekerjaan pemeliharaan GTT yang tidak memerlukan padam total
adalah, hanya pemeliharaan yang sifatnya ringan, pekerjaan tersebut
meliputi :
a) Penambahan grounding (tambah ground rod).
b) Penggantian joint kabel keluar dengan JTR (padam satu line JTR),
sebelum pelaksanaan pekerjaan perlu pemberitahuan pemadaman
lewat media massa.
c) Pengelasan/pengecatan bagian luar LV Panel.
d) Bila pekerjaan selesai cek kembali hasil pekerjaan tersebut secara
visual, mekanik dan yakinkan bahwa pekerjaan tersebut sudah benar
dan baik, bila pekerjaan memerlukan pemadaman salah satu line
jurusan, pastikan bahwa line jurusan tersebut sudah aman, bila aman
masukkan NH fuse jurusan satu persatu mulai dari phasa 2, r
kemudian t.
Ukur tegangan antara phasa-phasa dan phasa–nol, bila kondisi
normal tutup pintu LV panel kemudian dikunci dan pekerjaan dinyatakan
selesai.
6-3 Saklar dan Fuse
1. Fuse pada Papan Hubung Bagi Tegangan Rendah
2. Semi Automatic Change Over (SACO ) pada jaringan tegangan
rendah
3. Fuse Cut Out (CO) pada saluran udara tegangan menengah (SUTM)
4. Poletop Switch (PTS) dan Poletop Load Break Switch (LBS)
5. Penutup Balik Otomatik (PBO) dan Saklar Semi Otomatik (SSO)
6. Automatic Voltage Regulator (AVR) dan Capasitor Voltage Regulator
(CVR)
320
6-3-1 Load Break Switch (LBS)
Swich pemutus beban (Load Break Switch, LBS) merupakan saklar
atau pemutus arus tiga fase untuk penempatan di luar ruas pada tiang
pancang, yang dikendalikan secara elektronis. Switch dengan penempatan
di atas tiang pancang ini dioptimalkan melalui control jarak jauh dan skema
otomatisasi. Swich pemutus beban juga merupakan sebuah sistem
penginterupsi hampa yang terisolasi oleh gas SF6 dalam sebuah tangki baja
anti karat dan disegel. Sistem kabelnya yang full-insulated dan sistem
pemasangan pada tiang pancang yang sederhana yang membuat proses
instalasi lebih cepat dengan biaya yang rendah. Sistem pengendalian
elektroniknya ditempatkan pada sebuah kotak pengendali yang terbuat dari
baja anti karat sehingga dapat digunakan dalam berbagai kondisi
lingkungan. Panel pengendali (user-friendly) dan tahan segala kondisi cuac.
Sistem monitoring dan pengendalian jarak jauh juga dapat ditambahkan
tanpa perlu menambahkan Remote Terminal Unit (RTU).
Pada umumnya versi-versi peralatan terdiri dari:
• Pole Top Load Break Switch
• Pole Top Control Cubicle
• Control & Protection Module
Dokumen-dokumen yang terkait antara lain:
• Window Switchgear Operating Sistem (WSOS)
• Tes and Training Set (TTS)
• Database Access Protocol (DAP)
• Specific Telemetry Protocol Implementations
• Panel Kontrol Jarak Jauh
• Workshop Field dan Test Procedures
• Prosedur Penggantian CAPM
Versi-Versi Peralatan mencakup Contact Close dari penerimaan
perintah tutup <1.2 sec dan Contact Open sejak diterimanya perintah buka
<1.2 sec. Tegangan Line Maksimum pada Swicthgear Ratings antara 12
atau 24kV dengan arus kontinyu 630 A RMS. Media Isolasi Gas SF6 dengan
tekanan operasional gas SF6 pada suhu 20 C adalah 200kPa Gauge.
Pengoperasian secara manual dapat dilakukan secara independent oleh
operator. Tekanan untuk mengoperasikan tuas Max 20 kg. Switch pemutus
beban dilengkapi dengan bushing boots elastomeric untuk ruang terbuka.
Boots tersebut dapat menampung kabel berisolasi dengan ukuran diameter
antara 16 – 32 mm dan akan menghasilkan sistem yang terisolir penuh.
Kabel pre-cut yang telah diberi terminal dapat digunakan langsung untuk
bushing switch Pemutus Beban dan telah memenuhi persyaratan yang
sesuai dengan peralatan tersebut. Namun demikian, untuk kabel, dapat
menggunakan yang telah disediakan oleh peralatan tersebut sepanjang
masih memenuhi spesifikasi yang ditentukan.
Saklar dan Pengaman
321
Kabel standar yang digunakan sebagai berikut:
Tabel 6-4. Kabel standar
Lug Size Stranding Material Rating
240 19/4.01 Aluminium 630
185 19/3.5 Aluminium 400
80 7/3.75 Aluminium 250
Konstruksi dan Operasi Load Break Switch dan Sectionaliser diuraikan
sebagai berikut. Load Break Swicth menggunakan puffer interrupter di
dalam sebuah tangki baja anti karat yang dilas penuh yang diisi dengan gas
SF6. Interrupter tersebut diletakkan secara berkelompok dan digerakkan
oleh mekanisme pegas. Ini dioperasikan baik secara manual maupun
dengan sebuah motor DC dalam kompartemen motor di bawah tangki.
Listrik motor berasal dari batere-batere 24V dalam ruang kontrol.
Transformer-transformer arus dipasang di dalam tangki dan dihubungkan ke
elemen-elemen elektronik untuk memberikan indikasi gangguan dan line
measurement. Terdapat bushing-bushing epoksi dengan transformer
tegangan kapasitif, ini terhubung ke elemen-elemen elektronik untuk
memberikan line sensing dan pengukuran. Elemen-elemen elektronik kontrol
terletak dalam ruang kontrol memiliki standar yang sama yang digunakan
untuk mengoperasikan swicthgear intelijen, yang dihubungkan ke swicthgear
dengan kabel kontrol yang dimasukkan ke Swicth Cable Entry Module
(SCEM) yang terletak di dalam kompartemen motor.
6-3-1-1 Fitur-fitur Swicthgear
Instalasi penting dan fitur-fitur operator dari load break swicth (Gambar
6-19), yang meliputi:
�� Mounting bracket yang cocok untuk pemasangan semua jenis kutup
daya. Mounting bracket ini dipasang ke kutup sebelum hoisting load
break switch.
�� Poin-poin pengangkatan to hoist Load Breaket Switch ke dalam posisi
untuk dikancing dengan baut ke bracket.
�� Hubungan tegangan tinggi dibuat dengan kabel berisolasi yang
diterminasi pada bushing-bushing epoksi. Kabel dan bushing-bushing
ditutup dengan boot elastomerik yang terisi dengan lemak silicon
utnuk menciptakan sistem isolasi.
�� Penangkal arus kejutan bisa dipasang pada lubang-lubang yang
tersedia atau pada kutub. Jika dipasang ditempat lain maka penangkal
arus dipasang pada tangki Load Break Switch.
�� Sebuah earth bolt M12 disediakan untuk meletakkan load break switch.
�� Jika terjadi internal arc fault, sebuah vent sisi kutup tangki load break
pecah untuk memberikan ventilasi bagi tekanan yang berlebihan. Ini
menghilangkan resiko ledakan atau lepas dari kutub daya dank arena
322
unit tersebut tidak berisi minyak, maka bahaya kebakaran bisa
dihindari.
�� Sebuah lengan operasi manual pada sisi yang paling lauh dari kutub
membiarkan operasi hoolstick dari tanah. Dengan menarik sisi lengan
yang tepat maka load break switch bisaditrip atau ditutup. Mekanisme
ini “tergantung pada operator: sehingga tidak ada masalah seberapa
cepat atau lambat lengan tersebut digerakkan oleh operator.
�� Indikator-indikator posisiload break switch disediakan di bagian bawah
dan pada lengan operasi.
�� Sebuah counter operasi-operasi mekanis bisa dilihat melalui jendela
pada bagian bawah kompartemen motor.
�� Kunci untuk mekanisme load break switch disediakan dengan menarik
turun gagang manual loack dengan sebuah hookstick. Saat terkunci
mekanisme tidak bisa trip atau close baik secara mekanisme atau
secara elektrik.
�� Status interloack mekanis low gas ditunjukkan pada sisi bawah load
break switch. Jika gas low maka sebuah penutup mengayun ke
samping untuk mengekspos tanda merah low gas warning.
Mekanisme juga dikunci secara mekanis sehingga tidak bisa trip atau
close.
Gambar 6-19. Detail Load Break Switch
Saklar dan Pengaman
323
6-3-1-2 Sensor Tekanan SF6.
Load break switch menggabungkan dua sensor tekanan yang
memonitor tekanan gas SF6. Satu sensor dimonitor oleh elemen-elemen
elektronik control dan digunakan untuk menampilkan tekanan gas panel
control operator. Jika tekanan gas jatuh di bawah ambang yang telah
diset maka indikasi rendah tekanan SF6 ditunjukkan pada panel kontrol
operator (SF6 Pressure Low) dan semua operasi elektrik dikunci
elektronik. Ambang untuk deteksi tekanan rendah dikompensasi dengan
suhu.
Sensor kedua bersifat mekanis dan mengunci semua operasi jika
tekanan gas hilang. Pemicuan interlock ini terindikasi ketika muncul
tanda tekanan rendah yang berwarna merah pada sisi bawah
kompartemen motor. Jika sudah dipicu interlock hanya bisa direset
dengan prosedur untuk pengisian ulang gas pada swicth. Interlock gas
ini hanya merupakan alat-alat pendukung. Operator harus selalu
memeriksa tampilan tekanan gas dalam ruang kontrol dan indikator
tekanan gas rendah sebelum operasi load break switch.
6-3-1-3 Memori Switchgear
SCEM di dalam kompartemen motor memiliki sebuah memori
elektronik untuk menyimpan informasi tentang unit tersebut. Informasi ini
meliputi nomor seri, breaking rating, continuous current rating, jumlah
operasi mekanis, jumlah operasi mekanis , tegangan terukur, dan sisa
umur kontak (per fasa) yang kesemuanya tersedia pada tampilan
operator. Yang perlu mendapat perhatian bahwa counter operasioperasi
mekanis pada bagian bawah load break switch bisa berada di
luar jalur ketika hitungan operasi disimpan dalam memori jika switch
dioperasikan secara manual tanpa koneksi dan power up ruang kontrol.
Demikian pula, umur kontak pada memori switchgear bisa tidak benar
jika operasi switching manual dilakukan tanpa ruang kontrol terhubung
dan di power up.
6-3-1-4 Umur Kontak
Puffer interrupter dalam load break switch memiliki rating tugas yang
diberikan pada Bagian 3. elemen-elemen elektronik kontrol mengukur
making/breaking current setiap saat load break switch beroperasi. Arus
terukur ini digunakan untuk menghitung jumlah pemakaian kontak yang
telah dialami setiap interrupter dan sisa umur kontakpun diupdate.
Sisa umur kontak disimpan dalam memori switchgear dan dapat
ditampilkan dalam ruang kontrol. Jika sisa umur kontak mencapai nol
pada fasa manapun maka load break switch harus diperbaharui.
Karena breaking current aktual diukur dan sebagian besar beban
benar-benar lebih rendah dari line current maksimum, maka metode
pemantauan ini diharapkan akan memberikan umur operasi yang lebih
panjang dari metode penghitung operasi sederhana.
324
6-3-1-5 Penyambung ke Kontak Kontrol
Load break switch dihubungkan ke ruang kontrol dengan sebuah
kabel kontrol. Kabel ini dimasukkan ke kompartemen motor pada bagian
bawah switchgear.
Kabel kontrol membawa hubungan-hubungan berikut ini :
�� Signal-signal operasi motor
�� Travel switches yang memantau posisi kontak-kontak (satu switch
yang menandakan close dan lainnya menandakan open) dan posisi
gas interlock/interlock mekanis.
�� Transformer-transformer arus dan layar-layar tegangan yang
dimasukkan dalam bushing-bushing yang mengirimkan signal ke
elemen-elemen elektronik untuk memonitor line current arus bumi
dan tegangan fasa/bumi. Jika kabel kontrol dilepas (pada salah satu
ujungnya) maka sigmal-sigmal ini secara otomatis dipersingkat oleh
elemen arus di dalam load break switch.
�� Signal-signal untuk membaca dan menulis memori switch.
6-3-1-6 Kontak Kontrol dan Panel Peralatan
Kontak control dirancang untuk tujuan pengoperasian untuk tiang
pancang di ruang terbuka. Kontak kontrol tersebut mempunyai jendela
ber-engsel yang dapat diakses oleh petugas operasional dalam segala
cuaca sebuah pintu masuk untuk staf pemeliharaan.
Baik pintu maupun jendela tersebut dapat digembok untuk demi
keamanan dan pintu bisa dipindahkan jika perlu. Gambar 6-20
menunjukkan dimensi ruang control. Di dalam cover terdapat sebuah
panel peralatan dengan ciri-ciri utama berikut.
• Ruang kabel-kabel menampung transformer-transformer kabel LV
dan sakelar pemutus untuk batere dan suplai Bantu.
• Ruang elemen-elemen elektronik menampung Modul Kontrol dan
Proteksi (CAPM) dan Sub-Sistem Panel Operator (OPS). Ruang ini
disegel untuk melindungi elemen-elemen elektronik dari polusi udara.
• Ruang batere menampung 2 batere 12 Volt.
• Slot untuk radio digunakan untuk menaikkan radio komunikasi,
modem atau kartu IOEX. Nampan ini tergantung ke bawah untuk
mengekpos radio/modem dan dapat dilepaskan untuk pemasangan
radio.modem.
• Modul Entri Kabel Kontrol menyediakan terminasi dan penyaringan
untuk kabel control, modul ini ditempatkan di belakang sebuah panel
yang dapat dipindahkan.
• Kabel control yang masuk dihubungkan ke P1 dari CCEM, alat
pemasang kabel N03-505 dihubungkan ke P2 dari CCEM.
Saklar dan Pengaman
325
• Kompartemen pemanas untuk pemanas ruang control.
Di tengah panel peralatan terdapat sebuah pipa karet untuk saluran
kabel yang menampung sistem kabel internal. Panel peralatan dapat
dipindahkan dengan melepaskan hubungan-hubungan eksternal dan
baut-baut ini bisa dilakukan di lapangan jika dianggap perlu untuk
mengganti keseluruhan panel peralatan. Demikian pula mungkin lebih
mudah untuk mengganti seluruh ruang control.
Panel peralatan diatur sedemikian sehingga komponen-komponen yang
sensitif terdapat panas, batere ditempatkan di bagian bawah dekat
tempat masuknya udara. Pada keadaan-keadaan tropis, pengaturan ini
menjamin batere dapat bertahan dalam beberapa derajat suhu
sekitar setiap saat dan dengan demikian memaksimalkan umur batere.
Di samping bagian yang paling menimbulkan panas, suplai listrik
ditempatkan di bagian atas ruang sehingga dapat meminimalkan
dampak pemanasan pada bagian-bagian lain.
6-3-1-7 Penyegelan dan Kondensasi
Semua lubang angin dipasang saringan untuk mencegah masuknya
binatang-binatang kecil dan pintunya disegel dengan pita busa yang
dapat diganti. Segel penuh terhadap air pada semua kondisi tidak
diharapkan, misalnya selama operasi pada waktu hujan dengan jendela
dalam keadaan terbuka. Oleh karena itu rancangannya dibuat
sedemikian rupa sehingga jika ada air yang masuk, air itu akan terus
mengalir ke bawah dan keluar tanpa mengganggu bagian-bagian elektrik
atau komponen-komponen elektronik. Keadaan ruang memiliki sistem
pemanas dan ventilasi yang baik sehingga menjamin tidak terjadinya
kelembaban. Penggunaan baja anti karat dan bahan-bahan tahan air
menjamin kelembaban yang terjadi tidak menimbulkan dampak yang
merusak.
Kondensasi dapat terjadi pada beberapa keadaan atmosfir seperti
badai tropis. Tetapi karena rancangan yang memiliki isolasi dan ventilasi
yang baik, kondensasi akan terjadi pada permukaan-permukaan logam
tanpa memberikan dampak yang berarti. Air akan keluar dengan lancar.
Kondensasi akan keluar ke bawah dan kering oleh karena ada sistem
ventilasi dan pemanasan.
6-3-1-8 Sumber Tenaga Tambahan
Supply tenaga tambahan digunakan oleh kotak control untuk
mempertahankan daya pada batere lead-acid yang telah disegel yang
digunakan untuk tenaga cadangan saat tenaga tambahan padam.
Tenaga tambahan berasal dari salah satu dari dua sumber berikut ini :
• Suplain LV disediakan oleh utility. Sehingga terhubung ke kotak
control. Dalam hal ini ruang control dipasang dengan sebuah
transformer yang cocok dan plat namanya menunjukkan tegangan
supply tambahan yang diperlukan.
326
• Supply kabel HV ke transformer tegangan (VT), dipasang pada kutub
dan dihubungkan ke dalam Swicth Cabel Entry Module (SCEM)
dalam kompartemen motor. Ini disebut HV supply. Dalam hal ini plat
rating pada transformer mengindikasikan rating tegangan.
• Bagian 6 memberikan rincian tentang earthing dan hubungan listrik
bantu.
6-3-1-10 Slot untuk memasukkan kabel
Semua kabel masuk ke ruang control melalui bagian bawah seperti
terlihat pada Gambar 6-22. Saluran masuk kabel disediakan untuk :
• Kabel control dari recloser yang disambungkan ke connector P1 di
dasar ruang batere.
• Satu atau dua mains supply yang di belakang panel peralatan. Dua
lubang 20 mm yang disediakan untuk entri kabel.
• Kabel komunikasi/antenna radio, lubang 16 mm disediakan untuk
entri kabel.
6-3-1-11 Tempat Injeksi Arus
Sebuah konektor enam arah yang disebut “Poin Injeksi Arus” terletak
pada kompartemen utama. Konektor ini digunakan dengan Test and
Training Set (TTS) untuk melakukan injeksi sekunder sementara
switchgear terhubung. Proses ini membuat injeksi peralatan tanpa
diskoneksi.
6-3-1-12 Indikator Gangguan
Indikator gangguan eksternal pilihan dapat dipasang pada bagian
atas kontrol atas ruang kontrol. Ini adalah xenon stobe yang akan
menyala jika elemen elektronik kontrol mendeteksi adanya gangguan
pada Load Break Switch.
Setelah suatu event Maximum Current diadakan (di mana
gangguan telah berakhir) arus-arus line dipantau selama satu detik. Jika
arus pada ketiga fasa jatuh ke nol selama waktu ini maka event Supply
Interrupt akan diadakan yang mengindikasikan pembukaan sebuah
pemutus arus hulu. Arus nol ditentukan sebagai ambang untuk tampil
pada panel kontrol operator.
Sebuah Supply Interruption Current ditambah setiap saat suatu
event Supply Interrupt terjadi. Current tersebut diset ke nol jika line-nya
bebas dari gangguan selama waktu reclaim yang dikonfigurasikan oleh
user (Reclaim Time 30s) sementara load break switch tertutup. Dengan
cara ini Supply Interruption Counter menghitung operasi pemutus arus
hulu (atau reclose) dalam suatu urutan gangguan. Nilai Supply
Interruption Counter ditunjukkan dalam event Supply Interrupt. Ketika
reclaim timer telah lewat waktu berlalu maka suatu event Reclaim
Expired akan diadakan.
Saklar dan Pengaman
327
Gambar 6-20. Ruang Kontak Kontrol Load break switch
Gambar 6-21. Panel Perlengkapan Load break switch
328
Jika arus jatuh ke nol hanya pada fasa yang mengalami gangguan
(mungkin karena operasi sekring) maka suatu event Phase Interrupt
diadakan hanya untuk fasa tersebut dan Supply Interruption Counter
tidak ditambah.
Elemen elektronik control memantau layar-layar tegangan yang ada
di dalam H.V bushings untuk menentukan apakah bushing-bushing
dalam keadaan hidup. Live line ditunjukkan pada tampilan real time
ketika tegangan fasa/tanah bushing melebihi ambang yang
dikonfigurasikan oleh user. Status live line digunakan untuk
membangkitkan event-event saat kehilangan supply.
Untuk menentukan apakah supplynya hidup, maka status live line
harus ditambah pada ke tiga bushing pada sisi line selama waktu yang
ditetapkan oleh user.
Event-event deteksi gangguan yang digambarkan di atas bisa
mengeset bendera-bendera deteksi dalam memori microprocesor
elektronik kontrol. Event-event ini digunakan untuk mengindikasikan
gangguan yang menggunakan indikator gangguan eksternal pilihan.
User bisa mengkonfigurasikan sistem sehingga bendera-bendera
diset hanya dengan event-event Supply Interrupt dan Phase Interrupt
(interrupted fault). Setting pertama ini akan mengindikasikan semua
gangguan. Setting kedua hanya akan mengindikasikan gangguangangguan
yang telah diinterupsi dengan suatu sekring hulu atau Circuit
Breaker. Bendera-bendera ini mungkin tersedia untuk telemetry pada
sebuah komputer pengawas jika didukung dengan protocol telemetry
yang dipasang dalam CAPM.
Load Break Switch dilengkapi dengan automatic sectionalising logic.
Sectionalising logic membuka Load Break Switch selama waktu matinya
circuit breaker hulu setelah trip dan recluse sebanyak jumlah yang
dikonfigurasikan oleh recluser. Waktu mati circuit breaker hulu harus
diset menjadi lebih besar dari 1,2 detik.
Keistimewaan sectionaliser bisa dimungkinkan atau tidak
dimungkinkan oleh operator dari panel kontrol operator. Sectionaliser
menggunakan supply Interruption Counter untuk menghitung trip dari
sebuah circuit breaker hulu selama suatu fault sequence. Ketika counter
tersebut mencapai nilai yang dikonfigurasikan user Load Break Switch.
Trip secara otomatis. Ini menimbulkan event sectionaliser trip.
6-3-2 Pemasangan, Pembongkaran dan Pengecekan
Masing-masing krat berisi:
• Load Break Switch dengan kutup bagian atas
• Ruang kontrol (yang biasanya menampung dua batrei kecuali telah
dibuat pengaturan dimana batrerenya dikirim secara terpisah)
• Kabel kontrol
Saklar dan Pengaman
329
• Enam cable tail baik dengan thereded lug untuk disekrup ke dalam
bushing secatra langsung atau dengan lug datar untuk dipasang
pada piringan yang telah terpasang pada bushing-bushing.
• Enam bushung boot, tabung lemak silikion dan spanner pemasang
boot
• Pole mounting bracket
• Penjepit untuk memasang switch ke pole mounting bracket
Alat-alat yang diperlukan pada pembongkaran:
• Obeng dan kunci pembuka mur 3/16 hex untuk membuka krat.
• Dua alat penahan dan derek dengan daya angkut 200 kg untuk
mengangkat saklar pemutus arus.
• Pindahan bagian atas krat dan keluarkan kabek-kabel HV, kabel
kontrol dan semua item di bagian atas krat. Simpan di tempat yang
bersih dan kering.
• Buka kayu-kayu penyangga, pasang alat penahan pada titik-titik
pengangkatan pada Load Break Switch dan keluarkan Load Break
Switch untuk diletakkan di atas tanah dengan menggunakan derek.
• Angkat ruang kontrol dan letakkan di tempat yang bersih.
• Keluarkan kotak-kotak aksesoris dan letakkan di tempat yang bersih
dan kering.
• Buka sekrup dan keluarkan mounting bracket dan letakkan di tanah.
6-3-2-1 Testing dan Konfigurasi
�� Uji coba dapat dilakukan di lokasi atau dibengkel sesuai dengan
keinginan.
�� Bongkar kratnya dan letakkan kabel-kabel HV dan kabel kontrol di
tempat yang bersih dan aman agar tidak rusak dan kotor. Buat
ground connection sementara antara ruang kontrol dan saklar
pemutus arus, yang hanya membutuhkan kabel tembaga 1mm2.
�� Pindahkan plat penutup akses pada ruang motor dan sambungkan
kabel kontrol ke P1 di Switch Cable Entry Module (SCEM).
�� Matikan listrik di kotak kontrol dengan mematikan seluruh
MCB.Harus diperhatikan bahwa hal ini harus dilakukan ketika
menyambungkan atau memutuskan kabel kontrol dari kotak kontrol.
Pindahkan penutup kotak kontrol dan masukkan kabel kontrol
tersebut dan sambungkan ke konektor P1 pada Control Cable Entry
Module (CCEM).
�� Jika ruang kontrol tidak dilengkapi untuk LV auxiliary supply (karena
sebuah suplai HV terpadu adalah untuk dihubungkan ke Load Break
Switch di lokasi ) maka bisa dibuat suplai bantu sementara dengan
menghubungkan suplai AC 24 V terpadu dan terisolasi atau DC 32
Volt 24 VAC atau 32 VDC antara terminal 2 dan 3 dari blok terminal
pada mains compartment. Batere 36 V terisolasi adalah cara yang
330
baik. Perhatikan bahwa ini terhubung langsung ke CAPM dan tidak
dapat dimatikan dengan pemutus arus ruang kontrol.
�� Hidupkan batere dan pemutus arus suplai bantu pada bagian atas
ruang kontrol dan lakukan uji coba berikut:
• Trip dan close manual dari saklar pemutus arus.
• Tes isulasi koneksi-koneksi tegangan tinggi ke bumi untuk mengecek
kerusakan-kerusakan pada saat pengiriman pada sisi tegangan dari
saklar pemutus arus.
• Mengkonfigurasi setting-setting proteksi.
• Lakukan injeksi arus primer sesuai persyaratan
• Lakukan injeksi arus sekunder sesuai persyaratan dengan
menggunakan tesk and training Set (TTS)
• Plat radio/modem dapat dilepaskan sekrupnya dan radio atau
modem dapat dipasang, dihubungkan dan dicoba sesuai peryaratan.
• Jika Load Break Switch telah disambungkan ke powered up cubicle
contor maka jangan mencabut atau mematikan ruang control
sebelum panel operator berhenti berkedip.
• Ikuti perintah perawatan batere yang diberikan dan perhatikan bahwa
memasang batere dengan reverse polarity akan menyebabkan
kerusakan pada sistem-sistem elektro elektronik.
• Mungkin untuk sementara ini lebih baik memasang cable tails dan
penangkal arus kejutan ke switchgear.
6-3-2-2 Pengangkutan ke Lokasi
Jika pembongkaran dan pengujian dilakukan di bengkel maka
pemutus arus dan ruang kontrol harus diangkut ke lokasi. Penting untuk
dilakukan langkah-langkah berikut ini:
• Matikan semua pemutusan ruang kontrol dan cabut semua supply
daya bantu. Cabut kabel kontrol dari pemutus arus dan ruang kontrol
dan letakkan kembali platpenutup pada bagian dasar pemutus arus.
• Pindahkan batere dari ruang kontrol untuk diangkat secara terpisah
atau amankan batere dalam ruang kontrol.
• Angkat saklar pemutus, ruang kontrol dan semua bagian dengan
cara yang baik dan aman.
6-3-2-3 Memasang dan Mencabut Kabel Kontrol
Perhatikan bahwa kabel kontrol tidak simetris, plat ujung dengan
sudut mitred terhubung ke switchgear dan dubutuhkan teknik yang
benar untuk menghubungkan dan melepaskan kabel kontrol. Lihat
Gambar 6-25 dan 6-26.
Saklar dan Pengaman
331
• Untuk menusuk kontak : pegang tusuk kontak pada sisi panjang, cek
orientasinya, letakkan dengan pelan-pelan soket/tampuk dan dorong
agak kuat. Cek apakah sudah terkuncicaranya yaitu dengan
menggoyang-goyang kontak itu. Jika kontaknya tidak bisa didorong
dengan kekuatan sedang maka posisinya belum benar. Tetapi
jangan dorong terlalu keras.
• Untuk mencabut kontak: pegang tusuk kontak pada sisi-sisi pendek
pegang dengan cengkeraman yang keras untuk melepaskan klip-klip
yang ada di dalam yang tidak terlihat. Kemudian digoyang-goyang
untuk melepaskan klip-klip tersebut kemudian cabet kontaknya
jangan mencabut kontak dengan menarik kabelnya.
6-3-3 Pengujian Load Break Switch
Kabel-kabel HV disupply dalam dua bentuk:
• Dilengkapi dengan lug untuk dipasang pada ujung bushing (250 atau
400A).
• Dilengkapi dengan theaded termination yang disekrupkan ke dalam
bushing (630A).Untuk kedua bentuk tersebut prosedurnya adalah
untuk memasang kabel pada bushing dan kemudian menutupnya
dengan bushing boot seperti yang digambarkan pada bagian-bagian
berikut (Lihat Gambar 6-27)
• Perhatikan bahwa isi silikon sangat penting karena menjamin baut
tersegel ke bushing dan tidak ada air yang masuk.
Gambar 6-22. Menghubungkan Kabel
332
Gambar 6-23. Melepaskan Kabel Kontrol
Gambar 6-24. Pengujian Load Break
Saklar dan Pengaman
333
• Bushing disuplai dalam keadaan bersih dan dilindungi dengan kap
busa. Pastikan tidak terjadi gangguan dan badan bushing konduktor
tengah berlapis timah atau palm dalam keadaan bersih dan tidak ada
kerusakan. Jika bushingnya kotor maka harus dibersihkan dengan
spirtus meyil. Sikat atau gosok dengan kertas pasir untuk
menghilangkan oksida.
• Beri pelumas ada bushing dan konduktor dengan lemak silikon yang
disediakan.
• Bongkar cable tail dan bushing boots. Pastikan bahwa terminai kabel
dan boot dalam keadaan bersih dan tidak ada kerusakan, jika perlu,
bersihkan dengan spirtus metal.
• Dorong bootnya lewat kabel sejauh kira-kira 1 meter dari termjinasi
(beri sedikit pelumas pada ujung boot agar boot bisa dengan mudah
didorong melalui kabel). Isi bushing boot dengan lemak silicon yang
disediakan, mulai dari ujung closed end sampai kira-kira 60 mm dari
ujung lainnya pen end dari boot tersebut. Saat anda mengisi boot
terus geser boot tersebut kebawah. Ini akan mendorong lemak ke
dalam boot.
• Untuk kabel-kabel dengan ujung spiral sekrup, masukkan ke dalam
bushing dengan memutar seluruh cable tail. Kencangkan sampai
70Nm dengan menggunakan spanner di seluruh locknut yang
terpasang. Hati-hati agar ini dilakukan dengan pelan-pelan.
• Untuk kabel-kabel yang mempunyai lug pada ujungnya. Gorokkan
pasta pesekat aluminium dan pasang lug itu pada bushing palm
dengan baut yang tersedia dan kencangkan sampai 60Nm. boot
kebawah sambil memutar-mutarkan bootnya. Pasang pada
tempatnya dengan menggunakan cincin penjepit dan spanner yang
tersedia. Dasar boot harus benar-benar duduk di atas tangki saklar
pemutus. Selama proses pengepitan akan silikon akan keluar dari
bagian atas boot tempat ujung kabel keluar. Ini hal yang biasa dan
bisa dibantu dengan memasukkan obeng kecil ke dalam boot di
sepanjang ujung kabel (cable tail). Lemak silikon juga akan keluar
dari saklar dasar bushing. Ini hal yang biasa. Lap lemak silikon yang
keluar itu dengan kain bersih. Perhatikan bahwa anda harus
mendorong boot dengan keras agar boot bisa turun cukup jauh agar
bisa terpasang dengan baik pada cincin penjepit.
• Lumasi permukaan bushing, geser bushing Pada cuaca dingin anda
harus mendorong sangat keras. Pemasangan boot ini paling baik
dikerjakan oleh dua orang, satu orang mendorong dan lainnya
memasang dan memutar cincin penjepit.
6-3-4 Pemasangan dan Penyambungan Surge Arrester
Tersedia penyangga-penyangga untuk penangkal arus kejutan pada
kaki-kaki Load Break Switch.
334
Hubungan-hubungan dari penangkal arus kejutan ke cable tail bisa
dibuat dengan mengupas isolasi cable tail dan menggunakan klem paralel
atau tipe T untuk membuat koneksi ke cable tail. Cable tail memiliki
pelindung terhadap air sehingga tidak diperlukan penahan air tambahan di
mana isolasinya telah dibuka. Tetapi baik juga untuk membalut dengan pita
pada sambungan untuk menjaga isolasi sistem kabel.
Gambar 6-25. Terminal TeganganTinggi
Gambar 6-26. Sambungan Suplai Tegangan Rendah
Saklar dan Pengaman
335
6-3-5 Pentanahan
Gambar 6-28 Menunjukkan pentanahan yang umum bagi semua
instalasi. Sistem ini menghubungkan Load Break Switch dan penangkal
arus secara langsung ke tanah melalui main earth bond yang terdiri dari
sebuah konduktor tembaga paling kurang 70mm² kejutan-kejutan apapun
akan mengalirmelalui saluran ini. Jangan menghubungkan penangkal arus
kejutan dengan saluran yang berbeda, karena jika hal tersebut dilakukan
akan mengakibatkan kerusakan pada elemen-elemen elektronik kontrol atau
saklar pemutus arus.
Juga antena manapun harus dihubungkan ke saklar pemutus arus
atau earth bond utama.
Ruang kontrol dihubungkan ke main earth bond dengan sebuah teeoff.
Elemen-elemen elektronik ruang control terlindung secara internal dari
perbedaan-perbedaan [potensial yang bisa terjadi antara
kerangka saklar pemutus arus dan kerangka ruang control
sementara arus-arus kejutan mengalir turun melalui main earth bond.
Tidak diijinkan adanya koneksi-koneksi laun untuk menghubung-kan
dari ruang control karena arus-arus kejutan juga akan melangalir melalui
saluran-saluran itu. Pengaturan ini harus diikuti konduksi dan insulasi kutubkutub
listrik.
Gambar 6-27. Sambungan Kabel Ujung
336
Main earth bond harus dipisahkan secara fisik dari kabel karena di
sepanjang kutub listrik tersedia space yang maksimal. Ukurannya adalah
200 mm untuk kayu dan kutub konkrit dan 100 mm untuk kutub baja.
6-3-6 Listrik LV tambahan dari Saluran Utama
Dimana LV mains dihubungkan ke ruang kontrol untuk menyediakan
listrik bantu maka hubungan tersebut harus menghubungkan sisi netral dari
sistem LV ke sebuah tee-off dari main earth bond seperti ditunjukkan pada
Gambar 6.32. Sebuah penangkal arus kejutan LV juga harus dipasang dari
koneksi fasa LV ke tee-off ini.
Rancangan koneksi ini menghubungkan LV dan HV earth sehingga
melindungi insulasi utama dari transformer supply bantu dalam ruang kontrol
saat arus-arus kejutan sedang mengalir. Penangkal arus kejutan LV
tambahan harus dipasang pada semua fasa LV lainnya (jika ada) untuk
keseimbangan supply untuk pengguna lain yang terhubung ke sistem LV.
Jika kondisi lokal atau aturan sistem kabel melarang bonding sistem-sistem
LV dan HV dengan cara ini maka supply bantu ke ruang kontrol dari LV
mains sistem tidak mungkin ada. Maka harus digunakan salah satu
pengaturan alternatif yang dijelaskan di bawah ini.
Gambar 6-29 menunjukkan koneksi-koneksi jika transformer
resmi disupply oleh utility. Gambar 6-29 juga menunjukkan bahwa
transformator dan peralatan baja apapun dihubungkan ke tangki saklar
peralatan di dalam ruang control.
Transformer tegangan tersedia baik di dalam atau diluar tangki
saklar pemutus arus yang secara langsung terhubung ke dalam elemen-
Gambar 6-28. Suplai Tegangan Rendah dan Terminal Grounding
Saklar dan Pengaman
337
Gambar 6-29 Gabungan Kabel supplai dari Terminal Trafo
elemen elektronik kontrol. Ini disebut Integrated auxiliary Supply. Koneksikoneksi
ditunjukkan Gambar 6.29.
Transformer naik pada kutub daya dan terhubung ke dalam SCEM di
dalam kompertemen motor dan Load Break Switch. Untuk menghubungkan
sekunder transformer, plat akses dan salah satu blanking plug 20mm
SCEM di pindahkan. Saluran kabel yang terpasang sebelumnya dengan
sebuah cable gland melalui lubang dan amankan gland tersebut.
6-3-7 Perawatan
Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat-alat mekanis
dan teknisi listrik standar. Tidak diperlukan perawatan user terhadap
mekanisme Switch pemutus beban. Switch pemutus beban harus
diperbaharui jika tugas mekanik dan tugas pemutusan sudah melewati
batasnya.
Setiap lima tahun bushing boot harus dicek, bila perlu dibersihkan
dan pointer dan tuas juga dicek untuk memastikan perangkat tersebut bebas
dari ganguan mekanis. Didaerah-daerah yang memiliki tingkat polusi
lingkungan yang tinggi perlu dilakukan pembersihan yang lebih sering. Cek
gas low alarm secara rutin agar tidak muncul pada panel kontrol operator.
Jika terlihat gas low, maka isi kembali SF6 dengan menggunakan adaptor isi
gas. Perawatan kotak pengendali diperlukan paling tidak setiap lima tahun.
Memberisihkan ruang kontrol, khususnya atapnya dan bersihkan. Lubanglubang
jendela pada ruang kontrol harus dipastikan tidak tersumbat dan juga
lubang-lubang pedingin dan saluran air di bagian dasar dalam keadaan
terbuka. Saat tutupnya dipindahkan, pastikan bahwa kasa penahan
338
sarangan tidak terganggu oleh kotoran atau debu. Penggantian batere
adalah sebagai berikut:
• Matikan pemutus arus batere
• Cabut batere-batere dan gantikan dengan batere yang baru. Pastikan
bahwa polaritasnya benar
• Hidupkansaklar pemutus arus batere dan pastikan bahwa status
Battery Normal tersimpan pada tampilan status sistem.
Pengecekan deteksi gangguan dan sectionaliser dilakukan sebagai
berikut. Bypass dan isolasikan Load Break Switch dan lakukan uji injeksi
primer untuk mencek fault detect dan operasi sectionaliser. Karet seal pintu
juga perlu dicek apakah ada kerusakan atau pengerasan. Jika perlu ganti
dengan segel yang baru. Batere diperkirakan akan memberikan penampilan
yang baik selama periode lima tahun. Di beberapa lingkungan, suhu ruang
kontrol yang terlampau tinggi bisa mengakibatkan periode penggantian
batere yang lebih singkat. Jika telah digunakan, maka hanya sedikit
perawatan yang diperlukan untuk batere. Prosedur penyimpanan dan
kemungkinan-kemungkinan lainnya adalah sebagai berikut:
• Batere harus disimpan pada suhu kurang dari 30ºC dan disiklus
setiap enam bulan.Batere harus disimpan paling lama 1 tahun
• Batere harus diganti sebelum digunakan jika belum disiklus selama
tiga bulan.
• Jika batere telah habis tegangannya dan dibiarkan lebih dari dua
mjinggu tanpa diberi supply bantu ke ruang kontrol maka batere
harus dikeluarkan, disiklus dan cek kapasitasnya sebelum digunakan
kembali.
Untuk mensiklus batere discharge dengan rasistor 10 Ohm 115 Watt ke
tegangan terminal 10V. Kemudian, isi kembali dengan supply DC
pengaturan tegangan yang diset ke 13,8V, supply terbatas arus 3A akan
tepat sekali.
6-3-8 Pengisian Kembali Gas SF6 untuk Switch Pemutus Beban
Pengisian ulang SF6
6
pemutus arus dilakukan dengan menggunakan
Gas Fill Adaptor (GFA) dan sebuah silinder SF6 ukuran D standar. Prosedur
pengisian ulang adalah sebagai berikut:
• Pindahkan kap dari katup isi gas pada sisi katub Load Break Switch
• Hubungkan adaptor isi gas ke silinder SF6 buka pelan-pelan katup
pada silinder untuk mengalirkan gas ke dalam selang. Tutup katup
pada silinder SF6 .
• Dorong cincin pada katup isi gas dan colokkan pasangan selang
adaptor isi gas. Tekanan gas Load Break Switch sekarang akan
terlihat pada pengukuran tekanan.
• Buka katupnya pada bagian ukuran untuk melepaskan gas ke dalam
saklar pemutus arus. Operasi ini akan dilakukan perlahan-lahan dan
Anda harus berhati-hati agar tekanan pada saklar pemutus tidak
Saklar dan Pengaman
339
terlampau tinggi. Katup pelepasan dipasang pada adaptor isi gas
untuk tujuan keamanan, namun tidak menjamin tidak melindungi
saklar pemutus dari tekanan tinggi. Jika kelebihan gas dmasukkan
dalam saklar pemutus maka dapat dikeluarkan dengan memutuskan
hubungan adaptor isi gas dari silinder gas.
• Isi ulang Load Break Switch sampai pada tekanan di bawah 200kPa
pada pengukuran (gauge) terkoreksi oleh +/- 1kPa untuk setiap
derajat Celsius di atas/di bawah 20ºC.
• Cabut katup selang isi gas dengan medorong cincin pada katuip isi
gas.
• Pindahkan cincin ’O’ lama dari katup isi gas dan buang. Bersihkan
tempat peletakan cincin ’O’ pada katup isi gas dan kap dengan kain
bersih. Kencangkan kembali kapnya.
6-3-4-5 Pencarian Gangguan
Gangguan hanya bisa terjadi pada salah satu di antara:
• Saklar pemutus beban
• Kabel Kontrol
• Ruang Kontrol
Cara terbaik untuk menentukan bagian mana yang mengalami
gangguan adalah dengan menggunakan Tesk and Trainig Set. Jika tidak
tersedia Test and Training Set maka gunakan switchgear chec seperti yang
disarankan di bawah ini dan gunakan teknik-teknik substitusi untuk
menentukan dimana letak gangguan. Load Break Switch yang mengalami
gangguan bisa dikembalikan ke pabrik untuk diperbaiki.
Kabel-kabel kontrol yang mengalami gangguan harus diganti. Ruang
kontrol yang mengalami gangguan bisa dicek dan diperbaiki seperti petunjuk
di bwah ini.
6-3-4-6 Pemeliharaan Switchgear dan Kabel Kontrol
Hubungan-hubungan ke Load Break Switch tersedia pada SCEM
dalam kompartemen motor dan/atau di atas konektor kabel kontrol yang
masuk P1 pada Control cable Entry Module (CCEM) bagian bawah ruang
kontrol. Beberapa (tetapi tidak semua) koneksi ini secara sederhana bisa
diuji dengan DVM. Ini bisa menunjukkan gangguan-gangguan Load Break
Switch dengan uji yang sederhana.
Tabel di bawah ini bisa digunakan untuk mengecek swirchgear dan
kabel kontrol. Uji ini harus dilakukan dengan kabel kontrol yang tersambung
ke dalam switchgear dan ujung ruang kontrol tidak tersambung.
6-4 Pengaman
Jaringan distribusi berfungsi menyalurkan tenaga listrik dari pusat
beban ke pihak pelanggan melalui jaringan listrik tegangan menengah dan
tegangan rendah. Karena fungsinya tersebut maka keandalan menjadi faktor
sangat penting, untuk itu jaringan distribusi dilengkapi dengan pengaman.
340
Ada tiga fungsi sistem pengaman, yaitu untuk: (i) mencegah atau
membatasi kerusakan pada jaringan beserta peralatannya, (ii) menjaga
keselamatan umum akibat gangguan listrik, dan (iii) meningkatkan
kelangsungan atau kontinyuitas pelayanan kepada pelanggan.
Sistem pengaman yang baik harus mampu: (a) melakukan
koordinasi dengan sistem TT (GI/transmisi/pembangkit), (b) mengamankan
peralatan dari kerusakan dan gangguan, (c) membatasi kemungkinan
terjadinya kecelakaan, (d) secepatnya dapat membebaskan pemadaman
karena gangguan, (e) membatasi daerah yang mengalami pemadaman, dan
(f) mengurangi frekuensi pemutusan tetap (permanen) karena gangguan. Di
samping itu, setiap sistem atau alat pengaman harus mempunyai kepekaan,
kecermatan dan kecepatan bereaksi yang baik.
Tabel 6-5.Panduan Pengujian Switchgear
Pin Tes Penggunaan Hasil Yang diharapkan
1-ve to
5+ve Resistance Motor Relay
10 to 15 kOhm (expect a
long delay when taking this
measurement because of a
parallel capacitor)
2 to 5 DC Voltage
Integrated
auxiliary supply
tranformer (if
fitted). This has
been rectified
internally so a
DC full wave
rectified signal is
present
25 to 45 VDC measured
with a true RMS meter when
the transformer primary is
energized.
3 to 5 Resistance Motor Relay
10 to 15 kOhm (expect a
long delay when taking this
measurement because of a
parallel capacitor)
4 to 8 Resistance W phase CT 13 Ohm+/-3 Ohm
12 to 16 Resistance V phase CT 13 Ohm+/-3 Ohm
20 to 24 Resistance U phase CT 13 Ohm+/-3 Ohm
21 to 11 Resistance Auxilliary
<5 Ohm when breaker is
tripped
>100kOhm when circuit
breaker is closed
22 to 11 Resistance
Auxilliary travel
switch closed
indicates circuit
breaker is closed
<5 Ohm when circuit breaker
is cloded
>100kOhm when circuit
breaker is tripped
6-4-1 Kepekaan (sensitivitas)
Suatu pengaman bertugas mengamankan suatu alat atau bagian
tertentu dari sistem tenaga listrik, alat atau bagian sistem yang termasuk
dalam jangkauan pengamanannya atau merupakan ‘daerah pengamanan’.
Salah satu tugas suatu pengaman adalah mendeteksi adanya gangguan
yang terjadi pada daerah pengamanannya dan harus memiliki kepekaan
Saklar dan Pengaman
341
untuk mendeteksi gangguan tersebut dengan rangsangan minimum, dan
bila perlu men-trip-kan pemutus tenaga (pelebur) untuk memisahkan bagian
sistem yang terganggu dengan bagian sistem yang sehat.
6-4-2 Kecermatan (Selektivitas)
Selektivitas dari pengaman adalah suatu kualitas kecermatan pemilihan
dalam mengadakan pengaman bagian yang terbuka dari suatu sistem, oleh
karena terjadinya gangguan sekecil mungkin jika dapat tercapai maka
pengaman demikian disebut pengaman yang selektif.
Pengaman hanya akan bekerja selama kondisi tidak normal atau
gangguan yang terjadi di daerah pengamanannya dan tidak akan bekerja
pada kondisi normal atau pada keadaan gangguan yang terjadi di luar
daerah pengamannya. Gambar 6.30 memperlihatkan bahwa daerah-daerah
yang berdekatan selalu saling menutupi bagian (overlap) hal ini memang
perlu, karena jika tidak maka ada daerah yang dibiarkan tanpa pengaman
atau disebut juga daerah mati (dead zone) jika terjadi gangguan di daerah
overlap ini, maka mungkin kedua pengaman dari daerah bersangkutan
sama-sama bekerja.
Kadang-kadang daerah pengamanan suatu pengaman sengaja
dibuat overlap dengan daerah pengaman seksi berikutnya, dengan maksud
untuk memberi pengaman cadangan pada seksi berikutnya. Jadi daerah
sendiri pengaman ini bertugas sebagai pengaman utama, sedangkan di
seksi berikutnya bertugas sebagai pengaman cadangan dan untuk
mendapatkan selektivitas maka pengaman diberi penundaan waktu (time
delay). Jadi selektivitas dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu:
1. Pembagian atas daerah-daerah pengaman
2. Koordinasi denganpeningkatan waktu (time grading).
6-4-3 Keandalan (reliability)
Dalam keadaan normal pengaman tidak bekerja selama berbulanbulan
atau bahkan bertahun-tahun suatu pengaman tidak perlu bekerja,
tetapi pengaman bila diperlukan harus dan pasti bekerja, sebab jika gagal
bekerja dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah pada peralatan
yang diamankan, atau mengakibatkan bekerjanya pengaman lain, sehingga
daerah itu mengalami pemadaman yang lebih luas (black out). Pengaman
Gambar 6-30. Daerah pengamanan gangguan
342
itu tidak boleh salah kerja (mistrip), sebab dapat mengakibatkan pemutusanpemutusan
yang tidak perlu dan pemadaman yang tidak semestinya.
Susunan alat-alat pengaman itu harus dapat diandalkan, baik
pengaman itu sendiri maupun alat-alat lainnya serta hubunganhubungannya.
Keandalan pengaman tergantung kepada desain, pengerjaan
(workman ship) dan perawatannya. Untuk beberapa pengaman tidak harus
bekerja, tetapi harus pasti dapat bekerja bila sewaktu-waktu diperlukan.
Oleh karena itu, pengujian secara periodik perlu sekali dilakukan khususnya
rele+PMT. Hal ini dimaksudkan untuk:
1. Mengetahui apakah pengaman masih dapat bekerja sebagaimana
mestinya
2. Mengetahui penyimpangan-penyimpangan karakteristik yang
selanjutnya untuk mengadakan koreksi penyetelan
3. Membandingkan hasil-hasil pengujian sebelumnya, agar diketahui
proses memburuknya rele pengaman alat bantunya sehingga dapat
direncanakan perbaikan dan penggantinya.
Hasil pengujian periodik dan catatan bekerjanya rele sebagai akibat
gangguan sangat bermanfaat untuk mengadakan evaluasi dan analisa
pengaman pada sistem tenaga listrik.
6-4-4 Kecepatan bereaksi
Makin cepat pengaman bekerja, tidak hanya dapat memperkecil
kerusakan akibat gangguan, tetapi juga dapat memperkecil kemungkinan
meluasnya akibat-akibat yang timbul oleh gangguan. Oleh karena itu, pada
umumnya dikehendaki waktu kerja pengaman yang secepat mungkin.
Ada kalanya demi untuk terciptanya selektivitas dikehendaki adanya
penundaan waktu (time delay), tetapi secara keseluruhan tetap dikehendaki
penundaan waktu itu secepat mungkin. Di samping itu, harus diteliti pula
apakah penundaan waktu itu tidak membahayakan bagian yang terganggu
dan peralatan yang dilalui gangguan. Jika membahayakan, maka harus
dicari jenis pengaman yang lain yang dapat memberi selektivitas yang baik
dengan waktu yang lebih cepat.
6-4-5 Pentanahan Tegangan Menengah
Menurut fungsi pentanahan, sistem pentanahan dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu (a) pentanahan sistem (pentanahan netral) dan (b)
pentanahan umum (pentanahan peralatan). Pentanahan sistem berfungsi
untuk: (1) peralatan/saluran dari bahaya kerusakan yang diakibatkan
gangguan fasa ke tanah, (2) peralatan/saluran dari bahaya kerusakan yang
diakibatkan tegangan lebih, (3) makhluk hidup terhadap tegangan langkah
(step voltage), serta untuk kebutuhan proteksi jaringan.
Sedangkan pentanahan umum berfungsi untuk melindungi: (1) makhluk
hidup terhadap tegangan sentuh dan (2) peralatan dari tegangan lebih.
Dengan pentanahan tersebut diperoleh arus gangguan tanah yang
besarnya bergantung pada impedansi pentanahan sedemikian rupa
Saklar dan Pengaman
343
sehingga alat-alat pengaman dapat bekerja selektif tetapi tidak merusak
peralatan di titik gangguan.
Bagian yang diketanahkan adalah titik netral sisi TM trafo
utama/gardu induk (pentanahan bertahanan) dan kawat netral sepanjang
jaringan TM (pentanahan langsung).
Ada tiga macam pentanahan pada JTM, yaitu
a) Pentanahan netral dengan tahanan tinggi
Pentanahan dengan tahanan tinggi dimaksudkan untuk memperoleh
hasil optimum dengan mengutamakan keselamatan umum sehingga lebih
layak memasuki daerah perkotaan dengan SUTM. Untuk jaringan 3 fasa
hubungan bintang dengan kawat tahanan pentanahan 500 Ohm (pola I) di
pasang titik netral sisi TM trafo utama,
(6-11)
maka besar arus gangguan yang dijinkan adalah:
Ikt = 25 ampere
di mana:
Xico = Reaktansi kapasitif urutan nol dari jaringan
Ikt = Arus kawat tanah
Terjadinya busur listrik masih tetap dapat dicegah. Karena besar
arus tanah lebih sangat kecil maka kerusakan peralatan pada titik gangguan
sangat berkurang (hampir tidak ada). Bila diinginkan pelayanan dapat
dipertahankan sekalipun masih ada gangguan tanah menjadi keuntungan
yang diperoleh pada sistem yang tidak ditanahkan. Tetapi pada umumnya
pada sistem tegangan di atas 13,2 kV, operasi yang demikian tidak
diperbolehkan, dengan demikian pengaman harus dilengkapi dengan rute
arus tanah.
b) Pentanahan netral dengan tahanan rendah
Pentanahan dengan tahanan rendah dimaksudkan untuk
memperoleh hasil optimum dari kombinasi antara faktor ekonomi,
keselamatan umum dan yang layak untuk mempergunakan SUTM bagi
daerah luar kota maupun SKTM bagi daerah padat dalam kota. Sistem
pentanahan dengan tahanan rendah digunakan untuk jaringan hubungan
bintang fasa tiga kawat. Sistem pentanahan ini dapat mencegah terjadinya
busur listrik yang menimbulkan tegangan lebih peralihan yang besar.
Tahanan pentanahan di titik netral sisi TM trafo utama adalah 12 Ohm untuk
SKTM, 40 Ohm untuk SUTM atau campuran SKTM dan SUTM.
Ik-t = (0,10 s/d 0,25) x I3φ (6-12)
dengan ketentuan:
• Ik-t < 1000 untuk RN= 12 Ohm
• Ik-t < 300 untuk RN = 40 Ohm
• I3φ = arus gangguan tiga fasa
3
RN = Xico
344
Karena besar arus gangguan dibatasi, maka kerusakan peralatan
pada titik gangguan dikurangi, sedangkan selektivitas dari rele arus lebih
masih terjamin. Karena tagangan pada fasa-fasa sehat dibatasi di bawah
tegangana jala-jala, dimungkinkan menggunakan peralatan dengan isolasi
dasar yang dikurangi, demikian juga angka pengenal (rating) arester dapat
dikurangi.
c) Pentanahan netral dengan pentanahan langsung
Pentanahan secara langsung (tanpa tahanan) dimaksudkan untuk
memperoleh hasil optimum dengan mengutamakan ekonomi sehingga
denga SUTM layak dipakai di daerah luar kota sampai daerah terpencil.
Untuk jaringan hubung bintang tiga fasa empat kawat (multi grounded) di
pasang sepanjang jaringan. Biasanya tahanan elektroda dari bumi ke tanah
di setiap titik pentanahan di batasi maksimum 5 Ohm, sedangkan arus
gangguan ke tanah tidak dibatasi.
6-4-6 Hubungan Sistem Pentanahan dan Pola Arus Pengaman Lebih
6-4-6-1 Hubungan Sistem Pentanahan Tahanan Tinggi dan Pola Arus
Pengaman Lebih
Sistem pentanahan ini lebih kebal terhadap gangguan yang bersifat
sementara. Mengingat kecilnya arus gangguan tanah (<25 A) pengamanan
hanya dengan rele arus lebih normal tidak dapat digunakan lagi dan arus
dilengkapi dengan relai gangguan tanah terarah yang lebih rumit dan mahal.
Demikian pula selektivitas (diskriminasi) hanya dilakukan dengan waktu
(khususnya gangguan fasa tanah).
Pengamanan PBO-2 (Penutup Balik Otomatis, Automatic Circuit
Recloser) di sisi hilir tidak dapat dilakukan.
Saklar Seksi Otomatis (SSO) yang dapat dipergunakan pada sistem
ini harus jenis pengindera tegangan dan koordinasinya dilakukan dengan
penyetelan waktu, SSO dengan pengindera arus tidak dapat digunakan.
Alat pengaman fasa tunggal tidak dapat digunakan untuk
mengamankan gangguan satu fasa ke tanah karena arus gangguannya
kecil.
6-4-6-2 Hubungan Sistem Pentanahan Tahanan Rendah dan Pola Arus
Pengaman Lebih
Arus gangguan fasa tanah pada sistem ini tidak terlalu besar
(maksimum 1000 A untuk sistem SKTM dan 300A untuk SUTM) sehingga
gangguan pada lingkungan akibat arus tanah (step voltage dan gangguan
pada jaringan telekomunikasi) berkurang (dibatasi). Demikian pula
penggunaan peralatan (PMT dan penghantar) dapat diplih yang lebih ringan
dan ekonomis.
Mengingat adanya tahanan netral, maka arus gangguan tanah
hasilnya kecil sehingga tidak efektif bagi penggunaan relai arus lebih
dengan karakteristik waktu arus terbalik (invers), sebaliknya dapat
dipergunakan relai dengan karakteristik waktu tetap yang lebih selektif dan
mudah penyetelannya.
Saklar dan Pengaman
345
PBO yang dipakai harus dari relai dengan pengatur elektronik untuk
mendapatkan karakteristik waktu tetap bagi gangguan fasa tanah. Demikian
pula SSO perlu dilengkapi dengan pengindera arus fasa tanah yang rendah.
Alat pengaman fasa tunggal tidak dapat dipergunakan untuk
mengamankan gangguan satu fasa tunggal karena arus kapasitif (terutama
SKTM) perlu diperhitungkan.
6-4-6-3 Hubungan Sistem Pentanahan Langsung dan Pola Arus
Pengaman Lebih
Dengan tidak adanya tahanan netral maka rus hubung tanah
menjadi relatif sangat besar dan berbanding terbalik dengan letak gangguan
tanah sehingga perlu dan dapat dipergunakan alat pengaman PMT + rele
(berpengaman sendiri/LsP) yang dapat bekerja cepat dan dapat
memanfaatkan alat pengindera dengan karakteristik waktu terbalik (inverstime)
dengan sebaik-baiknya.
Karena gangguan arus fasa tanah besar, maka dapat dilakukan
koordinasi antara PMT-relai arus lebih atau PBO dengan fuse atau antara
PBO dengan SSO secara baik sekali.
Dengan didasarkannya sistem ini pada tiga fasa empat kawat, fasanetral,
maka peralatan pengaman fasa tunggal yang lebih selektif (PBO,
SSO dan fuse dapat dimanfaatkan).
Karena arus gangguan fasa tanah besar dan kejadian gangguan
fasa tanah relatif banyak dan PBO relatif sering bekerja, maka peralatan
kemampuan (PMT, PBO dan lain-lain) harus disesuaikan dengan besarnya
arus gangguan dan frekuensi buka tutup PBO (misalnya tidak menggunakan
PMT berisi minyak minimum).
6-4-7 Sistem-Sistem yang Tidak Simetris
Seperti diuraikan di atas, sistem-sistem ini pada dasarnya tidak
simetris karena mengandung bagian-bagian yang tidak simetris, misalnya
saluran yang tidak di transposisi. Jadi sistem ini pada kerja normal tidak
simetris.
Besarnya arus lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain:
a) Tegangan (volt).
Tegangan pada saat terjadi gangguan meningkat makin besar sehingga
menyebabkan arus yang timbul makin besar pula.
b) Impedansi (ohm)
Impedansi ini dipengaruhi oleh nilai impedansi trafo, impedansi saluran,
impedansi titik gangguan dan jarak gangguan dari terminal sumber/trafo
yang makin jauh menyebabkan impedansi saluran makin besar pula.
c) Jenis gangguan
Jenis gangguan penyeyab timbulnya arus lebih mempengaruhi impedansi
tiap alat dan saluran serta rangkaian ekuivalen sistem saat gangguan.
Misalnya, arus gangguan atau arus lebih karena gangguan hubung
singkat fasa-fasa lebih kecil dari arus gangguan tiga-fasa. Rangkaian
346
ekievalen sistem saat terjadinya gangguan sehingga mempengaruhi
impedansi ekuivalen sistem saat terjadi gangguan.
d) Tahanan pentanahan
Nilai tahanan pentanahan mempengaruhi impedansi sistem, semakin
kecil tahanan pentanahan semakin besar arus lebih atau sebaliknya.
e) Saat mulai gangguan
Jika gangguan mulai saat gelombang tegangan melampaui puncak,
maka arus lebih mencapai maksimum.
f) Perbandingan X/R dan faktor daya
Jika rasio X/R naik (besar dan faktor daya menurun) maka arus lebih
asimetri akan naik dan sebaliknya.
6-4-8 Pengaman Terhadap Arus Lebih TM
Arus lebih adalah arus yang timbul karena terjadinya gangguan/
hubungan singkat pada sistem/peralatan yang diamankan. Beban lebih
adalah beban/arus yang melebihi nilai nominalnya, yang untuk waktu
tertentu dapat ditolerir adanya untuk kepentingan pengusahaan, yang besar
dan waktunya dibatasi oleh kemampuan alat/sistem JTM untuk
menahannya. Arus lebih timbul disebabkan oleh hubungan singkat antara
fasa dan atau antara fasa dengan tanah/netral. Hubungan singkat ini dapat
terjadi karena terjadinya gangguan.
Pada SKTM, gangguan yang berasal dari dalam dapat disebabkan
pemasangan yang kurang baik, penuaan, dan beban lebih. Sedangkan
gangguan dari luar berupa misalnya gangguan-gangguan mekanis karena
pekerjaan galian saluran lain, kendaraan-kendaraan yang melewati di
atasnya, dan deformasi tanah. Gangguan pada SKTM umumnya bersifat
permanen. Pada SUTM, sebagian besar gangguan disebabkan pengaruh
dari luar yaitu angin dan pohon, kegagalan pengaman tegangan lebih/petir,
kegagalan atau kerusakan peralatan dan saluran (misalnya peralatan yang
dipasang kurang baik, kawat putus pada konektor/lepas, dan sebagainya),
manusia, hujan dan cuaca, binatang atau benda-benda asing (misalnya
benang layang-layang dari bahan non isolasi, ular dan sebagainya).
kegagalan atau kerusakan peralatan dan saluran (misalnya peralatan yang
dipasang kurang baik, kawat putus pada konektor/lepas, dan sebagainya),
manusia, hujan dan cuaca, binatang atau benda-benda asing (misalnya
benang layang-layang dari bahan non isolasi, ular dan sebagainya).
Gangguan pada SUTM dapat dibagi dua, yaitu:
1. Gangguan sementara yang dapat hilang dengan sendirinya atau dengan
memutuskan sementara bagian yang terganggu dari sumber
tegangannya. Gangguan sementara jika tidak dapat hilang dengan
segera, baik hilang dengan sendirinya maupun karena bekerjanya alat
pengaman (PBO) dapat berubah menjadi gangguan permanen (tetap)
dan menyebabkan pemutusan tetap.
2. Gangguan permanen (tetap) di mana untuk membebas kannya
diperlukan tindakan perbaikan dan atau menyingkirkan penyebab
gangguan tersebut
Saklar dan Pengaman
347
Gambar 6-31. SUTM dalam
keadaan gangguan
satu kawat ke tanah
Gambar 6-32. SUTM dalam
keadaan gangguan 2 kawat ke
tanah
Menurut kejadiannya, penyebab
timbulnya arus lebih dapat dibagi
dua jenis, yaitu a) Gangguan shunt
dan b) Gangguan seri. Kedua jenis
gangguan ini menyebabkan sistemsistem
yang pada kerja normal
simetris (seimbang) menjadi tidak
simetris. Pada SUTM gangguan
yang umum terjadi adalah gangguan
shunt yang dapat berupa hubungan
singkat satu kawat ke tanah, dua
kawat ke tanah dan akhirnya yang
paling jarang adalah hubungan tiga
kawat ke tanah.
Gangguan seri, yang
disebabkan oleh kawat putus atau
fuse putus, ketidakseimbangan seri
karena impedansi saluran tidak
simetris dan karena penggunaan
dua buah trafo fasa tunggal untuk
mensuplai beban tiga fasa. Dalam
hal ini dua fasa simetris terhadap
fasa ketiga, yang terakhir ini
sebenarnya termasuk sistem-sistem
yang pada kerja normal tidak
simetris tetapi karena sifatnya
khusus, yaitu dua fasa simetris
terhadap fasa ketiga maka
pembahasannya dimasuk-kan di sini
yang dimaksud dengan sistemsistem
yang pada kerja normal tidak
simetris adalah sistem-sistem di
mana terdapat bagian-bagian yang
tidak simetris di mana impedansiimpedansi
saluran atau beban pada
tiga fasa tidak sama.
6-4-9 Hubungan Singkat Satu Kawat ke Tanah
Penyebab hubungan singkat kawat ke tanah antara lain karena:
(1) Salah satu isolator pecah (dalam hal ini tahanan gangguan kecil) yang
disebabkan benturan mekanis atau karena gelombang,
(2) Salah satu isolator pecah (dalam hal ini tahanan gangguan bisa besar
sekali) tergantung dari kontak pohon/dahan dengan kawat dan
kebasahan pohon itu sendiri.
348
6-4-8-1 Hubungan Singkat Dua Kawat ke Tanah
Salah satu penyebab
hubungan singkat dua kawat ke
tanah ialah bila pada salah satu
fasa ada tegangan lebih yang
tinggi, di samping isolator itu
flash-over terjadi juga flash-over
fasa di sisi lainnya ke isolator
(back flash-over). Penyebab lain
karena pohon/dahan mengenai
dua fasa/kawat.
6-4-8-2 Hubungan Singkat Tiga
Kawat ke Tanah
Sekalipun tipe gangguan
ini jarang terjadi, patut juga
mendapat perhatian dan
pembahasan. Penyebabnya bisa
antara lain petir yang menyambar
tiga kawat fasa atau pohon.
Gangguan Seri
Gangguan yang umum terjadi pada jaringan tegangan menengah
adalah:
a) Satu fasa terbuka karena satu kawat atau satu pelebur putus
b) Dua fasa terbuka karena dua kawat atau dua pelebur putus
c) Ketidak seimbangan pada impedansi saluran, dan ini biasanya
karena tidak ditransposisi
d) Ketidak seimbangan pada impedansi saluran pada sistem dengan
jalan balik kawat netral.
6-4-8-3 Perhitungan Arus Hubung Singkat
Perhitungan praktis untuk menghitung besar arus hubung singkat
dalam sistem distribusi tegangan menengah yang disuplai dari sistem
tegangan tinggi (trafo tenaga) dapat dilakukan sebagai berikut.
Data yang diperlukan:
a) MVAhs pada sisi busbar tegangan tinggi
b) MVA, kV, XT % dari trafo tenaga yang mensuplai JTM
c) JTM (penampang penghantar (q, mm2), panjang penghantar (l, km),
tahanan penghantar (RK, ohm) dan reaktansi induktif penghantar (XK
, ohm).
Rumus menentukan arus hubung singkat:
(6-14)
tot tot
hs x R X
I U
3 2 2
,3
+
φ =
Gambar 6-33. SUTM dalam keadaan
gangguan 3 kawat ke tanah
(a) Konstruksi (b) Rangkaian ekivalen
Saklar dan Pengaman
349
(6-15)
(6-16)
Untuk arus hubung singkat 1 fasa dipengaruhi oleh sistem pentanahan
Menentukan impedansi total (Ztot).
Impedansi sisi tegangan tinggi: kV
= tegangan sistem JTM (6-17)
= 20 kV
Impedansi trafo tenaga:
Impedansi sisi JTM: (6-18)
ZK = RK + jXK
6-5 Jenis Pengaman
Jenis pengaman yang digunakan pada jaringan tegangan menengah
antara lain:
1. Pengaman lebur (Fuse Cut Out, FCO)
2. Relai Arus Lebih (Over Current Relay)
3. Relai Arus Gangguan Tanah (Ground Fault Relay)
4. Relai Arus Gangguan Tanah Berarah (Directional Ground Fault
Relay)
5. Relai Penutup Balik (Reclosing Relay)
6. Penutup Balik Otomatis (PBO, Automatic Circuit Recloser)
7. Saklar Seksi Otomatis (SSO, Sectionalizer).
6-5-1 Pengaman lebur
Pengaman lebur (FCO) merupakan pengaman bagian dari saluran
dan peralatan dari gangguan hubung singkat antar fasa, dapat pula sebagai
pengaman hubung singkat fasa ke tanah bagi sistem yang ditanahkan
langsung.
Berdasarkan bentuk fisik pelebur dibedakan menjadi:
• Tertutup (enclosed)
• Terbuka (open)
• Elemen terbuka (open link)
Berdasarkan cara kerjanya dibedakan menjadi:
• Tipe expultion
• Tipe limiting
Karakteristik fuse cut out mempunyai sepasang garis lengkung yang
disebut karakteristik arus waktu. Lengkung yang berada di bawah disebut
waktu lebur minimum (minimum melting time), lengkung di atas disebut
waktu bebas maksimum (maximum clearing time). Ada dua tipe fuse cut out
yaitu tipe cepat (K) dan tipe lambat (T). Perbedaan kedua tipe ini terletak
pada speed ratio-nya.
tot tot
hs x R X
I U 2 2 2
,2
+
φ =
n
hs Z Z Z Z
I xU
3
,1 3
1 2 0 + + +
φ =
hs
HV MVA
Z kV
2
=
r
r
HV MVA
Z X kV
100
% 2
=
350
6-5-2 Relai Arus Lebih
Relai arus lebih merupakan pengaman utama sistem distribusi
tegangan menengah terhadap gangguan hubung singkat antar fasa. Relai
arus lebih adalah suatu relai yang bekerja berdasarkan adanya kenaikan
arus yang melebihi nilai setting-nya pengaman tertentu dalam waktu
tertentu. Berdasarkan karakteristik waktu relai arus lebih dibagi menjadi 3,
yaitu:
a) Tanpa penundaan waktu (instaneous)
b) Dengan penundaan waktu
c) Dengan penundaan waktu tertentu (definite time OCR)
d) Dengan penundaan waktu berbanding terbalik (inverse time OCR)
e) Kombinasi 1 dan 2
6-5-3 Relai Arus Gangguan Tanah
Relai arus gangguan tanah (ground fault relay) merupakan
pengaman utama terhadap gangguan hubung singkat fasa ke tanah untuk
sistem yang ditanahkan langsung atau melalui tahanan rendah.
6-5-4 Relai Arus Gangguan Tanah Berarah
Relai arus gangguan tanah berarah (directional ground fault relay)
adalah pengaman utama terhadap hubung singkat fasa ke tanah untuk
sistem yang ditanahkan melalui tahnan tinggi.
6-5-5 Relai Penutup Balik
Relai penutup balik (reclosing relay) adalah pengaman pelengkap
untuk membebaskan gangguan yang bersifat temporer untuk keandalan
sistem.
6-5-6 Penutup Balik Otomatis
Penutup balik otomatis (PBO, automatic circuit recloser) digunakan
sebagai pelengkap untuk pengaman terhadap gangguan temporer dan
membatasi luas daerah yang padam akibat gangguan.
PBO menurut media peredam busur apinya dibedakan menjadi 3
jenis, yaitu:
a) Media minyak
b) Vacum
c) SF6
PBO menurut peralatan pengendalinya (control) dibedakan menjadi 2 jenis,
yaitu:
a) PBO Hidraulik (kontrol hidraulik)
b) PBO Terkontrol Elektrik
Urutan operasi PBO:
a) Pada saat terjadi gangguan, arus yang mengalir melalui PBO
sangat besar sehingga menyebabkan kontak PBO terbuka (trip)
dalam operasi cepat (fast trip)
Saklar dan Pengaman
351
b) Kontak PBO akan menutup kembali setelah melewati waktu reclose
sesuai setting. Tujuan memberi selang waktu ini adalah untuk
memberikan waktu pada penyebab gangguan agar hilang, terutama
gangguan yang bersifat temporer
c) Jika gangguan bersifat permanen, PBO akan membuka dan menutup
balik sesuai dengan settingnya dan akan lock-out (terkunci)
d) Setelah gangguan dihilangkan oleh petugas, baru PBO dapat
dimasukkan ke sistem.
6-6 Saklar Seksi Otomatis
Saklar seksi otomatis (SSO, Sectionalizer) adalah alat pemutus
untuk mengurangi luas daerah yang padam karena gangguan. Ada dua jenis
SSO yaitu dengan pengindera arus yang disebut Automatic Sectionalizer
dan pengindera tegangan yang disebut Automatic Vacum Switch (AVS).
Agar SSO berfungsi dengan baik, harus dikoordinasikan dengan PBO
(recloser) yang ada di sisi hulu. Apabila SSO tidak dikoordinasikan dengan
PBO, SSO hanya akan berfungsi sebagai saklar biasa.
6-6-1 Pemilihan Pengaman Arus Lebih
Pemilihan pengaman arus lebih untuk pengamanan sistem 20 kV
disesuaikan dengan pola pengaman sistem SPLN 52-3:1983 berdasarkan
sistem pentanahan netral
a) Sistem distribusi 20 kV tiga fasa, tiga kawat dengan pentanahan
netral melalui tahanan tinggi (Pola I)
b) Sistem distribusi 20 kV tiga fasa, empat kawat dengan pentanahan
langsung (Pola II)
c) Sistem distribusi 20 kV tiga fasa, tiga kawat dengan pentanahan
netral melalui tahanan rendah (Pola III)
Pola I
Pada gardu induk dipasang pengaman jaringan (pengaman utama)
yaitu pemutus beban dengan alat pengaman
a) Relai arus lebih untuk membebaskan gangguan antar fasa
b) Relai gangguan tanah terarah untuk membebaskan gangguan
tanah
c) Relai penutup balik untuk memulihkan sistem dari gangguan
temporer dan untuk koordinasi kerja dengan peralatan di sisi hilir
(SSO) atau AVS
d) Saklar seksi otomatis
e) Untuk mengisolasi daerah yang terkena sekecil mungkin gangguan.
Alat ini mempunyai pengatur dan transformator tegangan sebagai
penggerak dan pengindera.
f) Pelebur (PL)
g) Dipasang pada titik percabangan antara saluran utama dan cabang.
352
Pola II
Pengaman lebur dipakai sebagai pengaman saluran cabang
terhadap gangguan permanen
Pola III
a) Pengaman utama dalam PMB yang dipasang di gardu induk yang
dilengkapi dengan
�� Relai arus lebih untuk membebaskan gangguan antar fasa
�� Relai gangguan tanah terarah untuk membebaskan gangguan
tanah
�� Relai penutup balik untuk memulihkan sistem dari gangguan
temporer dan untuk koordinasi kerja dengan peralatan di sisi hilir
SSO atau AVS
b) Saklar seksi otomatis (SSO)
�� Untuk membatasi pemadaman sekecil mungkin maka jaringan utama
dapat dibagi dalam beberapa seksi dengan menggunakan SSO
sebagai pemisah.
c) Pelebur (PL)
�� Sebagai pengaman terhadap gangguan permanen yang dipasang
pada seluruh cabang.
6-6-2 Pemilihan Relai Arus Lebih
Pemilihan relai arus lebih untuk pengamanan sistem 20 kV diatur
sebagai berikut.
a) Sistem distribusi di mana variasi arus gangguannya cukup besar,
yaitu sistem distribusi yang disuplai dari sistem terpisah (PLTD),
maka pemilihan relai arus lebih waktu tertentu akan lebih baik dari
arus lebih waktu terbalik.
b) Sistem distribusi di mana variasi arus gangguannya kecil yang
disuplai dari sistem yang sudah interkoneksi, maka pemilihan relai
arus lebih waktu terbalik akan lebih baik dari arus lebih waktu
tertentu.
c) Sistem distribusi yang disuplai lebih dari satu sistem pembangkit,
untuk mendapatkan selektivitas dan untuk penyulang yang
menginterkoneksikan relai arus lebih harus dilengkapi dengan relai
tanah.
6-6-3 Pemilihan Relai Gangguan Tanah
Arus gangguan satu fasa sangat bergantung pada jenis
pentanahannya. Pada umumnya gangguan satu fasa melampaui tahanan
gangguan, sehingga menjadi semakin kecil. Oleh karena itu dipasang relai
gangguan tanah secara khusus dan disesuaikan dengan sistem
pentanahannya. Pemilihan relai gangguan tanah untuk pengamanan sistem
20 kV diatur sebagai berikut.
Saklar dan Pengaman
353
a) Untuk sistem pentanahan dengan tahanan tinggi, digunakan relai
yang memiliki sensitivitas tinggi yaitu relai gangguan tanah berarah
dengan karakteristik waktu tertentu.
b) Untuk sistem pentanahan dengan tahanan rendah di mana besarnya
arus gangguan vs letak gangguan landai maka relai akan sukar
dikkordinasikan dengan peningkatan arus, sehingga relai yang
digunakan sebaiknya relai arus lebih karakteristik waktu tertentu.
Demikian juga untuk gangguan tanah SKTM sistem Spindel (untuk
panjang saluran 10 km)
c) Untuk sistem pentanahan langsung, besarnya arus hubung singkat
vs letak gangguan sangat curam, sehingga relai yang digunakan
adalah relai arus lebih dengan karakteristik waktu terbalik.
6-6-4 Koordinasi Pengaman
Untuk mendapatkan pengamanan yang selektif, maka penyetelan
waktu relai pengaman arus lebih harus dibuat secara bertingkat.
tF > tset OCR di A > tset OCR di B (6-19)
Untuk gangguan yang terjadi di titik F, relai A dan relai B akan pick-up
karena tA > tB maka relai B akan bekerja lebih dahulu. Beda waktu dari
kedua relai Δt = 0,4 detik.
6-6-5 Koordinasi Pengaman pada Jaringan Radial
Misalkan gangguan terjadi pada sebuah jaringan radial seksi 2A (lihat
gambar 6-35).
Untuk gangguan di seksi 2A, koordinasi pengaman sebagai berikut.
a) Relai di GI bekerja dan memerintahkan PMT trip.
b) Karena tidak ada tegangan, maka AVS-A1, AVS-A2, dan AVS-A3
membuka setelah selang waktu t3.
c) Setelah tercapainya waktu penutup balik pertama PMT A masuk
kembali, kemudian selang waktu t1, AVS-A1 mendeteksi tegangan
sehingga menutup.
d) Karena di seksi 2A masih ada gangguan, maka PMT di A ditripkan
lagi oleh relai pengaman (bila gangguan temporer, dengan
masuknya AVS-1 sistem akan kembali normal)
e) Karena AVS-1 bertegangan sesaat (kurang dari t2) maka a langsung
mengunci (lock out)
Gambar 6-34 Penempatan Rele
Pengaman pada Jaringan Radial
354
f) Setelah waktu recloser ke-2 tercapai, PMT masuk dan seksi A
bertegangan
g) Seksi 2A, 3A dan 4A padam.
h) Lampu indikator AVS-A1 menyala hijau, sedangkan AVS-A2 dan
AVS-A3 padam.
1A 2A 3A 4A
RECLOUSER
PCT
OCR DGFR
T1 = Waktu mulai ada tegangan sampai dengan arus masuk (15 detik)
T2 = Waktu untuk menentukan buka atau terkunci(5 detik)
T3 = Waktu tanda mulai saat tegangan hilang sampai arus terbuka (18 detik)
6-6-6 Koordinasi Pengaman pada Jaringan Loop
Misalkan gangguan terjadi pada seksi 2A dari jaringan loop (lihat
gambar 6-36.
Untuk gangguan di seksi 2A, koordinasi pengaman sebagai berikut.
a) Relai PMT-A bekerja, memerintahkan PMT-A trip
b) Relai PMT-A bekerja, memerintahkan PMT-A trip
c) Relai PMT-A bekerja, memerintahkan PMT-A trip
d) Karena tidak ada tegangan pada penyulang A, maka AVS-A1 dan
AVS-A2 membuka setelah selang waktu t3.
e) Setelah waktu recloser ke-1 dari penutup balik dicapai, maka PMT-A
masuk setelah selang waktu t1 dan AVS-A1 masuk.
f) Karena gangguan di seksi 2A masih ada (permanen) maka PMT-A
trip lagi
g) AVS-A1 langsung mengunci karena waktu merasakan tegangan
lebih kecil dari t2.
h) Setelah waktu menutup balik ke-2 dari penutup balik tercapai PMT-A
masuk dan seksi 1A bertegangan.
i) Setelah selang waktu t5 dari AVS-L, AVS-L akan masuk sehingga
PMT-B trip karena relai di B merasakan adanya gangguan.
j) Pada penyulang B terjadi buka tutup, sampai AVS-A2 lock-out
sehingga seksi 2A terisolasi dan seksi 3A mendapat suplai dari
penyulang B.
Gambar 6-35 Koordinasi Pengaman pada Jaringan Radial
T = Control Device (kotak pengatur)
PCT = Power Control Transformer
PMT AVS-A1 AVS-A2 AVS-A3
T T T
Saklar dan Pengaman
355
GI
1A 2A 3A
AVS-L
PMT B AVS-B1 AVS-B2
1B 2B 3B
6-7 Penutup Balik Otomatis (PBO)
Dalam pola II, penggunaan PBO, SSO dan FCO (pengaman lebur)
dapat dikoordinasikan. Pola ini digunakan dalam sistem jaringan 4 kawat
dengan pentanahan multi grounded.
Keterangan:
T1 = waktu mulai kotak pengatur bertegangan sampai AVS masuk kembali (5-
10 detik)
T2 = waktu yang distel agar AVS terkunci, bila waktu merasakan tegangan
lebih kecil dari setting t2
T3 = waktu mulai kotak pengatur tidak bertegangan sampai AVS masuk
kembali (0,5-2 detik)
T 5 = waktu mulai kotak pengatur tidak merasakan tegangan dari salah satu
sisinya sampai AVS-L masuk secara otomatis t5 > tr +(n+1) t1
tr = waktu penutup balik
n = banyaknya AVS
Gambar 6-37 Koordinasi PBO, SSO dan FCO
Gambar 6-36 Koordinasi Pengaman pada Jaringan Loop
PMT AVS-A1 AVS-A2
T
T
T T
356
a) Koordinasi antara OCR/GFR dengan PBO
Secara fisik PBO ini semacam PMB yang mempunyai kemampuan
sebagai pemutus arus hubung singkat yang dilengkapi dengan alat
pengindera arus gangguan dan peralatan pengatur kerja membuka dan
menutup serta mengunci bila terjadi gangguan permanen.
Untuk melakukan koordinasi antara OCR/GFR di gardu induk dengan
PBO harus dibuat sedemikian rupa sehingga setiap terjadi gangguan
setelah PBO, relai OCR/GFR tidak boleh trip sebelum PBO terkunci (lock
out).
Oleh karena itu, harus dihitung terlebih dahulu waktu reset dan
putaran dari relai OCR/GFR, agar supaya PMT tidak trip. Sebelum PBO
terkunci total putaran relai OCR/GFR diusahakan kurang dari 100% pada
saat PBO terkunci.
b) Koordinasi antara PBO dengan PBO
Koordinasi antara PBO dengan PBO dapat dicapai dengan:
• Memilih nilai arus trip minimum yang berbeda antara kedua PBO
(yang menggunakan kontrol elektronik)
• Mengatur pemakaian urutan operasi yang terbalik dari masingmasing
PBO dengan cara mempelajari dan memilih karakteristik
kerja dari kurva arus waktu.
Faktor yang penting dalam koordinasi antara kedua bentuk kurva
arus waktu dari kedua PBO adalah perbedaan waktu antara kedua kurva
untuk satu nilai arus tertentu (arus hubung singkat)
Perbedaan waktu minimum antara kedua kurva adalah untuk
mengamankan agar kedua PBO tidak beroperasi secarav bersamaan.
c) Koordinasi antara PBO dengan SSO
Bila terjadi gangguan di sisi hilir dari SSO maka PBO akan bekerja
membuka tutup dengan cepat pertama sampai kedua untuk menghilangkan
gangguan yang bersifat temporer. SSO mengindera arus gangguan dan
menghitung banyaknya buka tutup dari PBO, bila gangguan bersifat
permanen, maka sesuai dengan penyetelan hitungan (count to open) SSO.
SSO membuka pada saat PBO membuka sebelum buka tutup terakhir dan
mengunci dari PBO.
d) Koordinasi antara PBO dengan PL
PBO harus dapat mendeteksi arus gangguan di daerah pengaman
PL koordinasi maksimum antara PBO dan PL dapat dicapai dengan
mengatur urutan kerja PBO dua, cepat atau lambat.
Operasi cepat pertama dan kedua untuk menghilangkan gangguan
temporer sebelum operasi ketiga, yaitu operasi lambat pertama yang
memberikan kesempatan pada PL untuk melebur (putus) lebih dahulu
sehingga gangguan dapat diisolasi.
Saklar dan Pengaman
357
6-7-1 Kegagalan Pengaman
Seperti telah diuraikan di depan, untuk mendapatkan pengaman
yang baik, maka kurva arus waktu ketahanan trafo/penghantar harus berada
di atas kurva arus waktu pengamannya (atau jarak terdekat sekitar 25%) jika
tidak maka akan terjadi kegagalan pengaman.
Penyebab berikutnya ialah kurva ketahanan trafo/penghantar tidak
sesuai standar atau dengan data yang diberikan oleh pabrik. Jadi perlu
pemutakiran data untuk koordinadi antara kurva arus waktu trafo dengan
pengaman untuk menentukan pasangan pengamannya.
Penyebab lainnya ialah kurva pemutusan (trip) arus-waktu
pengaman tidak sesuai dengan data yang diberikan pabrik sehingga perlu
dilakukan pengujian ulang. Jika terjadi kegagalan pengamanan, maka
kemungkinan yang akan terjadi antara lain perubahan kurva arus-waktu
pengaman relai, pelebur, PMT terlalu banyak beroperasi /umur tua , kotor
atau rusak. Jika kotor dapat dibersihkan, tetapi jika terlalu tua atau rusak
harus segera diganti.
Gambar 6-38. Penempatan PMT, PBO, PL dan SSO
pada pangkal saluran cabang jaringan TM
358
6-7-2 Pengaman Terhadap Tegangan Lebih
Dalam keadaan operasi, suatu sistem tenaga sering mengalami
gangguan yang dapat mengakibatkan teputusnya pelayanan daya ke
pelanggan. Gangguan tersebut lebih sering terjadi pada jaringan distribusi.
Terjadinya gangguan disebabkan oleh peningkatan tegangan pada hantaran
distribusi, yang dikenal dengan tegangan lebih, yang besar tegangan itu
melampaui tingkat ketahanan isolasi dari hantaran distribusi. Dengan
demikian terjadi hubung singkat antar kawat-kawat fasa ke tanah yang dapat
menyebabkan PMT membuka.
Tegangan lebih ini antara lain ditimbulkan oleh:
Contoh penempatan PMT, PBO, PL dan SSO pada pangkal saluran
cabang jaringan TM dapat dilihat pada Gambar 6-38. Sedangkan
penempatan PMT dan PL pada jaringan Spindel SKTM dapat dilihat pada
Gambar 6-39.
Gambar 6-39 Penempatan PMT dan PL pada jaringan
Spindel SKTM (PMT tanpa PBO) Pola 2
Contoh penempatan pengaman arus lebih pada jaringan TM
Saklar dan Pengaman
359
a. Sambaran petir pada hantaran distribusi, baik merupakan sambaran
langsung atau tidak langsung.
b. Surja hubung
Oleh sebab itu, kebutuhan tingkat ketahanan isolasi dari suatu sistem
tenaga ditentukan oleh tegangan lebih akibat sambaran petir (tegangan
lebih atmosfir) dan tegangan lebih akibat transien pada waktu switching.
a) Tegangan Lebih Atmosfir
Tegangan lebih ini muncul pada JTM karena sambaran petir baik
langsung (jarang terjadi) maupun sambaran tidak langsung (sering terjadi),
misalnya petir menyambar pohon atau benda lain yang lebih tinggi dari JTM
lain menginduksi ke JTM yang berada di sekitar lokasi sambaran petir.
Tegangan lebih atmosfir ini berkisar 345 kV.
Gambar 6-40. Penempatan PMT, PBO, PL , SSO
serta Saklar Tuas (ST)
360
b) Tegangan Lebih Hubung
Kondisi dalam jaringan listrik dibedakan menjadi dua, yaitu keadaan
stasioner (misalnya keadaan masa kerja suatu jaringan) dan keadaan
sementara atau proses menuju keseimbangan (transien), yang timbul pada
waktu switching atau memutus arus. Proses transien adalah
peralihan dari kondisi stasioner I ke kondisi stasioner II yang hampir selalu
menyebabkan osilasi tegangan dan arus, dan oleh karena itu menimbulkan
peningkatan tegangan.
Karena adanya tahanan dalam jaringan, maka tegangan lebih
diredam dan sesudah beberapa waktu tertentu tegangan itu menghilang.
Dalam Gambar 6-41 digambarkan kondisi stasioner I dan II. Pada kondisi I,
generator memberikan daya melalui suatu penghantar, transformator
diteruskan ke pemakai. Fenomena itu tidak hanya merupakan penghantaran
daya dari pembangkit ke pemakai melalui penghantar, melainkan dalam
PTS 110
Gambar 6-41. Penempatan PMT, SSO, ST, FCO pada SUTM
Saklar dan Pengaman
361
Gambar 6-42 Penempatan Arester, PL dan PMT pada SUTM
distribusi daya itu juga terdapat medan magnet yang mengelilingi
penghantar-penghantar dan medan listrik antara penghantar-penghantar
sendiri dan antara penghantar-penghantar dengan tanah. Medan magnet
dan medan listrik itu mengandung energi berpulsa sebesar harga rata-rata
frekuensi jaringan. Selama kondisi stasioner I energi dari pembangkit itu
disimpan pada transformator, penghantar dan pemakai.
362
Sesudah membuka sakelar S (keadaan II) generator itu tidak
menyerahkan daya lagi kepada pemakai, tetapi generator tetap memeberi
energi medan listrik pada penghantar, walaupun energi itu hanya sedikit.
Proses keseimbangan itu membawa keadaan energi antara kondisi
stasioner yang masing-masing mempunyai muatan-muatan energi yang
berbeda.
c) Karakteristik Tegangan Lebih
Teori tentang petir yang telah diterima secara luas bahwa awan dari
daerah bermuatan positif dan negatif. Pusat-pusat muatan ini
menginduksikan muatan memiliki polaritas berlawanan ke awan yang
Gambar 6-43 Sambaran petir pada SUTM
Gambar 6-44. Kondisi I dan II dari Jaringan Distribusi
Saklar dan Pengaman
363
terdekat atau ke bumi. Gradien potensi awan di udara dntara pusat-pusat
muatan di awan atau antara awan dan bumi tidak seragam, tetapi gradien
tersebar timbul pada bagian konsentrasi muatan tertinggi. Konsentrasi
muatan tertinggi dan gradien tegangan tertinggi dari awan ke bumi
menimbulkan pelepasan muatan pada awan. Ketika gradien mencapai batas
untuk udara-udara di daerah konsentrasi tekanan tinggi mengionisasi atau
tembus (break down).
Muatan dari pusat muatan mengalir ke dalam kanal terionisasi,
mempertahankan gradien tegangan tinggi pada ujung kanal dan
melanjutkan proses tembus listrik. Formasi suatu sambaran petir berikutnya
adalam tembus listrik progresif pada jalur busur api lebih kecil dari pada
tembus listrik sesaat dan terintegrasi di udara sepanjang kanal.
Sambaran petir ke bumi diawali ketika muatan sepanjang tepi awan
menginduksikan suatu muatan lawan ke bumi (gambar 7-48), lidah arah
bawah menyebar dari awan ke arah bumi seperti pada gambar 7-49. Jika
pusat muatan kecil, semua muatan bisa saja dilepaskan selama lidah utama
(pilot leader) terbentuk dan sambaran tidak lengkap.
Ketika sambaran lengkap, pusat muatan kecil tampaknya
dikosongkan, akibatnya lidah petir juga berhenti. Begitu pusat muatan baru
terbentuk maka lidah petir terbentuk lagi secara cepat.
Gambar 6-46. Lidah petir menjalar ke arah bumi
+ + + + + + + + + + ++ + + ++++++++
Gambar 6-45. Muatan sepanjang tepi awan
menginduksikan muatan lawan pada bumi
364
Begitu lidah petir mendekati bumi, sambaran ke arah atas terbentuk
dan biasanya berawal dari titik tertinggi di sekitarnya. Bila lidah petir ke arah
atas dan ke bawah bertemu (Gambar 6-47) suatu hubungan awan ke bumi
terbentuk dan energi muatan dari awan dilepaskan ke dalam tanah. Muatanmuatan
dapat terinduksi ke jaringan listrik yang berada di sekitar sambaran
petir ke tanah. Walaupun muatan awan dan bumi dinetralisir melalui jalur
awan ke tanah, muatan dapat terjebak pada jaringan listrik (Gambar 6-48).
Besar muatan yang terjebak ini tergantung pada gradien mula awan
ke bumi dan kedekatan sambaran ke jaringan. Tegangan terinduksi pada
jaringan listrik dari sambaran di tempat jauh, akan menjalar sepanjang
jaringan dalam bentuk gelombang berjalan sampai dihilangkan oleh
pengurangan (attenuasi), kebocoran, isolator rusak/pecah atau arester
beroperasi bila sambaran langsung ke jaringan listrik dan tegangan
meningkat secara cepat pada titik kontak. Tegangan ini juga menjalar dalam
bentuk gelombang berjalan dalam dua arah dari titik sambaran, berusaha
menaikkan tegangan potensial jaringan terhadap tegangan lidah petir arah
Gambar 6-47 Kilat sambaran balik dari bumi ke awan
Gambar 6-48 Kumpulan
Saklar dan Pengaman
365
ke bawah. Tegangan ini melampaui ketahanan tegangan jaringan terhadap
tanah dari isolasi sistem dan jika tidak cukup dilengkapi dengan pengaman
tegangan lebih, dapat berakibat pada kerusakan (kegagalan) isolasi.
Operasi arester akan membentuk suatu jalur dari kawat jaringan ke
tanah untuk sambaran petir. Hal ini menyempurnakan mata rantai antara
awan dan bumi untuk melepas energi awan dalam bentuk arus surja.
Karena titik hubung jaringan ke tanah makin jauh dari titik kontak sambaran,
maka sebagian kawat jaringan dapat membentuk suatu bagian dari jalur
arus petir. Arester surja mempunyai karakteristik tembus listrik terkontrol
yaitu pengaliran arus surja ke bumi melalui arester akan terhenti ketika
tegangan benar-benar di bawah kawat tahanan isolasi sistem. Keadaan ini
menyebabkan keberadaan arester surja begitu penting sebagai bagian dari
sistem distribusi.
Menurut karakteristiknya, tegangan yang dihasilkan oleh sambaran
petir akan meningkat mencapai nilai puncak secara cepat dan kemudian
menurun menuju nol pada laju yang sangat lambat. Waktu yang diperlukan
tegangan mencapai puncak biasanya dalam beberapa mikro detik atau
kurang. Waktu ekor gelombang dapat mencapai 10 atau ratusan mikro detik,
tegangan pada penghantar jaringan distribusi tang tersambar petir tidak
seragam terjadi induksi muatan. Ketika lidah ini mendekati penghantar pada
kecepatan 0,3048 m/mikro detik terjadi kenaikan tegangan induksi.
Bila sambaran petir mencapai penghantar, kenaikan tegangan
menjadi lebih cepat karena arester yang biasanya dipakai pada jaringan
distribusi mempunyai tegangan pengenal yang rendah, maka bisa saja
arester beroperasi pada tegangan terinduksi tersebut. Perbandingan
kenaikan tegangan terhadap waktu beroperasinya arester akan lebih rendah
pada JTM dan JTT. Untuk mengetahui ketahanan tegangan isolasi terhadap
tegangan petir dilakukan uji tegangan impuls di laboratorium.
Bentuk gelombang tegangan impuls ini distandarisasi (SPLN)
sebesar 1,2 x 50 mikro detik, seperti terlihat pada gambar 6-49. Bentuk
gelombang dan besar arus sambaran petir juga bervariasi. Hal ini juga telah
distandarisasi untuk gelombang arus uji yaitu meningkat dari nol hingga
mencapai nilai puncak dalam 8 mikro detik dan menurun mencapai nilai ½
puncak dalam 20 mikro detik sejak awal.
6-7-3 Karakteristik Tegangan Surja
Ketika suatu saklar dalam rangkaian listrik dibuka atau ditutup akan
terjadi suatu transien hubung. Hal serupa juga akan terjadi pada JTM atau
JTT. Kombinasi dari resistansi, induktansi dan kapasitansi pada JTM
sedemikian rupa sehingga tegangan lebih surja hubung yang dapat merusak
isolasi sistem tidak terjadi. Tetapi tegangan lebih surja hubung dapat terjadi
akibat pukulan balik ketika proses membuka atau menutup saklar bangku
kapasitor untuk perbaikan faktor daya. Pukulan balik yang terjadi saat
membuka atau menutup saklar kapasitor menunjukkan suatu pemakaian
yang tidak sempurna dari saklar. Penyelesaian terbaik dari masalah ini
366
adalah mendapatkan saklar bebas pukulan balik dan mencegah tegangan
lebih, daripada mencoba mengamankan atau memproteksinya.
Ferro resonansi juga dapat menghasilkan tegangan lebih merusak
pada JTM. Tegangan lebih ini tidak benar-benar transien, karena bersiklus
dan tetap ada dalam periode panjang. Tegangan lebih dapat terjadi ketika
kapasitansi dirangkai secara seri dengan kumparan primer trafo tanpa
beban atau berbeban rendah. Hal ini biasanya terjadi ketika proses hubung
(switching) sebagai akibat dari suatu pelebur putus atau suatu penghantar
JTM putus. Penyelesaian dari masalah ini adalah mengubah hubungan
jaringan atau merevisi operasi saklar sehingga tegangan lebih tidak dapat
terjadi. Cara ini dapat mengamankan isolasi dari tegangan lebih surja
hubung.
6-7-4 Pengamanan Terhadap Tegangan Lebih
Pengaman saluran distribusi menurut metode yang lama adalah
merupakan pengembangan dari metode yang digunakan pada saluran
transmisi. Terdapat beberapa metode pengaman yang digunakan pada
metode lama, antara lain kawat tanah, kawat netral dan sela batang.
a) Kawat Tanah (Overhead Statics)
Metode pertama yang digunakan untuk pengaman saluran distribusi
adalah kawat tanah. Metode ini biasanya digunakan pada saluran transmisi,
yang memerlukan ketahanan impuls isolasi sangat tinggi. Pada jaringan
distribusi hal ini tidak mungkin dipenuhi, khususnya pada tempat-tempat
peralatan seperti pada transformator atau gardu distribusi. Kriteria utama
perencanaan dalam mengevaluasi kawat tanah adalah persoalan back-over
ke tanah. Penggunaan kawat tanah memerlukan tahanan pentanahan yang
sangat rendah untuk setiap struktur dan ketahanan impuls isolasi yang
tinggi. Pada sistem multi grounded Y, kawat netral dihubungkan pada titik
dengan tanah, yang selanjutnya mempengaruhi arus petir pada seluruh
peralatan pada saluran. Ketika arus petir yang besar terjadi dan mengenai
transformator dan peralatannya, hasil kerja kawat btanah ini tidak signifikan
dalam mengamankan saluran dan flash over.
Gambar 6-49 Gelombang tegangan uji impuls
1,2 x 50 mikro detik
Saklar dan Pengaman
367
b) Kawat Netral
Kawat netral ditempatkan di ataw kawat penghantar fasa
menggantikan kedudukan kawat tanah, tetapi persoalan yang sama
menyangkut back flash over tetap saja terjadi. Hasil riset yang telah
dilakukan di Australia menunjukkan bahwa baik kawat tanah (di atas kawat
fasa) maupun kawat netral (di bawah kawat fasa), keduanya meredam
sedikit gelombang surja. Kawat netral di atas kawat fasa, ternyata tidak
ekonomis atau tidak merupakan metode yang baik untuk melindungi
peralatan terhadap sambaran petir.
c) Sela Batang
Latar belakang dari metode pengamanan terhadap tegangan lebih
menggunakan sela batang adalah apabila saluran harus flash over, maka
dibuat ketahanan impuls dari saluran tinggi dan dibuat pada beberapa titik
dari saluran ketahanan impuls isolasi yang lebih rendah, sehingga flash over
akan terjadi pada ketahanan impuls isolasi yang lebih rendah tersebut, yaitu
melalui sela batang. Untuk hal ini memerlukan beroperasinya pemutus daya
(circuit breaker) untuk menghilangkan gangguan 50 Hz tersebut. Dengan
adanya PBO berkecepatan tinggi, jenis pengaman ini agak banyak
digunakan pada beberapa wilayah di dunia misalnya di Inggris. Ada satu
persoalan yang timbul dengan penggunaan metode sela batang ini, yaitu
mengontrol jarak sela (gap) karena hal ini sangat menentukan flash over.
Jika arus gangguan sangat besar, maka bunga api pada sela batang dapat
merusak peralatan di sekitarnya.
6-7-5 Pengamanan Saluran Distribusi Masa Kini
Pada akhir tahun 1960-an telah diadakan studi antara para
industriawan IEEE dan General Electric Company. Studi tersebut dilakukan
berdasarkan pendekatan Scale-model yang dikenal sebagai teknik model
Nanosecond dan pendekatan Monte Carlo untuk menentukan parameterparameter
dari sambaran petir. Studi ini menggunakan model skala dari
beberapa tipe struktur saluran distribusi untuk menentukan metodologi dari
pengaman petir.
Dalam studi tersebut diamati berbagai metode pengaman petir,
mencakup penggunaan lighning arrester (LA) pada seluruh fasa, arresterarrester
pada ujung-ujung tiang (dead ends), kawat tanah dan proteksi yang
hanya pada fasa tengah dari saluran tiga fasa.
Hasil utama dari riset tersebut menunjukkan bahwa dengan
menggunakan lightning arrester pada seluruh fasa pada interval tertentu,
ternyata lebih baik dari pada menggunakan kawat tanah atau dengan
menggunakan pengaman hanya pada fasa teratas. Arrester dipasang
sedekat mungkin dengan trafo. Penempatan arrester pengaman trafo pada
gardu induk di sisi 20 kV yang ditanahkan tidak efektif (kawat netral
ditanahkan dengan tahanan). Jarak arrester dengan trafo maksimum 6 mm
(SPLN 7-1978). Jenis arrester yang biasa dipakai adalah jenis katub (valve
arrester) dan jenis tabung ledak (expulsion).
368
Jenis arrester tabung ledak ini mempunyai pengaman yang lebih
baik, khususnya pada saluran yang mempunyai tingkat gangguan yang
rendah. Alat ini baik digunakan pada saluran di pedesaan yang dilayani oleh
gardu yang kecil. Persoalan yang timbul adalah pada setiap terjadi sparkover
terjadi perubahan pada tabung sehingga memberikan nilai yang
berubah-ubah pada tingkat spark-over. Sesudah 5 dan 6 kali alat ini
beroperasi, ketahanan impuls isolasi dari lightning arrester ini dengan
mudah menjadi tinggi dari ketahanan impuls isolasi peralatan yang
diamankan. Dengan demikian LA tidak dapat lagi memberikan pengamanan
yang memadai.
Spesifikasi LA yang dipakai untuk JTM 20 kV adalah (a) 18 kV, 5 kA
pada sisi 20 kV trafo distribusi hubungan bintang diketanahkan, (b) 24 kV, 5
kA Seri A pada sisi 20 kV trafo distribusi hubungan delta, maupun (c) fasa
satu dari sistem delta 24 kV, 10 kA untuk jaringan pada sisi 20 kV trafo daya
pada gardu induk.
Gambar 6-50. Skema Sambaran Petir yang
Dialihkan Arrester ke Tanah
Saklar dan Pengaman
369
6-7-6 Arrester pada Transformator Distribusi
Terminal pentanahan arrester diinterkoneksikan dengan terminal
pentanahan tangki trafo dan terminal pentanahan netral trafo (netral
diketanahkan langsung). Jika ditanahkan bersama maka arus surja yang
mengalir ke tanah melalui suatu impedansi (Z) menyebabkan jatuh
tegangan (drop voltage) pada impedansi tersebut hingga tegangan tinggi
pada kumparan primer. Karena kumparan sekunder dan tangki mempunyai
Gambar 6-51 Pengamanan dengan arrester
tanpa interkoneksi terminal pentanahan
Gambar 6-52. Pengamanan
dengan arrester dan
interkoneksi
ke terminal pentanahan (solid)
Gambar 6-53. Pengamanan
dengan arrester dan
interkoneksi pentanahan
melalui celah (gap)
370
Jika interkoneksi (solid) antara tangki dan titik pentanahan bersama tidak
dimungkinkan, dapat digunakan celah antara titik pentanahan dan netral
kumparan sekunder (Gambar 6-53).
Hal ini menyebabkan arus surja dilewatkan melalui beberapa
impedansi pentanahan paralel dan bahaya terhadap kerusakan isolasi
diminimalkan, meskipun dalam kondisi arus surja besar dan impedansi
pentanahan tinggi.
Gambar 6-54 Hubungan arrester pada
sistem bintang yang diketanahkan
a) Arrester dipasang pada tiang kawat penghantar, baik pada trafo tiga fasa
maupun satu fasa untuk sistem bintang (Y) (lihat Gambar 6-54).
b) Pemakaian arrester pada sistem delta (tidak ditanahkan), tegangan
arrester adalah tegangan line to line (Gambar 6-58).
Gambar 6-55. Pemakaian arrester pada sistem delta
beda potensial terhadap
tanah, maka timbul beda
potensial di antara kedua
kumparan, dan di antara
kumparan primer dengan
tangki (Gambar 6-51). Jika
ditanahkan bersama maka
akan menurunkan drop
tegangan pada impedansi
tersebut di atas, yaitu
menghilangkan beda poten
sial yang dihasilkan oleh
drop tegangan pada
impedansi tanah (Gambar
6-52).
Saklar dan Pengaman
371
6-7-7 Arrester pada Recloser (PBO)
Arrester dipasang sedekat mungkin ke PBO di kedua sisi (sisi primer
dan beban) pada tiap penghantar fasa dan pertimbangan lain seperti pada
trafo. Jika dari segi ekonomis arrester dipasang hanya pada satu sisi, maka
arrester sebaiknya dipasang pada sisi sumber PBO.
Surja petir pada sisi sumber dapat menyebabkan flash over pada
bushing sisi sumber dan mengakibatkan gangguan fasa ke tanah, dan
harus diamankan oleh PBO cadangan.
Suatu arrester pada sisi sumber akan mengamankan surja di sisinya
sendiri yang mengamankan arus ikutan frekuensi daya (50 Hz). Jika bushing
sisi beban dikenali petir dari sisi beban, maka PBO berfungsi secara normal
untuk menginterupsi dan mengamankan arus ikutan frekuensi daya 50 Hz.
Bila PBO dipakai pada GI, arrester mengamankan sisi sumber pada tiap
fasa, karenanya pada sisi beban tiap fasa memerlukan satu arrester.
6-7-8 Arrester pada Kapasitor Distribusi
Penggunaan arrester pada kapasitor distribusi mempertimbangan
faktor-faktor yang sama dengan pada PBO, yaitu faktor jarak yang terdekat
dengan bangku kapasitor dan interkoneksi pentanahan seperti pada trafo.
Arrester surja direkomendasikan untuk semua instalasi kapasitor,
mencakup bangku kapasitor hubungan delta, bangku kapasitor hubungan
bintang dengan netral diketanahkan bercelah, bangku kapasitor hubungan
bintang netral tidak diketanahkan dan bangku saklar. Arrester juga
direkomendasikan untuk semua hubungan bintang netral ditanahkan secara
solid (batang) bangku kapasitor tiga fasa dengan kapasitas 500 kVAr atau
lebih kecil. Untuk kapasitas di atas 500 kVAr, bangku kapasitor tanpa
saklar pengatur daya, harus dipelajari secara tersendiri dalam menentukan
kebutuhan pengaman dengan arrester.
Untuk bangku kapasitor besar
yang diketanahkan dengan batang padat
(tanpa tahanan), tanpa saklar pengatur
daya, tidak mudah surja petir memberikan
tegangan berbahaya pada bangku
kapasitor.
Arrester harus dipasang pada sisi
sumber saklar kapasitor dari semua
bangku kapasitor yang mempunyai saklar
pengatur faktor daya.
Penempatan ini umum dan praktis,
dan secara empirik diperlukan untuk
mengatasi kemungkinan timbulnya
tegangan lebih dari pukulan balik saklar.
6-7-9 Arrester pada Pengaman Lebur
Arrester yang dipasang pada sisi
primer pengaman lebur (PL) dimaksudkan
agar ketika terjadi surja petir, arus surja
Gambar 6-56. Hubungan
arrester yang direkomendasikan
untuk sisi beban di
bagian primer pelebur (PL)
372
petir mengalir ke arrester diteruskan ke tanah, tidak melalui PL, sehingga PL
tidak putus (lebur) (lihat Gambar 6-56).
6-7-10 Arrester pada SUTM
Penempatan arrester pada SUTM dilaksanakan sebagai berikut.
Arrester sedapat mungkin dipasang pada titik percabangan dan pada ujungujung
saluran yang panjang, baik saluran utama maupun saluran cabang.
Jarak antara arrester yang satu dengan yang lain tidak boleh
melebihi 1000 meter dan di daerah yang berpotensi banyak petir berjarak
tidak boleh melebihi 500 meter. Jika terdapat kabel tanah sebagai bagian
dari sistem, arrester sebaiknya dipasang pada ujung kabel dan dipasang
pada tiap kawat fasa.
6-7-11 Arrester pada SKTM
Saluran kabel tegangan menengah bawah tanah tahan terhadap gangguan
petir. Saluran kabel bawah tanah mulai dari generator sampai pelanggan.
Jika SKTM digabung dengan SUTM, maka petir dapat masuk ke SKTM
melalui SUTM pada tiang naik. Jadi arrester harus dipasang pada tiang naik
dan pada tiap kawat penghantar fasa.
6-7-12 Kegagalan Pengamanan dan Penyebabnya
Pengamanan tegangan lebih yang terbaik adalah arrester. Ada
kalanya alat pengaman sudah terpasang dengan baik tetapi mengalami
kerusakan pada saat terkena sambaran petir baik secara langsung maupun
tidak langsung sehingga menyebabkan kegagalan dalam pengamanan.
Kegagalan pengaman mencakup komponen sebagai berikut:
a) Pada arrester dapat disebabkan antara lain:
• Sambungan kawat arrester pada terminal arrester tidak baik atau tidak
cukup kencang
• Sambungan kawat arrester pada
kawat fasa jaringan tidak baik atau
tidak cukup kencang
• Sambungan kawat arrester ke terminal
tanah arrester tidak baik atau tidak
cukup kencang
• Sambungankawat pentanahan arres
ter dengan kawat (batang pentanahan)
tidak baik atau tidak cukup kencang
• Tahanan pentanahan arrester > 1
Ohm
• Jarak arester terlalu jauh dari trafo
• Jarak panjang arrester pada tiang
yang satu dengan arrester pada tiang
yang lain terlalu jauh
• Arrester tidak bekerja optimal,
meskipun tidak ada petir menyambar
secara langsung maupun tidak langsung arrester bekerja atau jika ada
Gambar 6-57 Tegangan
pada SKTM akibat
sambaran petir pada SUTM
Saklar dan Pengaman
373
• Pentanahan kawat tanah tidak sempurna (> 1 ohm) misalnya
sambungan pada konektor longgar, elektroda bumi berkarat,
perubahan kondisi dan struktur tanah dan sebagainya.
• sambaran dan arrester bekerja tapi alat yang diamankan juga rusak.
Hal ini disebabkan oleh jarak celah arrester tidak sesuai atau arrester
sudah rusak, sehingga perlu diganti dengan yang baru.
• Jika arrester meledak karena terkena sambaran petir secara langsung
atau tidak langsung baik pada JTM maupun pada arrester, berarti
arrester tidak dapat bekerja dan tidak dapat mengubah dirinya menjadi
penghantar lagi sehingga arrester juga harus diganti dengan yang baru.
b) Turunnya rodgap/sparkgap (trafo, isolator dan bushing) dapat disebabkan
antara lain:
• Posisi dan jarak antara rodgap pada terminal sekunder trafo GI
maupun pada terminal primer trafo distribusi perlu dikembalikan ke
posisi dan jarak semula yang benar.
• Terjadi perubahan konstruksi JTM karena gangguan alam, tiang miring
dan sebagainya
c) Perencanaan salah, misalnya penempatan pengaman, penentuan jenis
dan ukuran pengaman, koordinasi isolasi, salah pemilihan dan survai
tahanan tanah tidak akurat.
d) Pemeliharaan tidak baik pada jaringan trafo, penghantar maupun pada
alat pengaman.
Gambar 6-58. Penghantar putus
sehingga arus mengalir ke tanah
• Rodgap juga perlu dibersihkan
• dari akumulasi kotoran dan
polusi, bushing tua, kotor, retak
rambut dan sebagainya.
• Isolator kotor perlu dibersihkan
dari akumulasi kotoran dan
polusi dan retak dan sebagai
nya.
• Trafo sudah tua atau kualitas
tahanan isolasi kumparan
menurun
• Minyak trafo kotor sehingga
banayk mengandung bahan
konduktif seperti endapan
karbon dan uap/air.
• Jarak kawat tanah dengan
kawat fasa tidak standar (sudut
perlindungan maksimum 45º)
• Kawat tanah mengendor
374
6-7-13 Pengawatan Pengaman
Pengawatan relai pengaman bertujuan untuk menjadikan seluruh
komponen-komponen perangkat pengaman dapat berfungsi sebagai mana
mestinya. Dengan demikian komponen-komponen berfungsi sebagai relai
pengaman yang dapat beroperasi menjatuhkan pemutus tenaga atau
melepaskan aliran arus dan tegangan jika terjadi gangguan. Komponenkomponen
tersebut adalah relai arus lebih (OCR), pemutus tenaga (PMT),
trafo arus, trafo tegangan, batery dan kabel kontrol.
Diagram satu garis pengaman jaringan tegangan menengah dapat
dilihat pada Gambar 6-62. Bila terjadi gangguan pada penyulang, relai 51
atau 51 N akan bekerja memerintahkan trip pada PMT secara otomatis. Dan
relai recloser 79 akan memerintah PMT untuk menutup kembali.
Gambar 6-61. Perangkat Relai Pengaman Arus Lebih
Gambar 6-60.
Bushing Gambar 6-59. Kegagalan sambungan trafo pecah
kawat pada terminal trafo
Saklar dan Pengaman
375
Keterangan: 50/51 = Relai OCR antar fasa dengan penundaan waktu
dikombinasi dengan instant
51 N = Relai hubung tanah
79 = Relai recloser
Keterangan:
51 = Relai OCR antar fasa dengan penundaan waktu
676 = Relai gangguan tanah terarah (DGFR)
79 = Relai recloser
PT = Trafo tenaga
CT = Trafo arus
Diagram pengawatan pengaman arus bolak-balik (AC) dengan
kendali arus searah (kontrol DC) dapat dilihat pada Gambar 6-64. Diagram
pengawatan AC adalah pengawatan dari terminal-terminal trafo arus ke
terminal kumparan arus dari relai dan terminal trafo tenaga ke kumparan
tegangan dari relai. Diagram kontrol DC adalah pengawatan dari kontakkontak
relai ke terminal kumparan trip dari pemutus tenaga dan baterai.
Gambar 6-63. Pengawatan pengaman dengan relai OCR
Gambar 6-62. Diagram satu garis pengaman JTM
376
Bila gangguan terjadi, maka relai OCR (R), OCR (T) dan GFR akan
bekerja, tergantung pada jenis gangguan (fasa atau tanah) sehingga akan
menutup kontaknya. Kontak R adalah OCR fasa R dan kontak T adalah
OCR fasa T,serta G adalah GFR fasa R. Bila salah satu atau ketiga kontak
menutup, maka relai waktu RT akan mendapat tegangan DC dan akan
bereaksi untuk menutup kontak D1 sesuai dengan tunda waktunya. Karena
D1 menutup, maka triping coil dari PMT (52) akan mendapat tegangan serta
membuka PMT. Internal diagram dari relai pengaman diperlukan untuk
menentukan terminal-terminal arus DC suplai dan kontak trip.
Gambar 6-64. Diagram pengawatan AC dengan
kontrol DC dari OCR/GFR (Metoda 2 OCP)
Daftar Pustaka
A1
DAFTAR PUSTAKA
1. Artono Arismunandar, DR. M.A.Sc DR. Susumu Kuwahara. 1975. Buku
Pegangan Teknik Tenaga Listrik Jilid I. Jakarta: PT. Pradnya
Paramita.
2. Artono Arismunandar, DR. M.A.Sc, DR. Susumu Kuwahara. 1975. Buku
Pegangan Teknik Tenaga Listrik Jilid II. Jakarta: PT. Pradnya
Paramita.
3. APEI Pusat. 2004. Materi kursus/Pembekalan Uji Keahlian bidang
Teknik tenaga Listrik, Kualifikasi : AHLI MUDA. Jakarta: APEI.
4. APEI Pusat. 2006. Materi kursus/Pembekalan Uji Keahlian bidang
Teknik tenaga Listrik, Kualifikasi : AHLI MADYA. Jakarta: APEI.
5. Bambang Djaja. 1984. Distribution & Power Transformator. Surabaya :
B & D.
6. Bonggas L. Tobing. 2003. Dasar Teknik Pengujian Tegangan Tinggi.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
7. Bonggas L. Tobing. 2003. Peralatan Tegangan Tinggi. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
8. Daryanto Drs. 2000. Teknik Pengerjaan Listrik. Jakarta: Bumi
Aksara.
9. Depdiknas. 2004. Kurikulum SMK 2004 Bidang Keahlian Teknik
Distribusi Tenaga Listrik. Dirjen Dikdasmen, Direktorat Dikmenjur.
10. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 2004. Sosialisasi
Standar Latih Kompetensi (SLK) Tenaga Teknik Ketenagalistrikan
Bidang Distribusi Tenaga Listrik. Jakarta: Pusat Diklat Energi dan
Ketenagalistrikan.
11. Imam Sugandi Ir, dkk. 2001. Panduan Instalasi Listrik untuk Rumah
berdasarkan PUIL 2000. Jakarta: Yarsa Printing.
12. Naryanto, Ir. & Heru Subagyo, Drs. 1997. Manajemen Gangguan
sebagai Upaya Meningkatkan Keandalan Sistem. Surabaya : AKLI
DPD JATIM dan DPC SURABAYA.
13. PLN PT. 2003. Workshop Nasional Distribusi. Jakarta: PLN Jasa
Diklat
14. PLN UDIKLAT Pandaan. Pemeliharaan Gardu tiang (GTT).
15. PLN Distribusi Jatim. 1997. Pelatihan Koordinator Pelaksana
Pekerjaan Konstruksi Jaring Distribusi. AKLI DPD JATIM dan PLN
Distribusi Jatim.
Daftar Pustaka
A2
16. PLN Distribusi Jatim. 1997. Konstruksi Jaringan Perusahaan Listrik
Negara Distribusi Jawa Timur.
17. PLN Distribusi Jatim. 1997. Pelatihan Tenaga Ahli Kontraktor Listrik.
AKLI DPD JATIM dan PLN Distribusi Jatim.
18. Soedjana Sapiie. DR, Osamu Nishino DR. 1982. Pengukuran dan Alatalat
Ukur Listrik. Jakarta: Pradnya Paramita.
19. Standar Nasional Indonesia. 2000. Persyaratan Umum Instalasi
Listrik 2000. Jakarta: Yayasan PUIL.
20. Standar Listrik Indonesia. 1988. Gangguan pada Sistem Suplai yang
diakibatkan oleh Peranti Listrik dan Perlengkapannya. Jakarta:
Departemen Pertambangan dan Energi.
21. Standar Listrik Indonesia. 1988. Spesifikasi Desain untuk Jaringan
Tegangan Menengah dan Jaringan Tegangan Rendah. Jakarta:
Departemen Pertambangan dan Energi.
22. Standar Listrik Indonesia. 1988. Metode Pengujian yang
direkomendasikan untuk Instrumen Ukur Listrik Analog Penunjuk
Langsung dan kelengkapannya. Jakarta: Departemen
Pertambangan dan Energi.
23. Stam H. N. C. 1993. Keselamatan dan Kesehatan di Tempat Kerja.
Penebar Swadaya: Jakarta.
24. Trevor Linsley. 2004. Instalasi Listrik Tingkat Lanjut. Jakarta :
Erlangga.
25. Yamanaka. Electric Wire & Cable. Sinar Merbabu: Surabaya
Daftar Istilah
B1
DAFTAR ISTILAH
admitansi admittance
andongan (lendutan) sag
arus bolak-balik alternating current
arus pemuat charging current
arus searah direct current
arus yang diperbolehkan allowable current
arus current
atenuasi attenuation
bagian penguat bracing member
barang besi hardware
batang pelindung armor rod
batas elastis elasticity limit
beban lawan counterweight
beban load
berat jenis specific gravity, density
berisik noise
besi tempaan malleable iron
beton pelindung mulching concrete
daya power
daya-guna efficiency
faktor beban load factor
faktor daya power factor
faktor hilang tahanan annual loss factor
faktor keamanan safety factor
faktor tegangan lebih overvoltage factor
frekuensi frequency
gangguan radio radio interference
gardu induk substation
garis pusat centerline
garis-tengah diameter
gawang span
gaya putar torsional force
gejala menghilang fading
gelombang berdiri standing wave
gelombang lenturan diffracted wave
gelombang mikro micro wave
gelombang pantulan reflected wave
gulungan kerja (operasi) operating coil
gulungan pelindung shielding coil
gulungan penghambat restraining coil
gulungan peredam damper winding
gulungan coil, winding
hilang kebocoran leakage loss
hilang tenaga energy loss
hubung singkat short-circuit
impedansi surJa surge impedance
impedansi impedance
induktansi inductance
isolator gantung suspension insulator
isolator jenis batang-panjang long-rod insulator
isolator jenis pasak pin-type insulator
isolator jenis pos saluran line-post insulator
jam ekivalen tahunan annual equivalent hour
kapasitansi capacitance
Daftar Istilah
B2
kapasitor capacitor
kawat berkas bundled conductor
kawat berlilit stranded conductor
kawat campuran alloy conductor
kawat komponen component wire
kawat padat solid conductor
kawat paduan composite conductor
kawat pelindung shield wire
kawat penolong messenger wire
kawat rongga hollow conductor
kawat tanah ground wire
kawat telanjang bare conductor
kawat conductor, wire
keadaan peralihan transient state
keadaan tetap steady state
keandalan reliability
kearahan directivity
kelongsong reparasi repair sleeves
kepekaan sensitivity
keporian porosity
kisi-kisi lattice
koeffisien elastisitas elasticity coefficient
koeffisien pemuaian linier coefficient of linear expansion
koeffisien suhu temperature coefficient
komponen simetris symmetrical component
konduktansi conductance
konduktivitas conductivity
konstanta saluran line constants
kuat pancang cantilever strength
kuat patah breaking strength
kuat pikul angkatan, uplift bearing strength
kuat pikul tekanan compression bearing strength
kuat pikul bearing strength
kuat tarik maksimurn ultimate tensile strength
kuat tarik tensile stress
kuat tindas crushing strength
kuat tekan compressive strength
kupingan (isolator) shed
lintasan route
lompatan api flashover
lubang kerja manhole
panas jenis specific heat
panas spesifik specific heat
pancang pile
pangkal pengiriman sending end
pantulan flection
papan penahan butting board
pasak pengunci lock pin
pasangan fitting
pekerja saluran lineman
pelindung jaringan network protector
pemanjangan elongation
pembagian beban load dispatching
pembawa saluran tenaga power line carrier (PLC)
pembumian grounding
pemisah disconnect switch
pemutus beban cepat high-speed circuit breaker
pemutus beban circuit breaker
Daftar Istilah
B3
penala tuner, tuning
penegang kawat tensioner
penemu gangguan fault locator
pengait coupling
pengapit clamp
penghitung counter
penguat penerima receiving amplifier
penguat penyama matching amplifier
pengubah fasa phase modifier
penjepit kawat snatch block
pentanahan gounding
penuntun gelombang wave guide
penutup cepat high-speed recloser
penyaring filter
penyearah rectifier
penyeimbang balancer
penyetelan adjustment
penyokong bracket
peralatan hubung (-penghubung) switch gear
peralatan pengait line coupling equipment
peralatan pengait line coupling equipment
peralatan pengubah AC ke DC converter
peralatan pengubah DC ke AC inverter
peralatan perisaian shielding device
peralihan transient
perancangan planning
perbandingan hubung-singkat short-circuit ratio
perbandingan kerampingan slenderness ratio
percikan sparkover
peredam damper
peredaman lihat "atenuasi", damping
perentang spacer
permitivitas permittivity~
perolehan daya power gain
pusat beban load centre
Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) hydro power stations
Pusat Listrik Tenaga Termis (PLTT) thermal power station
Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) diesel power stations
Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) gas-fired power station
pusat-pusat listrik power stations
rambatan propagation
rangkaian ganda double circuit
rangkaian monitor penghambat- delay monitor circuit
rangkaian tunggal single circuit
reaktansi reactance
regulasi tegangan voltage regulation
relc pencatat gangguan fault locating relay
rele arah directional relay
rele arus lebih overcurrent relay
rele daya power relay
rele diferensial differential relay
rele firkwensi frequency relay
rele gelombang mikro microwave relay
rele impedansi impedance relay
rele jarak distance relay
rele konduktansi conductance relay
rele Mho Mho relay
rele offset-Mho Offset-Mho relay
Daftar Istilah
B4
rele penutup kembali reclosing relay
rele penutupan closing relay
rele penyalur transmitter relay
rele pernbawa saluran power line carrier relay
rele pilot-kawat wire-pilot relay
rele reaktansi reactance relay
rele suseptansi susceptance relay
rele tahanan resistance relay
rele tegangan kurang undervoltage relay
rele tegangan lebih overvoltage relay
resistivitas resistivity
respon penguat exciter response
ril, rel bus
rugi daya tranmisi transmission loss
rugitahanan resistance loss
s I arung (kabel) (cable) sheath
saluran bawah tanah underground line
saluran bertegangan hot-line
saluran ganda double-circuit transmission line
saluran komunikasi communication channel
saluran panas hot-line
saluran penghubung feeder line
saluran tertutup loop transmission line
saluran transmisi transmission line
saluran udara overhead line
sela batang rod gap
sela pelindung protective gap
semu appearance
sentral. listrik Iihat Pusat Listrik
siku pelindung mulching angle
sistim banyak-terminal multi-terminal system
sistim berturutan tandem system
sistim jaringan spot-network system
sistim rangkaian tertutup loop system
stabilitas peralihan transient stability
stabilitas tetap steady state stability
stasion jinjingan portable station
stasion mobil mobile station
stasion pangkalan base station
stasion tetap fixed station
struktur pasak pin structure
sudut ayun swing angle
surja hubung switching surge
surja surge
survey garis pusat center line survey
survey lokasi menara tower site study
survey profil. profile survey
survey tampak atas plan survey
suseptansi susceptance
tahanan jenis resistivity
tahanan resistance
tanduk (busur) api arcing horn
tangkai operasi operating shaft
tegangan geser shearing stress
tegangan harian everyday stress (EDS)
tegangan kejut pulse voltage
tegangan ketahanan withstand voltage
tegangan lebih dalam internal overvoltage
Daftar Istilah
B5
tegangan lebih overvoltage
tegangan lentur bending stress
tegangan lumer yielding stress
tegangan patah breaking strength
tegangan perencanaan design stress
tegangan pikul bearing stress
tegangan tarik tensile stress
tegangan tekan compression stress
tegangan serat fibre stress
tenaga energy
titik lebur melting point
ugi pancaran propagation loss
ujung penerimaan receiving end
urutan negatip negative sequence
urutan nol zero sequence
urutan positip positive sequence
waktu mati dead time
waktu membuka opening time
waktu menutup making time
waktu pasang kembali resetting time

C1
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1-1 Sistem Tenaga Listrik ...................................................................
2-1 Sistem Penyaluran Tenaga Listrik ................................................
2-2 Pembagian/pengelompokan Tegangan Sistem Tenaga Listrik …
2-3 Konfigurasi horisontal ..................................................................
2-4 Konfigurasi Vertikal .....................................................................
2-5 Konfigurasi Delta .........................................................................
2-6 (a) dan (b) Jaringan distribusi lintas bangunan ............................
2-6 (c) dan (d) Jaringan distribusi lintas bangunan ............................
2-6(e) Jaringan distribusi lintas bangunan ..........................................
2-6 (f) Jaringan distribusi lintas bangunan .........................................
2-7 Saluran Udara dengan konduktor kabel ......................................
2-8 Saluran distribusi dimana saluran primer dan sekunder terletak pada
satu tiang .....................................................................................
2-9 Saluran Udara Lintas Alam ..........................................................
2-10 Jaringan radial tipe pohon ..........................................................
2-11 Komponen Jaringan radial .........................................................
2-12 Jaringan radial dengan tie dan switch ........................................
2-13 Jaringan radial tipe pusat beban ..............................................
2-14 Jaringan radial tipe phase area (kelompok fasa) ……………….
2-15 Jaringan Distribusi tipe Ring .....................................................
2-16 Jaringan Distribusi ring terbuka .................................................
2-17 Jaringan Distribusi ring tertutup .................................................
2-18 Rangkaian Gardu Induk tipe Ring ............................................
2-19 Jaringan Distribusi NET .............................................................
2-20 Jaringan Distribusi NET dengan Tiga penyulang Gardu Hubung
2-21 Jaringan Distribusi NET dilengkapi breaker pada bagian tengah
masing-masing penyulang ........................................................
2-22 Jaringan distribusi Spindle ........................................................
2-23 Diagram satu garis Penyulang Radial Interkoneksi ....................
2-24 Komponen sistem distribusi .......................................................
2-25 Sistem satu fasa dua kawat tegangan 120Volt ..........................
2-26 Sistem satu fasa tiga kawat tegangan 120/240 Volt ..................
2-27 Sistem distribusi tiga fasa empat kawat tegangan 120/240 Volt
2-28 Sistem distribusi tiga fasa empat kawat tegangan 120/208 Volt
2-29 Sistem distribusi tiga fasa tiga kawat ........................................
2-30 Sistem distribusi tiga fasa empat kawat 220/380 Volt .................
2-31 Contoh Gambar Monogram Gardu Distribusi ............................
2-32 Penampang Fisik Gardu Distribusi ............................................
2-33 Bagan satu garis pelanggan TM ................................................
2-34 Bagan satu garis Gardu Beton ..................................................
2-35 Bangunan Gardu beton .............................................................
3-36 Bardu Besi .................................................................................
2-37 Gardu tiang tipe portal dan Midel Panel .....................................
3
11
12
13
13
14
14
14
15
15
15
15
15
17
17
18
18
19
20
20
20
21
21
21
22
23
24
25
26
27
27
27
28
28
30
31
32
33
33
34
35
C2
2-38 Bagan satu garis Gardu tiang tipe portal ....................................
2-39 Bagan satu garis Gardu tiang tipe Cantol ...................................
2-40 Gardu tiang tiga fasa tipe Cantol ................................................
2-41 Elektrode Pentanahan .................................................................
2-42 Detail Pemasangan Elektrode Pentanahan ...............................
2-43 Diagram Instalasi Pembumian Gardu Distribusi .........................
2-44 Gardu mobil ................................................................................
2-45 Pemutus beban 20 kV tipe "Fuse Cut out" ……………………….
2-46 Trafo distribusi kelas 20 kV ………………………………………...
2-47 Hubungan dalam trafo distribusi tipe "New Jec" ..........................
2-48 Sistem satu fasa dua kawat 127 Volt .........................................
2-49 Sistem satu fasa dua kawat 220 Volt .........................................
2-50 Sistem satu fasa tiga kawat 127 Volt .........................................
2-51 Sistem tiga fasa empat kawat 127/220 Volt ...............................
2-52 Sistem tiga fasa empat kawat 220/380 Volt ...............................
2-53 Bank trafo dengan ril ..................................................................
2-54 Bank trafo dilengkapi sekring sekunder pada relnya .................
2-55 Bank trafo dengan pengamanan lengkap ..................................
2-56 Karakteristik beban untuk industri besar ………………………….
2-57 Karakteristik beban harian untuk industri kecil yang hanya bekerja
pada siang hari ...........................................................................
2-58 Karakteristik beban harian untuk daerah komersiil .....................
2-59 Karakteristik beban harian rumah tangga .................................
2-60 Karakteristik beban penerangan jalan umum ...........................
2-61 Perbandingan nilai g untuk rumah besar dan rumah kecil ..........
2-62 Andongan ....................................................................................
2-63 Konstruksi tiang penyangga (TM-1) ............................................
2-64 Konstruksi tiang penyangga ganda (TM-2) ..................................
2-65 Konstruksi tiang tarik akhir (TM-4) ...............................................
2-66 Konstruksi tiang tarik ganda (TM-5) .............................................
2-67 Konstruksi tiang pencabangan (TM-8) ........................................
2-68 Konstruksi tiang sudut (TM-10) ...................................................
2-69 Konstruksi Guy Wire ...................................................................
2-70 Konstruksi Horisontal Guy Wire ..................................................
2-71 Konstruksi Strut Pole ..................................................................
2-72 Konstruksi GTT tipe cantol ...........................................................
2-73 GTT tipe dua tiang ......................................................................
2-74 Konstruksi Tiang Penyangga (TR-1) ...........................................
2-75 Konstruksi Tiang Sudut (TR-2) .....................................................
2-76 Konstruksi Tiang Awal (TR-3) .....................................................
2-77 Konstruksi Tiang Ujung (TR-3) .....................................................
2-78 Konstruksi Tiang Penegang (TR-5) .............................................
3-1 Miniature Circuit Breaker (MCB) ....................................................
3-2 Konstruksi KWH meter ..................................................................
3-3 Tang Ampere..................................................................................
3-4 Bentuk-bentuk penunjukan (register) ............................................
36
37
37
38
38
39
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
47
48
48
49
50
51
55
57
57
58
58
58
58
59
59
59
60
60
60
60
61
61
61
62
65
66
66
C3
3-5 Rangkaian Prinsip Kerja Transformator .........................................
3-6 Transformator Arus ………….........................................................
3-7 Jenis-jenis Trafo Arus ...................................................................
3-8 Trafo Tegangan ………...................................................................
3-9 Jenis-jenis trafo tegangan ………..................................................
3-10 Alat Pembagi Tegangan Kapasitor …...........................................
3-11 Kombinasi-kombinasi transformator pengukur dan Wattmeter ....
3-12 Pengukuran arus pada kawat penghantar ...................................
3-13 Diagram Pengawatan kWH Meter 1 phasa 2 kawat ....................
3-14 Diagram Pengawatan kWH Meter 3 phasa 4 kawat ....................
3-15 Diagram Pengawatan kWH Meter 3 phasa 3 kawat ....................
3-16 Bentuk kWH Meter Elektronik .....………………………………….
3-17 Bentuk meter standar .................................................................
3-18 Bentuk Kunci Elektronik .............................................................
3-19 Sambungan Listrik 3 Fasa Tarip Ganda Dari Gardu Tiang dengan
kabel TR NYFGBY ......................................................................
3-20 Lemari APP untuk TM-TR (100 A– 500 A) (DenganTutup Luar)
3-21 Lemari APP untuk TM-TR (100 A– 500 A) (Tanpa Tutup Luar) ..
3-22 Sambungan Listrik TM Pengukuran TM Tarif Tunggal Menggunakan
peralatan Cubicle dg Kabel TM .........................................
3-23 Sambungan Listrik TM Pengukuran TM Tarif Ganda Menggunakan
peralatan Cubicle dg Kabel TM kVARh (Sistem 4 kawat) ......
3-24 Lemari Pasangan Luar untuk Penempatan Alat Ukur TT-TM .....
3-25 Sambungan Listrik TM Pengukuran TM Tarif Tunggal Menggunakan
Cut Out / Tiang dengan AAAC & KVARH (Sistem 3 kawat) ...
3-26 Sambungan Listrik TM Pengukuran TR Tarif Tunggal Menggunakan
Peralatan Cubicle dengan Kabel TM & KVARH (Sistem 3
kawat/4 kawat TM) .......................................................................
3-27 Lemari APP untuk TM-TR ( 100 A - 500 A) (dengan Tutup Luar)
3-28 Lemari APP untuk TM-TR ( 100 A - 500 A) (Tanpa Tutup Luar)..
3-29 Sambungan Listrik TM Pengukuran TR Tarif Ganda Menggunakan
Peralatan Cubicle dengan Kabel TM & KVARH (Sistem 3
kawat/4 kawat) .............................................................................
4-1 Konstruksi Tiang Beton ……………………………………………….
4-2 Jarak aman yang diperlukan untuk menentukan panjang tiang ....
4-3 Mendirikan tiang cara manual .......................................................
4-4 Mendirikan Tiang dengan alat pengangkat ...................................
4-5 Kabel udara melintasi jalan umum yang dilalui kendaraan bermotor
4-6 Kabel udara yang dipasang di sepanjang jalan raya ....................
4-7 Kabel udara yang dipasang di bawah pekerjaan konstruksi …….
4-8 Dua Kabel udara (SUTM & SUTR) dipasang pada satu tiang .....
4-9 Kabel udara melintasi sungai .......................................................
4-10 Kabel udara yang melintas di sebelah jembatan ........................
4-11 Kabel udara melintasi jalur listrik saluran udara .........................
4-12 Kabel udara yang melintasi rel kereta api ..................................
67
69
69
71
71
71
72
73
74
75
75
76
77
78
82
83
84
85
86
87
88
89
91
90
92
93
94
95
98
100
100
101
101
102
103
104
104
C4
4-13 Kabel udara yang melalui kabel udara telekomunikasi .............
4-14 Jarak dengan kabel telekomunikasi ...........................................
4-15 Pemasangan saluran udara di dekat kabel telekomunikasi ........
4-16 Kabel udara yang melintasi Rel kereta api .................................
4-17 Contoh skema jaringan tegangan rendah ..................................
4-18 Pemasangan TC pada jaringan 0o-45o pada tiang beton bulat
(sudut kecil) .................................................................................
4-19 Pemasangan TC pada jaringan 45o-120o pada tiang beton bulat
(sudut besar) ..............................................................................
4-20 Penyambungan TC pada tiang penegang tiang beton ...............
4-21 Konstruksi tiang penyangga(TR1) .............................................
4-22 Konstruksi tiang penegang/sudut(TR2) ......................................
4-24 Konstruksi tiang penyangga silang(TR4) ....................................
4-25 Konstruksi tiang penyangga & sudut silang (TR4A) ................
4-26 Konstruksi tiang penyangga & sudut silang (TR4B) ................
4-27 Konstruksi tiang penegang (TR5) ..............................................
4-28 Konstruksi tiang penegang dengan hantaran beda penampang
(TR5A) ........................................................................................
4-29 Konstruksi tiang percabangan (TR6) ..........................................
4-30 Konstruksi tiang percabangan (TR6A) ........................................
4-31 Konstruksi Penyambungan konduktor TC dan AAAC (TR7) ......
4-32 Konstruksi Guy Wire (GW) .........................................................
4-33 Konstruksi Strut Pole ..................................................................
4-34 Konstruksi Horizontal Guy Wire (GW) ........................................
4-35 Alat pelindung dari seng .............................................................
4-36 Kendaraan pengangkut kabel dan haspel (gulungan kabel) ......
4-37 Kantung Perkakas Tukang Listrik (Electrician tool pouche) .......
4-38 Kotak Perkakas (Tool box) ........................................................
4-39 Belincong (Pick) .........................................................................
4-40 Bor Listrik (Electric drill) ..............................................................
4-41 Cangkul (Shovel) .......................................................................
4-42 Bor Nagel (Auger (Ginlet) ...........................................................
4-43 Bor Tangan (Hand drill) .............................................................
4-44 Gergaji kayu (stang) ...................................................................
4-45 Gergaji kayu ...............................................................................
4-46 Kakatua .......................................................................................
4-47 Linggis (Digging Bar) ...................................................................
4-48 Kunci Inggris ( Adjustable Wrech) ...............................................
4-49 Kikir (File) ...................................................................................
4-50 Kunci Pas (Spanner)....................................................................
4-51 Kunci Ring (Offset Wrech) ..........................................................
4-52 Pahat Beton (Concrete Chisel) ..................................................
4-53 Obeng (Screw Driver) ..................................................................
4-54 Pahat Kayu (Wood Chisel) ...........................................................
4-55 Palu (Hammer) ............................................................................
4-56 Penjepit Sepatu Kabel Hidrolik (Hydraulic Crimping Tool) ………
105
106
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
112
113
113
113
114
114
115
115
116
116
118
118
119
119
119
119
119
119
119
119
120
120
120
120
120
120
120
120
120
121
C5
4-57 Alat Pembengkok Pipa (Pipe Bender) …………………………….
4-58 Sendok Aduk (Trowel) ……………………………………………..
4-59 Pisau Kupas Kabel (Line’s men knive) ……………………….....
4-60 Skop ( Spade ) …………………………………………….............
4-61 Tang Kombinasi (Master Plier) ……………………………..........
4-62 Tang Lancip (Radio long Nose Plier) …………………………….
4-63 Tang Pengupas Kabel (Wire Striper) ………………………….....
4-64 Tang Potong (Diagonal cutting plier) ……………………………..
4-65 Tirpit (Penarik kabel) ………………………………......................
4-66 Ampere Meter ………………………………..................................
4-67 Kwh Meter ………………………………......................................
4-68 Lux Meter (Illumino Meter) ……………………………….............
4-69 Megger (Insulation Tester) ………………………………............
4-70 Meteran Kayu/lipat (Folding wood measurer) ............................
4-71 Meteran Pendek (Convec Rule) .................................................
4-72 Multimeter (Multy meter) ............................................................
4-73 Termometer (Thermometer) .......................................................
4-74 Tespen (Electric tester) ..............................................................
4-75 Water Pas (Level) ......................................................................
4-76 Volt meter ....................................................................................
4-77 Kacamata Pengaman (Safety goole) ………………………………
4-78 Pelindung Kedengaran (Hearing protector) ………………………
4-79 Pelindung Pernafasan (Dust/Mist Protector) ……………………..
4-80 Topi Pengaman (Safety Helmet/Cap) …………………………….
4-81 Sabuk Pengaman (Safety Belt) …………………………………….
4-82 Sarung Tangan 20 kV (20 kV Glove) ………………………........
4-83 Sepatu Pengaman (Safety Shoe) …………………………………
4-84 Bor Listrik Duduk (Bend Electric Drill) …………………………….
4-85 Catok (Vise) …………………………………………………………
4-86 Dongkrak Haspel Kabel (Cable Drum Jack) ………………….....
4-87 Disel Genset (Diesel Generator) ………………………………….
4-88 Gerinda Potong Cepat (High Speed Cutter ) …………………….
4-89 Mesin Penarik Kabel (Winche) ……………………………..........
4-90 Molen Beton (Concrete Mixer) ……………………………...........
4-91 Pembengkok Pipa Hidrolis (Hydraulic Pipe Bender) ………......
4-92 Pemegang Kabel (Cable Grip) ....................................................
4-93 Pompa Air (Water Pump) ............................................................
4-94 Rol Kabel (Cable Roller ..............................................................
4-95 Tangga Geser (Extension Ladder) .............................................
4-96 Treller Haspel Kabel (Cable Drum Trailler) ...............................
4-97 Alat Ukur Model Wenner ............................................................
4-98 Mengukur Tahanan Tanah dengan Earth Tester Analog ..........
4-99 Pengukuran dengan Earth Resistance Tester dan Persyaratan
pengukuran tahanan tanah ........................................................
4-100 Pengukuran dengan Tang Ground Tester Digital ....................
4-101 Pemasangan Multyple Grounding ............................................
121
121
121
121
121
121
121
122
122
122
122
122
122
123
123
123
123
123
123
123
124
124
124
124
124
124
124
125
125
125
125
125
125
125
125
126
126
126
126
126
129
130
131
131
132
C6
4-102 Penempatan Elektrode Pengukuran .........................................
4-103 Diagram Satu Garis PHB-TR ...................................................
4-104 Gambar Konstruksi Sistem Pembumian ...................................
4-105 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........
4-106 Perletakan 2 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........
4-107 Perletakan 3 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........
4-108 Perletakan 4 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........
4-109 Perletakan 5 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........
4-110 Perletakan 6 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm .......
4-111 Perletakan 7 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........
4-112 Perletakan 8 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........
4-113 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm
posisi penyebrangan .................................................................
4-114 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm
posisi paralel .............................................................................
4-115 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......
4-116 Perletakan 2 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......
4-117 Perletakan 3 kabel tanah TR tiap 1 eter di bawah trotoar .........
4-118 Perletakan 4 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......
4-119 Perletakan 5 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......
4-120 Perletakan 6 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......
4-121 Perletakan 7 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......
4-122 Perletakan 8 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......
4-123 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar
posisi penyebrangan .................................................................
4-124 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar
posisi peralel ..............................................................................
4-125 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) ...............................................................................
4-126 Perletakan 2 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) ...............................................................................
4-127 Perletakan 3 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) ...............................................................................
4-128 Perletakan 4 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) ..............................................................................
4-129 Perletakan 5 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) ...............................................................................
4-130 Perletakan 6 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) ...............................................................................
4-131 Perletakan 7 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) ..............................................................................
4-132 Perletakan 8 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) ...............................................................................
4-133 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) posisi penyebrangan .............................................
132
135
138
142
142
143
143
144
144
145
145
146
146
147
147
148
148
149
149
150
150
151
151
152
152
153
153
154
154
155
155
156
C7
4-134 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
aspal (digali) posisi paralel .........................................................
4-135 Susunan struktur penanaman kabel tanah ...............................
4-136 Pemasangan kabel tanah dengan pipa pelindung .....................
4-137 Cara meletakkan kabel tanah di dalam tanah galian .................
4-138 Ukuran dan penempatan untuk satu kabel dan dua kabel .........
4-139 Ketentuan umum sambungan pelanggan ..................................
4-140 Ketentuan umum sambungan luar pelanggan ...........................
4-141 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada STR
tanpa isolasi dan berisolasi ……………………………………….
4-142 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada STR
tanpa isolasi dan STR berisolasi ………………………………….
4-143 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada
STR tanpa isolasi dan STR berisolasi ........................................
4-144 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada STR
tanpa isolasi dan berisolasi ……………………………………….
4-145 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada STR
tanpa isolasi dan berisolasi ……………………………………….
4-146 Konstruksi SLP 1 phasa / 3 phasa jenis Twisted pada STR
tanpa isolasi dan STR berisolasi .............................................
4-147 Konstruksi SLP 1 phasa / 3 phasa jenis Twisted pada STR
tanpa isolasi dan STR berisolasi …………………………………
4-148 Konstruksi SLP 1 phasa / 3 phasa jenis Twisted pada
STR tanpa isolasi dan STR berisolasi .......................................
4-149 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
padatiang atap .. .....................................................................
4-150 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada
titik tumpu dinding/tiang kayu ..................................................
4-151 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada titik
tumpu dinding/tiang beton ........................................................
4-152 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada
titik tumpu dinding/tiang kayu dan beton ...................................
4-153 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa Jenis twisted pada tiang atap
4-154 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa jenis twisted pada titik tumpu
dinding/tiang kayu dan beton ....................................................
4-155 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa jenis twisted pada titik tumpu
dinding/tiang kayu ......................................................................
4-156 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa jenis twisted pada titik tumpu
dinding/tiang kayu ......................................................................
4-157 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
dengan SLP jenis DX/QX dan SMP jenis NYM/NYY di luar
Bangunan ..................................................................................
4-158 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
dengan SLP jenis DX/QX dan SMP jenis NYM/NYY di luar
Plapon ........................................................................................
156
157
157
157
157
158
159
160
160
161
161
162
162
163
163
164
164
165
165
166
166
166
167
167
169
C8
4-159 Konstruksi SMP dengan titik tumpu untuk SR 1 phasa/3 phasa
dengan SLP jenis DX/QX dan SMP jenis NYM/NYY di luar
Bangunan ...................................................................................
4-160 Konstruksi SMP dengan titik tumpu untuk SR 1 phasa/3 phasa
dengan SLP jenis DX/QX dan SMP jenis NYM/NYY di luar
Bangunan ...................................................................................
4-161 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
tanpa sambungan jenis Twisted .................................................
4-162 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
tanpa sambungan jenis Twisted ..............................................
4-163 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
tanpa sambungan jenis Twisted ..............................................
4-164 Konstruksi SMP dengan titik tumpu untuk SR 1 phasa/3 phasa
tanpa sambungan jenis Twisted ..............................................
4-165 Pemasangan APP pelanggan TR 1 phasa/3 phasa dengan OK
type I/III pada dinding yang telah ada pelindungnya ................
4-166 Pemasangan APP pelanggan TR 1 phasa dengan OK type I
dengan pelindung tambahan ...................................................
4-167 Pemasangan APP pelanggan TR 3 phasa dengan OK type III
dengan pelindung tambahan ....................................................
4-168 Pemasangan APP pelanggan TR 3 phasa pada Gd. Trafo Tiang
4-169 Pembagian daerah pengaruh arus bolak-balik (pada 50-60 hz)
terhadap orang dewasa ...........................................................
4-170 Sistem Pentanahan TR ............................................................
4-171 Sistem Pentanahan PNP...........................................................
4-172 Kasus Putusnya Penghantar Netral pada Sistem PNP ...........
4-173 Macam-macam hubungan singkat ..........................................
4-174 Pengaman Lebur Tabung Tertutup ..........................................
4-175 Kurva leleh minimum dan kurva pemutusan maksimum dan
pelebur tegangan rendah ..........................................................
4-176 Kurva leleh minimum dan kurva pemutusan maksimum dan
pelebur tegangan rendah (230/400V) Berdasarkan rekomendasi
IEC 269 – 2 ......................................................................
4-177 Kurva leleh minimum dan kurva pemutusan maksimum dan
pelebur tegangan rendah (230/400V) Berdasarkan rekomen
dasi IEC 269 – 2 ...................................................................
5-1 Pola sistem tenaga Listrik ……… ………………………........
5-2 Pola proteksi pada saluran udara tegangan menengah … ……
5-3 Pola proteksi pada saluran kabel tanah ......................................
5-4 Pola proteksi pada pembangkit ...................................................
5-5 Aspek Pembumian pada JTM ...................................................
5-6 Titik-titik pembumian pada jaringan ...........................................
5-7 Aturan Penanaman Kabel ..........................................................
5-8 Pekerjaaan sebelum penanaman kabel .....................................
5-9 Peletakan Kabel Tanah ...........................................................
5-10 Pengangkutan kabel tanah tegangan menengah dengan forklif ..
169
170
171
172
172
173
173
174
175
176
184
189
190
192
193
195
198
199
200
202
207
207
208
208
211
214
216
217
218
C9
5-11 Alat pelindung dari seng ..............................................................
5-12 Saluran Kabel Tanah Tegangan Menengah ................................
5-13 Penentuan Lintasan Kabel Tanah ................................................
5-14 Lebar Galian dan Penanganan Kotak Sambungan .....................
5-15 Dasar lubang galian .....................................................................
5-16 Aturan Penamanan Kabel ............................................................
5-17 Jembatan Kabel ...........................................................................
5-18 Konstruksi khusus penanaman kabel .........................................
5-19 Lintasan penyebrangan kabel tanah pada gorong-gorong/parit ..
5-20 Pekerjaan penanaman kabel …..................................................
5-21 Buis Beton ...................................................................................
5-22 Konstruksi Penanaman Kabel Tanah ..........................................
5-23 Pemasangan Kabel pada Jembatan Beton .................................
5-24 Posisi/kedudukan kabel di dasar rak kabel .................................
5-25 Penanganan dan Pengangkutan dengan Haspel .......................
5-26 Alat Penarik Kabel .......................................................................
5-27 Alat Penarik kabel (Grip) .............................................................
5-28 Roller untuk Kabel ......................................................................
5-29 Roll Penggelar Kabel ..................................................................
5-30 Dongkrak Kabel …........................................................................
5-31 Penarikan kabel TM dengan Roll dibelokan normal .....................
5-32 Penarikan kabel TM Belokan Tajam ............................................
5-33 Penggelaran Kabel .......................................................................
5-34 Persiapan Penyambungan Kabel ................................................
5-35 Tutup / Dop Ujung Kabel .............................................................
5-36 Aturan galian penyambungan ………...........................................
5-37 Penamaan Timah Label ................................................................
5-38 Pemasangan Lebel pada Kotak Sambung ...................................
5-39 Alat Pembumian Kabel yang akan dipotong ................................
5-40 Tutup Asbes ...............................................................................
5-41 Anyaman penghubung .................................................................
5-42 Alat Kerja Pembumian .................................................................
5-43 Jarak aman antara kereta api dengan tiang ................................
5-44 Jarak aman antara SUTT dan SUTM ..........................................
5-45 Jarak aman antara Menara SUTT dan SUTM .............................
5-46 Jarak aman antara SUTR dan SUTM ..........................................
5-47 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi/beton Pin type
insulator & kawat AAAC/AAAC-S per kms jarak gawang 50
meter (sistem 3 kawat) ................................................................
5-48 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton Pos type
insulator & kawat AAAC/AAAC-S per kms jarak gawang 50 meter
(sistem 3 kawat) ...........................................................................
5-49 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton dengan kabel
udara Twisted 20 kV per kms jarak gawang 50 meter (sistem
3 & 4 kawat) ..................................................................................
219
219
220
220
220
221
221
222
222
223
224
224
225
226
227
227
228
228
229
229
229
230
230
231
231
232
232
233
233
234
234
234
237
238
238
239
244
245
246
C10
5-50 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton Pin type
insulator & kawat AAAC / AAAC-S per kms jarak gawang
50 meter (sistem 4 kawat) ............................................................
5-51 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton Pos type
insulator & kawat AAAC/ AAAC-S per kms jarak gawang
50 meter (sistem 4 kawat) ............................................................
5-52 JTM 1 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi/ beton Pin type
insulator & kawat AAAC / AAAC-S per kms jarak gawang
50 meter .......................................................................................
5-53 JTM 1 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi/beton Post
type insulator & kawat AAAC / AAAC-S per kms jarak
gawang 50 meter ........................................................................
5-54 Konstruksi tiang penyangga (TM-1) ............................................
5-55 Konstruksi tiang penyangga ganda (TM-2)..................................
5-56 Konstruksi tiang tarik akhir (TM-4) ..............................................
5-57 Detail rangkaian isolator tarik/gantung ........................................
5-58 Konstruksi tiang penegang (TM-5) ..............................................
5-59 Konstruksi tiang penegang dengan Cut Out Switch pada tiang
akhir lama (TM-4XC) ..................................................................
5-60 Konstruksi tiang tarik ganda (TM-5) ...........................................
5-61 Konstruksi penegang dengan Cut Out Switch (TM5C) ..............
5-62 Konstruksi Percabangan tiang penyangga dan tarik (TM8) ........
5-63 Konstruksi Tiang sudut (TM10) ..................................................
5-64 Konstruksi tiang sudut dilengkapi Cut Out Switch (TM10C) ……
5-65 Konstruksi portal dua tiang (TMTP2) ..........................................
5-66 Konstruksi portal tiga tiang (TMTP3) .........................................
5-67 Konstruksi sudut portal dua tiang (TMTP2A) ..............................
5-68 Konstruksi sudut portal tiga tiang (TMTP3A) ..............................
5-69 Konstruksi tiang akhir dengan pemasangan kabel tanah (TM11)
5-70 Konstruksi Guy Wire (GW) .........................................................
5-71 Strut Pole (SP) ............................................................................
5-72 Horizontal Guy Wire (HGW) ………………………………………..
5-73 Pemasangan Cross Arm double Tumpu pada Tiang Beton Bulat
5-74 Pemasangan Cross Arm double Tumpu pada Tiang Beton H ....
5-75 Pemasangan Cross Arm Tention Support 2000 mm pada Tiang
Beton Bulat ..................................................................................
5-76 Pemasangan Cross Arm Tention Support 2000 mm pada Tiang
Beton H ………………………………………………………………
5-77 Pemasangan Cross Arm Tention Support 2200 mm Double Pole
pada Tiang Beton Bulat …………………………………………….
5-78 Pemasangan Cross Arm Tention Support 2200 mm Double Pole
pada Tiang Beton H …………………………………………………
5-79 Pemasangan 2 X Tention Support 2200 mm Diatas Dua Tiang..
5-80 Pemasangan 2 X Tention Support 2200 mm Diatas Dua Tiang
Beton H ......................................................................................
247
248
249
250
251
251
252
252
253
253
254
254
255
255
256
256
257
257
258
258
259
260
260
261
262
263
264
265
266
267
268
C11
5-81 Pemasangan 2 X ½ Tention Support 2000 mm pada Tiang Beton
Bulat sudut ± 90o ............................................................................
5-82 Pemasangan 2 X ½ Tention Support 2000 mm pada Tiang Beton
H sudut ± 90o .................................................................................
5-83 Pemasangan Cross Arm 2 x T- Off pada Tiang Beton bulat ......
5-84 Peralatan Pengait untuk komunikasi Pembawa (PLC) ...............
5-85 Peralatan Pengait (Coupling Equipment). dalam Gardu.
A: Jebakan Saluran (Line Trap) B: Kapasitor Pengait
(Coupling Capacitor) C: Penyaring Pengait (Coupling Filter) ……
5-86 Sistem Rangkaian Transmisi dengan Pembawa (PLC) ................
5-87 Contoh Peralatan Radio ………………………………………………
5-88 Contoh Sistem Komunikasi Radio Mobil untuk Pemeliharaan
Saluran ........................................................................................
5-89 Lintasan Gelombang Mikro yang dipantulkan oleh reflektor Pasif.
5-90 Reflektor Pasif (A) dan Antena Parabola (B) Gelombang Mikro
(Panah menunjukkan Lintasan Gelombang .................................
5-91 Penghitungan Kapasitas Baterai ...................................................
5-92 Lengkung Pelepasan Baterai .......................................................
6-1 Bentuk lemari dengan bagian yang dapat ditarik keluar ...............
6-2 Busbar tipe terbuka (pandangan depan) ......................................
6-3 Salah satu contoh Busbar tipe tertutup (Kubikel) .........................
6-4 PHB/Gardu terbuka ......................................................................
6-5 PHB TR (Out Door) ......................................................................
6-6 Rangkaian Utama, Pengukuran & Kontrol PHB TR. ...................
6-7 PHB-TR Dua Jurusan dan Empat Jurusan ................................
6-8 Konstruksi PHB-TR type berdiri (Standing) ..................................
6-9 Diagram Pengawatan PHB-TR ....................................................
6-10 Pemeriksaan titik sambungan dengan Thermavision ..................
6-11 Pelaksanaan Pemeliharaan Salah Satu Komponen PHB TR ......
6-12 Diagram Segaris Gardu Trafo Tiang (GTT) ................................
6-13 Pemasangan PHB-TR pada Gardu ............................................
6-14 Diagram Satu Garis PHB-TR Gardu Tiang Trafo .......................
6-15 Pemasangan PHB-TR pada Gardu Control ...............................
6-16 Rangkaian Dasar Trafo ..............................................................
6-17 Diagram Arus Penguat ...............................................................
6-18 Rangkaian Trafo Berbeban .........................................................
6-19 Detail Load Break Switch ………………………………………….
6-20 Ruang Kontak Kontrol Load break switch ...................................
6-21 Panel Perlengkapan Load break switch …………………………..
6-22 Menghubungkan Kabel ……………………………………………..
6-23 Melepaskan Kabel Kontrol ..........................................................
6-24 Pengujian Load Break ……………………………………………..
6-25 Terminal TeganganTinggi ..........................................................
6-26 Sambungan Suplai Tegangan Rendah …………………………..
6-27 Sambungan Kabel Ujung ………………………………………….
6-28 Suplai Tegangan Rendah dan Terminal Grounding ……………
269
270
271
276
277
278
281
283
285
285
287
287
291
291
292
293
293
294
295
296
297
299
300
300
301
302
302
305
306
307
318
323
323
327
329
329
330
331
332
332
C12
6-29 Gabungan Kabel supplai dari Terminal Trafo ...........................
6-30 Daerah pengamanan gangguan ...............................................
6-31 SUTM dalam keadaan gangguan satu kawat ke tanah ............
6-32 SUTM dalam keadaan gangguan 2 kawat ke tanah ..................
6-33 SUTM dalam keadaan gangguan 3 kawat ke tanah .................
6-34 Penempatan Rele Pengaman pada Jaringan Radial ................
6-35 Koordinasi Pengaman pada Jaringan Radial ............................
6-36 Koordinasi Pengaman pada Jaringan Loop ..............................
6-37 Koordinasi PBO, SSO dan FCO ................................................
6-38 Penempatan PMT, PBO, PL dan SSO pada pangkal saluran
cabang jaringan TM ....................................................................
6-39 Penempatan PMT dan PL pada jaringan Spindel SKTM (PMT
tanpa PBO) Pola 2 ......................................................................
6-40 Penempatan PMT, PBO, PL , SSO serta Saklar Tuas (ST) .......
6-41 Penempatan PMT, SSO, ST, FCO pada SUTM ........................
6-42 Penempatan Arester, PL dan PMT pada SUTM ........................
6-43 Sambaran petir pada SUTM .......................................................
6-44 Kondisi I dan II dari Jaringan Distribusi ......................................
6-45 Muatan sepanjang tepi awan menginduksikan muatan lawan
pada bumi ..................................................................................
6-46 Lidah petir menjalar ke arah bumi ..............................................
6-47 Kilat sambaran balik dari bumi ke awan .....................................
6-48 Kumpulan muatan pada SUTM ..................................................
6-49 Gelombang tegangan uji impuls 1,2 x 50 mikro detik ..................
6-50 Skema Sambaran Petir yang Dialihkan Arrester ke Tanah ..........
6-51 Pengamanan dengan arrester tanpa interkoneksi terminal
Pentanahan ..................................................................................
6-52 Pengamanan dengan arrester dan interkoneksi ke terminal
pentanahan (solid) .......................................................................
6-53 Pengamanan dengan arrester dan interkoneksi pentanahan
melalui celah (gap) .......................................................................
6-54 Hubungan arrester pada sistem bintang yang diketanahkan
6-55 Pemakaian arrester pada sistem delta ........................................
6-56 Hubungan arrester yang direkomen-dasikan untuk sisi beban
di bagian primer pelebur (PL) ......................................................
6-57 Tegangan pada SKTM akibat sambaran petir pada SUTM .......
6-58 Penghantar putus sehingga arus mengalir ke tanah ...................
6-59 Kegagalan sambungan kawat pada terminal trafo .....................
6-60 Bushing trafo pecah ...................................................................
6-61 Perangkat Relai Pengaman Arus Lebih .....................................
6-62 Diagram satu garis pengaman JTM ............................................
6-63 Pengawatan pengaman dengan relai OCR ...............................
6-64 Diagram pengawatan AC dengan kontrol DC dari OCR/GFR
(Metoda 2 OCP) ..........................................................................
333
337
343
343
344
359
350
351
351
353
354
355
356
357
358
368
359
359
360
360
362
364
365
365
365
366
366
367
368
359
370
370
370
371
371
372
C13
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2-1 Penggolongan tarif tenaga listrik ...............................................
2-2 Nilai g untuk bermacam-macam jenis beban ………….……….
2-3 Daya hantar arus AAAC & XLPE cable TR ...............................
3-1 Jenis Pembatas dan Penggunaannya …………………..………
3-2 Contoh Data Teknik Pemutus Tenaga (MCB) ..........................
3-3 Arus Mula .................................................................................
3-4 Batas Kesalahan Presentase yang Diijinkan ………………......
4-1 Memilih Panjang Tiang ..............................................................
4-2 Batas minimum penggunaan tiang beton Pada jaring SUTR–
TIC khusus ...............................................................................
4-3 Spesifikasi kabel LVTC .............................................................
4-4 Tahanan Jenis Tanah ...............................................................
4-5 Nilai rata-rata Tahanan Elektrode Bumi .................................
4-6 Ukuran galian tanah untuk beberapa pipa beton .....................
4-7 Daftar material konstruksi SMP dengan tiang atap dan titik
tumpu untuk SR 1 phasa/3 phasa dengan SLP jenis DX/QX dan
SMP jenis NYM/NYY................................................................
4-8 Daftar material konstruksi SMP dengan tiang atap/titik tumpu
untuk SR 1 phasa/3 phasa tanpa sambungan jenis Twisted....
4-9 Tegangan sentuh yang aman sebagai fungsi dari waktu ..........
4-10 Tahanan tubuh sebagai fungsi dari tegangan sentuh ..............
4-11 Kuat Hantar Arus Pangeman Lebur .........................................
4-12 KHA Penghantar Tembaga A2C dan A3C ...............................
4-13 Rekomendasi pemilihan arus pengenal pelebur 24 kV jenis
letupan (Publikasi IEC 282-2 (1970). NEMA disisi primer
berikut pelebur jenis pembatas arus (publikasi IEC 269-2
(1973)(230/400V) disisi sekunder yang merupakan pasangan
yang diserahkan sebagai pengaman trafo distribusi.................
4-14 Persamaan kurva ketahanan untuk bermacam-macam jenis
isolasi ........................................................................................
5-1 Momen listrik kabel dan hantaran udara TM (20kV) pada beban
diujung penghantar dengan susut tegangan 5% .........................
5-2 Pemilihan Kekuatan Tiang Ujung Jaring Distribusi Tegangan
Menengah ……………………………………………………………..
5-3 Jenis-jenis Fasilitas Komunikasi ................................................
5-4 Karakteristik dan Struktur Kabel Telekomunikasi ......................
5-5 Contoh spesifikasi Peralatan Pembawa Saluran tenaga ..........
5-6 Contoh spesifikasi Peralatan Radio ..........................................
6-1 Material Pemeliharaan GTT ......................................................
6-2 Tabel Daya dan Arus Fuse Link ..............................................
6-3 Tabel Daya dan Arus Fuse Link ...............................................
6-4 Kabel standar ...........................................................................
6-5 Panduan Pengujian Switchgear ...............................................
49
51
54
63
63
80
81
94
95
99
127
128
157
168
171
185
185
196
197
197
201
212
240
272
275
279
280
310
313
314
317
336